Ngobrolin INFJ Door Slam

Thursday, January 3, 2019

stocksy.com

Masih membahas INFJ dengan segala kerumitannya. Di postingan kali ini saya akan menulis tentang INFJ Door Slam. Saya sebenarnya masih mencari padanan kata yang tepat untuk istilah ini dalam Bahasa Indonesia. Namun gagal menemukannya.

Sebenarnya istilah door slam, menurut saya agak kurang sesuai jika dikaitkan dengan INFJ mengingat artinya dalam Bahasa Indonesia adalah “membanting pintu.” Sementara door slam yang dilakukan oleh seorang INFJ jauh dari kesan membanting pintu. Malah justru sebaliknya; mereka melakukan door slam dengan cara yang halus, tenang dan seringkali diam-diam. Namun biasanya merciless. Seolah-olah itu adalah sesuatu yang wajar. Seperti nyala lilin yang perlahan-lahan memudar lantas selanjutnya menghilang.

Door slam sendiri adalah salah satu teknik pertahanan diri orang-orang dengan tipe kepribadian INFJ. Ini adalah jalan terakhir yang ditempuh oleh mereka dalam melindungi inner core-nya yang sangat sensitif. Atau ketika mereka telah putus asa berurusan dengan orang-orang yang membuat mereka selalu merasa tersiksa berulang-ulang kali secara mental. 

Tidak seperti kepribadian lain yang melakukan door slam karena hal-hal sepele, seperti: keegoisan pribadi yang tak dipenuhi atau ketersinggungan spontan, door slam yang dilakukan oleh orang-orang bertipe INFJ biasanya lebih serius. Mereka akan melewati proses berpikir yang sulit dan panjang serta merasakan pahitnya penderitaan dibalik gagalnya peringatan-peringatan yang mereka sampaikan dan usaha-usaha perbaikan yang mereka usahakan sebelum akhirnya sampai pada titik tersebut. Dan ketika hal itu terjadi mereka sebenarnya sudah terluka dengan sangat dalam. Bahkan, ketika keputusan door slam itu masih menjadi bahan pertimbangan. 

Oleh karenanya ketika tipe kepribadian ini memutuskan untuk berubah demikian, alih-alih merasa terbebani, INFJ justru merasa sebaliknya. They feel liberated! They feel their power back! Mereka merasa seolah-olah telah terbebas dari belenggu penderitaan yang selama ini menyiksanya. Sekali INFJ melakukan door slam, biasanya mereka akan sulit sekali untuk merubah keputusannya. Kecuali jika orang yang mendapatkan door slam treatment tersebut menyadari kesalahannya dan langsung menunjukan bahwa mereka menyesal atas perbuatannya.

Karena INFJ adalah kepribadian dengan dimensi judging yang kuat maka orang-orang ini hampir selalu merencanakan segala sesuatu. Orang-orang yang tidak begitu mengenal kepribadian INFJ mungkin akan mudah menghakimi mereka ceroboh atau bahkan gampang tersinggung ketika tiba-tiba INFJ mengambil keputusan yang cukup ekstrem. Seperti menghapus seluruh akses kontak, menolak berbicara atau menghilang dari kehidupan orang yang bersangkutan saat melakukan door slam. Orang-orang itu bisa memandang INFJ sebagai sosok yang impulsif karena nampak tidak berpikir panjang, jahat dan pemarah. Terutama bagi mereka yang terbiasa menghakimi personalitas orang lain hanya dari luarnya saja. Padahal sesungguhnya INFJ bukan tipe orang yang demikian. Hal ini sebenarnya dipengaruhi oleh sisi introvert mereka yang kurang suka berbicara. Terutama mengenai urusan pribadinya. 

Karena INFJ mewarisi dimensi introvert yang juga kuat, hal ini membuat eksterior penampilan mereka menebarkan aura dingin dan mengancam sehingga nampak pendiam dan (galak) bagi sebagian orang. Sehingga mereka menjadi lebih sulit untuk didekati.

Orang-orang dengan tipe kepribadian INFJ pada dasarnya adalah orang-orang yang hangat dan menghargai originalitas. Sehingga jarang sekali terganggu dengan perilaku “nyeleneh” orang lain. Dan seringnya mereka melihat hidup secara filosofis. Begitu juga saat mereka berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana hal ini mengakibatkan para INFJ menjadi sangat toleran terhadap kelakuan orang lain. 

Tapi, INFJ yang paling sabar sekali pun tetap memiliki batasan. Ketika batasan seorang INFJ dilanggar dan orang tersebut tidak menunjukan rasa penyesalan malah justru semakin tenggelam dalam perilaku buruk mereka kepada INFJ, biasanya INFJ yang pendiam bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat mengerikan dan mengejutkan orang-orang di sekeliling mereka.

Ada kalanya, seorang INFJ yang sudah sangat terluka tidak benar-benar bisa melakukan door slam secara total kepada seseorang dikarenakan orang tersebut adalah orang yang tidak bisa dihindari. Semisal anggota keluarga atau rekan kerja di kantor.

Ketika berada dalam situasi yang demikian para INFJ akan melakukan emotional door slam. Yang artinya, mereka tidak akan berbagi hal-hal pribadi mereka kepada orang tersebut. Dan cenderung menunjukan perilaku yang kaku seperlunya tanpa basa-basi. Jika kebetulan orang yang menjadi sasaran door slam INFJ itu adalah sesama rekan kerja di kantor yang tidak bisa dihindari maka INFJ masih akan tetap bersikap sopan saat bertemu. Namun secara sadar mereka akan menghindari segala bentuk interaksi yang membutuhkan lebih dari sekedar kesopanan. Orang-orang yang menjadi sasaran door slam treatment seorang INFJ hanya akan berhadapan dengan profesionalisme mereka yang dingin. 

Your presence may be acknowledged, but your existence may be ignored.

Ketika seorang INFJ masih bisa mengungkapkan kemarahan mereka secara verbal baik dengan berteriak, memaki atau menangis serta mau berbicara “lebih dalam” dengan anda maka keadaan masih bisa diperbaiki. Tapi, ketika seorang INFJ bersikap biasa saja serta nampak tidak peduli pada perilaku buruk anda terutama setelah mereka melewati masa-masa menyakitkan yang diakibatkan oleh kelakuan anda maka bisa dipastikan bahwa anda telah menjadi salah satu dari daftar orang-orang yang mendapatkan door slam treatment dalam kehidupan mereka.

Mengenal Masyarakat Inggris Abad Ke-18 Lewat Novel Pride & Prejudice

Wednesday, January 2, 2019


Kalau kalian penggemar berat novel roman-klasik, pastinya sudah tidak asing lagi dengan novel Pride and Prejudice karangan Jane Austen, dong ya? Atau setidaknya kalian pasti pernah dengar judulnya, berhubung novelnya udah legend banget dari semenjak dirilis tahun 1813 dan masih dicetak ulang hingga sekarang. Dari sekian banyak ulasan mengenai Pride and Prejudice, kebanyakan blogger sayangnya hanya menulis ulang sinopsisnya saja. Padahal masih banyak hal lain yang bisa kita pelajari dari Pride & Prejudice ini. Apa saja? Check it out! 

1. Orang Inggris Senang Menamai Rumah Mereka

Berawal dari kehidupan orang-orang Inggris yang membangun terlebih dahulu rumah mereka dan terciptalah jalan-jalan tanpa nama yang berkembang setelahnya. Gagasan rumah yang dibangun mengikuti perkembangan jalan sebenarnya cenderung lebih modern jika dibandingkan dengan sejarah awal masyarakat Inggris. Keadaan yang demikian membuat masyarakat Inggris sulit untuk mengorganisasi penomoran dan penyebutan lokasi rumah mereka. Apalagi, ditambah dengan jarak yang cukup jauh antara satu rumah dengan yang lainnya. Sistem penomoran seperti itu tak mungkin untuk dilakukan. Sehingga akhirnya, alih-alih diberi nomor seperti rumah-rumah di masa kini, para penduduk Inggris masa lalu lebih memilih untuk memberikan nama pada rumahnya.

Selain faktor untuk memudahkan pengidentifikasian rumah, alasan lain kenapa orang Inggris senang menamai rumah mereka adalah karena bagi sebagian besar orang Inggris, rumah yang sudah berumur cukup tua apalagi meninggalkan banyak kenangan akan terdengar lebih pantas jika diberikan nama bukannya nomor. Contohnya; Penyebutan rumah dengan nama “Kellynch Hall” bagi orang Inggris akan terdengar jauh lebih sopan, klasik dan nyaman di telinga jika dibandingkan dengan penyebutan “Rumah Nomor 40."

Sama halnya seperti di dalam Novel Pride & Prejudice yang seluruh tokoh-tokohnya juga tinggal di dalam rumah yang semuanya diberi nama. Seperti Elizabeth yang tinggal di Longbourn, Darcy yang tinggal di Pemberley dan Bingley yang menyewa sebuah rumah mewah bernama Netherfield Park tak jauh dari kediaman Lizzy di Longbourn.

2. Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Garis Paternal

Berdasarkan literatur Inggris klasik yang saya baca, sebenarnya tidak semua harta warisan akan jatuh kepada pihak laki-laki. Namun lebih tergantung pada sang pemberi mandat. Di zaman ketika Pride & Prejudice ini ditulis (Era Georgian sekitar tahun 1800an) pada umumnya masyarakat Inggris membagi harta warisan mereka secara paternal atau berdasarkan garis keturunan ayah. Yang mana ketika di dalam suatu keluaga tidak memiliki anak laki-laki dan jika sang ayah meninggal dunia, maka seluruh harta warisan keluarganya (tanah dan rumah beserta isinya) akan jatuh kepada keluarga laki-laki dari pihak sang ayah. Misalnya: paman, sepupu laki-laki, keponakan laki-laki dst. Sementara istri dan anak-anak perempuan tidak mendapatkan sepeserpen pun dari harta warisan sang ayah.

Hal ini terjadi karena tujuan pewarisan itu sendiri yang adalah untuk menjaga agar harta keluarga tidak berpindah atau dikuasai orang lain. Sementara para perempuan pada masa itu cenderung dianggap sebagai bagian dari keluarga suami (keluarga orang lain). Bukan keluarga ayah. Sehingga jika harta warisan diwariskan kepada anak perempuan atau cucu laki-laki dari anak perempuan, maka hal tersebut sama halnya dengan mewariskannya kepada keluarga yang lain yang menyalahi tujuan pewarisan.

Inilah sebenarnya yang melatarbelakangi mengapa Mrs. Bennet dalam Pride & Prejudice bersikeras ingin menikahkan kelima putrinya dengan pria yang kaya raya. Karena kenyataannya dia tidak punya anak lak-laki.

3. Status Sosial Adalah Harga Diri

Kehidupan masyarakat Inggris abad ke-18 yang digambarkan oleh Jane Austen seringkali menyinggung tentang pentingnya status sosial dalam kehidupan mereka. Terutama masyarakat kelas menengah atas yang seringkali mengadakan dan mengikuti pesta-pesta dansa dengan gaya hidup mewah. Hal itu dilakukan dalam rangka memperoleh kenalan yang bisa dijadikan sebagai prospek pasangan masa depan. Terutama oleh para wanita. Karena kedudukan suaminya kelak akan menentukan tingkat kesejahteraan mereka.

Kehidupan para wanita di era Georgian-Victorian tak terlepas dari sejumlah etiket yang harus mereka patuhi demi mendapatkan suami yang kaya raya, diantaranya:

Perempuan dilarang mengemukakan pendapat mereka. Selain tidak lazim pada zamannya, kepintaran tersebut boleh jadi mengintimidasi para laki-laki sehingga batal untuk menikahi mereka. Karena tidak terbiasa mengungkapkan pendapat, perempuan Inggris di zaman tersebut sangat bergantung sepenuhnya pada suami. Dan kebanyakan dari mereka menikah bukan karena dasar cinta. Tapi lebih karena status sosial dan gengsi.

Selain kurangnya inisiatif untuk berpendapat, membaca buku dan menjadi penulis juga merupakan sebuah aib bagi wanita di zaman tersebut karena hal itu membuat mereka menjadi terlihat pintar dan lebih maskulin dibandingkan para lelaki. Sehingga menghalangi prospek mereka untuk mendapatkan suami yang kaya raya.

Terlepas dari apa yang terjadi pada para wanita di zaman itu, jika menilik kembali novel Pride & Prejudice, ada satu kelebihan yang menurut saya bagus sekali untuk dipertahankan. Yang mana kehidupan masyarakat Inggris pada masa lalu jauh lebih sopan dan taat norma dibandingkan dengan kehidupan masyarakatnya di masa kini. Dimana bermesraan di depan umum, tinggal satu atap, kawin lari apalagi hamil diluar nikah masih menjadi hal-hal yang sangat tabu untuk dilakukan.

Perempuan INFJ

Tuesday, January 1, 2019


Selasa, 1 Januari 2019

Random Thoughts

Bagi saya yang cenderung menyimpan banyak hal untuk diri sendiri, berkomitmen untuk rajin menulis dan mempostingnya di blog adalah salah satu resolusi pribadi yang paling menantang di tahun ini. Apalagi saya sudah cukup lama tidak menulis. Jika dulu saya bisa santai menulis apapun yang terlintas dalam benak saya; dari tulisan melankolis hingga hard-core, fiksi hingga non-fiksi; mungkin saya yang sekarang agak sedikit berbeda. Bisa jadi kombinasi umur dan pengalaman hidup adalah penyebabnya. (Curhat, maap…) Selain resolusi untuk menulis secara konsisten, saya sebenarnya masih punya beberapa resolusi lain yang sifatnya personal sehingga tidak bisa saya tuliskan di sini. Menurut saya resolusi pribadi itu sifatnya rahasia. Cukup diri sendiri dan Tuhan yang tahu. Selain karena faktor usia dan pengalaman hidup, sisi introvert yang lebih dominan juga mempengaruhi pemikiran saya tersebut. 

Berbicara soal sisi introvert yang sering disalah-pahami, INFJ yang merupakan salah satu kepribadian dengan sisi introvert paling langka di dunia sepertinya akan jadi bahasan utama saya di postingan pertama di tahun ini.

Bagi kalian yang belum berkenalan dengan Myers-Briggs Test, mungkin akan asing dengan istilah INFJ. INFJ sendiri adalah singkatan dari Introvert – Intuition – Feeling – Judging. Ini adalah salah satu kepribadian paling langka dari 16 tipe kepribadian yang ada di dunia. Hal ini mengacu kepada tipologi kepribadian yang dipopulerkan oleh Isabella Myers-Briggs yang mengklaim bahwa manusia terdiri atas 4 dimensi. Dan tiap dimensinya terbagi menjadi dua ciri.

Yang pertama adalah dimensi tenaga yang terbagi menjadi: Introvert (I) dan Ekstrovert (E)

Orang-orang dengan tipe introvert adalah mereka yang cenderung kehabisan tenaga dalam situasi sosial yang menutut interaksi dengan banyak orang. Sementara orang-orang ekstrovert adalah kebalikannya; mereka mendapatkan tenaga dan semangat di dalam situasi sosial dan saat berinteraksi dengan banyak orang. Jika diberikan pertanyaan, semisal: “Apa hal yang kamu inginkan untuk hari ulang tahunmu?” Maka orang-orang tipe introvet bisa jadi akan mengatakan: “Cukup makan malam berdua di restoran atau bahkan tidak usah ada perayaan sama sekali.” Sementara tipe ekstrovert mungkin akan menjawab, “Ingin makan-makan dengan rekan kerja satu kantor atau ikut trip rombongan ke sebuah pulau selama satu minggu.”

Kedua adalah dimensi fokus yang terbagi menjadi: Intuitif (N) dan Sensing (S)

Orang-orang yang intuitif secara umum adalah mereka yang pembicaraannya cenderung abstrak dan berorientasi pada masa depan. Jika diberikan pertanyaan, semisal: “Seandainya kamu bisa membeli barang apapun di dunia ini, sebutkan tiga barang apa saja kah yang paling ingin kamu beli!” Maka orang-orang intuitif bisa jadi akan menjawab: “Mesin waktu, baling-baling bambu atau bahkan kantong Doraemon." Jawaban mereka cenderung imajinatif. Sementara orang-orang dengan tipe sensing akan memberikan jawaban yang cenderung membumi dan real. Seperti: “Handphone baru, baju baru, rumah baru.” Dan yang semacamnya.

Ketiga adalah dimensi keputusan yang terbagi menjadi: Thinking (T) & Feeling (F)

Orang-orang dengan kecenderungan thinking adalah mereka yang memutuskan sesuatu berdasarkan logika dan fakta yang lebih dominan serta berdasarkan sesuatu yang bisa dilihat secara real. Sementara orang-orang dengan kecenderungan feeling adalah mereka yang memutuskan sesuatu berdasarkan perasaan dan norma sosial. Kecenderungan feeling pada umumnya dimiliki oleh kaum perempuan. Dan kecenderungan thinking pada umumnya dimiliki oleh kaum laki-laki. Jika diberikan pertanyaan, semisal, “Apa yang paling kamu sukai dari sebuah film?” Dan dia menjawab alur ceritanya atau akting pemerannya yang bagus maka kemungkinan besar dia adalah tipe dengan kecenderungan feeling yang dominan. Sementara, jika jawabannya adalah visualisasi dan gambar atau efek yang digunakan dalam film, maka kemungkinan besar dia adalah tipe dengan kecenderungan thinking yang dominan.

Yang terakhir adalah dimensi keteraturan yang terbagi menjadi: Judging (J) dan Perceiving (P)

Orang-orang dengan kecenderungan Judging yang dominan adalah mereka yang lebih nyaman mengatur kehidupannya secara terstruktur. Sementara orang-orang dengan kecenderungan perceiving adalah mereka yang menjalani kehidupannya dengan lebih santai dan spontan; cenderung tidak terstruktur. Jika diberikan pertanyaan semisal, “Bila kamu mendapatkan kupon wisata gratis ke China dan hanya punya waktu 1 jam untuk mempersiapkan keperluan untuk dibawa, apakah kamu akan menerimanya atau menolak?” Jika dia menolak atau mengeluh kemungkinan besar dia adalah orang dengan kecenderungan judging yang dominan. Begitu pula sebaliknya.

Dari empat dimensi ini, orang-orang yang memiliki ciri Intuitif (N) dan Feeling (F) di dalam pola dimensinya termasuk ke dalam golongan para pencari makna. INFJ termasuk ke dalam golongan para pencari makna karena memiliki ciri Intuitif dan Feeling di dalam pola dimensinya. 

Para pencari makna adalah orang-orang yang menghargai nilai-nilai moral, hubungan, perasaan dan filosofis. Karena cenderung langka, kepribadian INFJ biasanya sangat jarang untuk dijumpai. Menurut penelitian hanya ada sekitar 1 hingga 2% orang-orang berkepribadian INFJ di seluruh dunia. Orang-orang INFJ biasanya dikenali karena ekspresi wajahnya yang murung meskipun sebenarnya mereka tidak merasa demikian. Selain itu, meskipun para INFJ termasuk ke dalam golongan introvert dengan dominasi feeling yang kuat, orang-orang INFJ pada umumnya akan nampak terlihat lebih rasional saat bersama dengan orang-orang tipe feeling dan terlihat lebih perasa saat bersama-sama dengan orang-orang tipe thinking. It means that they don’t fit anywhere. 

Sebagai salah seorang perempuan dengan tipe kepribadian langka tersebut, di bawah ini saya akan membagikan tentang tips bagaimana cara berinteraksi dengan para INFJ tanpa membuatnya kabur atau tersinggung:
  1. Sadari bahwa kami menyukai pembicaraan yang mendalam (spiritualitas, psikologi dan pengalaman hidup). Obrolan tentang hal-hal sensoris yang terlalu banyak seperti: Gosip terupdate atau jenis handphone keluaran terbaru dan semacamnya; membuat kami gila.
  2. Kami nampak dingin dan tertutup di luar tapi sebenarnya sangat sensitif dan peduli pada orang-orang di sekitar kami. Bahasa tubuh yang santai dan terbuka membuat kami merasa diterima.
  3. Kami menyukai konsistensi. Artinya, jika kalian berniat menarik perhatian kami lewat obrolan, lakukan obrolannya setiap hari! Tidak dua hari sekali, tidak seminggu sekali apalagi satu bulan sekali.
  4. Kebanyakan INFJ biasanya menganut moto bahwa kebijaksanaan adalah mengetahui bahwa kita tidak mengetahui segalanya. Jadi hindari menghakimi kehidupan orang lain. Sebelum para INFJ menghakimi orang lain, biasanya mereka akan menghakimi dirinya terlebih dahulu.
  5. Kami senang berbicara empat mata. Atau bersama satu-dua orang teman saja.
  6. Jangan menelpon untuk mengobrol. Apalagi video call. Kecuali jika kami sudah benar-benar dekat denganmu. Tanda kami merasa dekat denganmu adalah kami berinisiatif untuk memulai kontak (chat, telepon, sms) terlebih dahulu.
  7. Meskipun kami senang padamu dan bisa sangat peduli saat bertemu jangan terlalu berharap bahwa kami akan mengirimkan chat atau menelponmu terlebih dahulu. Biasanya kami cukup pesimis dan negative thinking. (If you text me first, you make my day. If I text you first, I feel like I’m annoying you) 
  8. Jangan pura-pura menjadi orang lain untuk menarik perhatian kami. Cukup jadi versi terbaik dirimu sendiri. Para INFJ adalah orang-orang yang paling toleran dan sangat humanis serta menyukai kepribadian yang otentik.
  9. Berbicaralah dengan nada suara yang jelas namun lembut; tunjukan bahwa kamu bermoral dan punya artikulasi yang baik.
  10. Jika kami nampak diam dan menjauh; introspeksilah dirimu.
Sekian tips dari saya semoga bermanfaat. Happy New Years, Everyone!

A Story of Dragon

Sunday, February 25, 2018


Ada sebuah tempat rahasia di semesta ini dimana aku bisa bertemu dengan Sang Naga, meskipun sejatinya raga kami terpisahkan oleh dua dunia yang berbeda. Dia adalah Sang Naga yang ku kagumi, yang mengendalikan kehidupan dengan api dalam tubuhnya. Namun, alih-alih menjaga kawah berapi di puncak-puncak gunung tertinggi, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di lautan. Menyelam diantara bebatuan karang, menyusuri setiap jengkal samudera serta menyusup diantara gulungan ombak-ombak besar dengan merentangkan kedua sayapnya yang kuat dan lebar. 

Ketika tempat rahasia itu terbuka setelah berabad-abad tertutup badai, aku melihatnya terbang menyusuri cakrawala yang terbentang di atas kedua sayapnya yang bebas. Apa itu, pikirku, sebelum akhirnya Sang Naga turun menghampiri. Dan begitulah awal perkenalanku dengan Sang Naga yang ku kagumi. 

Ada sesuatu yang berbeda tentang Sang Naga. Dan itu melebihi kata-kata. Sesuatu itu seperti api yang bersemayam dalam tubuhnya. Begitu gelap, kuat dan berbahaya.

“Api tidak akan membuatmu terluka jika kau berhati-hati menggunakannya. Justru api bisa menghangatkanmu.” ujar Sang Naga padaku di suatu hari yang hujan.
“Tapi, api juga bisa menghancurkan.” 
“Aku bisa menjamin keselamatanmu.”
“Bagaimana jika tidak?” 
“Jika tidak, maka aku akan berhenti menjadi Sang Naga. Dan ikut bersamamu.”

Kenyataan bahwa orang-orang di bumi meyakini Sang Naga hanya ada dalam legenda, membuatku tidak pernah membicarakannya kepada siapapun. Kecuali sore itu, pada seorang perempuan yang kulitnya memancarkan rona keemasan saat terkena sinar matahari. 

Orang-orang bilang perempuan itu terkena kutukan karena dia selalu berbicara tentang takdirnya. Setelah ratusan hari dilaluinya dengan kata-kata yang sama tentang takdir dirinya, tentang udara dan kebebasannya, orang-orang mulai menganggapnya mengidap gangguan jiwa. Padahal perempuan itu sepuluh kali lipat lebih cantik dibandingkan perempuan lain yang ada di kota tempat tinggalnya.

“Mengapa udara?” tanyaku saat kami sedang duduk berdua menatap matahari terbenam di tepi pantai yang mengingatkanku pada sang Naga. 
“Karena aku malu.”
“Kukira itu bukan jawaban. ” 

Perempuan dengan rona keemasan di kulitnya lantas berkata, “Tidak. Itu memang jawaban yang sesungguhnya.” Kemudian dia termenung sebentar lalu meneruskan kembali kata-katanya. “Dan bagaimana dengan dirimu? Apa yang kau inginkan?” 
“Aku ingin mengabdikan hidupku pada seekor naga.” ujarku setengah termenung karena teringat percakapan dengan sang Naga di suatu hari yang hujan. 

Alih-alih menertawakan kata-kataku yang terdengar aneh, perempuan itu menyikapinya dengan wajar. Dia bertanya, “Apakah dulu kau pernah mengenal seekor Naga?” 

Pertanyaannya sungguh tak disangka. Tapi, aku menjawabnya juga. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membeberkan rahasia tentang jati diri Sang Naga pada manusia di bumi yang paling mustahil untuk dijadikan teman bercerita. Perempuan itu lantas menyimak dengan setia setiap detail cerita mengenai Sang Naga yang ku kagumi. Tak ada rona terkejut ataupun ragu tergambar di wajahnya. Hanya ekspresi yang normal dan wajar. 

Seusai bercerita dia bertanya padaku apakah aku mengijinkannya berkomentar atau sebaiknya dia diam saja. Aku katakan tentu saja dia boleh berkomentar. Dan perempuan itu mulai menguraikan pendapatnya. “Aku setuju bahwa Naga adalah makhluk yang mengagumkan. Tapi, akan ada banyak hal yang harus kau korbankan jika kau ingin ikut bersamanya. Apakah kau benar-benar sudah siap dengan konsekuensinya?”

“Dia berkata bahwa dialah yang akan ikut bersamaku.”
“Bahkan jika kata-katanya benar, kau tetap akan mengorbankan banyak hal dan itu tidak sebanding. Kau tahu? Itulah sebabnya aku menyesal menjadi manusia. Betapa menyenangkannya menjadi udara. Tak pernah dilahirkan. Aku ingin menjadi udara.”
“Apa maksudmu?”
“Agar orang-orang di dunia ini tak lagi bisa melihatku. Agar tak ada yang menemukanku kecuali dalam ketiadaan.” 

Apakah perempuan ini benar-benar mengidap gangguan jiwa? Apa yang sebenarnya dia maksudkan?

Teka-teki mengenai kata-katanya yang tak kumengerti, akhirnya sedikit terkuak beberapa bulan kemudian saat perempuan itu menghilang secara tiba-tiba. Desas-desus bahwa perempuan itu bersekutu dengan seekor naga menyeruak di seantero kota. Orang-orang menanggapinya dengan rasa marah, resah dan gelisah. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana bisa perempuan itu bersekutu dengan makhluk jahat di lingkungan tempat tinggal mereka dan dekat dengan anak-anak mereka. Mengancam kehidupan mereka. 

“Kulitnya yang keemasaan, kepergiannya yang tiba-tiba. Dan hidupnya.”
“Bagaimana hidupnya?”
“Orang-orang yang bersekutu dengan Naga, kehidupan mereka tidak akan pernah lagi menjadi miliknya. Ada kehidupan lain. Kau akan mengerti saat waktunya tiba,” ujar seorang perempuan tua yang duduk disampingku. 

Dan benar saja, saat waktu itu tiba aku melihatnya kembali ke kota. Kulitnya semakin keemasaan dan hidupnya tak lagi sama. Saat bertemu dengannya aku tak sanggup menanyakan hal mengerikan apa yang telah menimpanya. Semua orang di kota menghakimi takdirnya. Dia kehilangan banyak hal. Orang-orang memusuhi dan menghinanya dan dia kehilangan kehidupan sosialnya. Dia hanya punya kehidupannya yang lain yang diberikan Sang Naga padanya.

“Semuanya sudah terlambat. Aku tidak lagi ingin menjadi udara. Ketika aku melihat kedua mata ini, aku tahu bahwa aku telah kehilangan hidupku. Aku hanya harus kuat sampai waktuku tiba. ” ujarnya sendu sambil memperlihatkan seorang anak laki-laki kecil yang kulitnya keemasan seperti dirinya. Saat itu aku langsung mengerti kemana arah pembicaraan ini bermuara. Kemunculannya seperti potongan puzzle yang melengkapi percakapan kami dulu. Aku takkan sanggup bersekutu dengan seekor naga. Aku tidak ingin kehilangan hidupku. Aku tidak ingin seperti dia.

A Confession of INTJ

Sunday, May 21, 2017


Ada dua alasan mengapa seseorang tidak ingin membicarakan sesuatu. Pertama, ketika sesuatu itu tidak berarti apa-apa. Dan yang kedua, ketika sesuatu itu berarti segalanya. Kamu lantas menghela napas sejenak kemudian memikirkan kira-kira opsi mana yang sebenarnya melatarbelakangi perilaku saya padamu.

Sore itu, langit Jakarta mulai gelap berawan dan kita masih berada di sebuah restoran siap saji menunggu pesanan. Saya menghadapi segelas milkshake dan sepiring risoles keju sambil diam-diam merangkai percakapan imajiner denganmu. 

Jadi orang-orang bilang mereka lebih suka segalanya seperti air. Biarkan saja mengalir dan go with the flow. Tapi, saya bukan dari jenis yang seperti itu. Saya punya pemikiran saya sendiri. Saya tidak suka moto hidup seperti air yang sudah sangat mainstream dan menyesatkan.

“Kenapa?” tanyamu dalam sesi percakapan imajiner kita.
“Karena air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah.” jawab saya padamu. 
Kamu lantas merenung lalu kemudian bertanya kembali, “Apakah dalam semua hal?”
“Tentu saja. Saya tidak suka main-main dengan kehidupan saya.” Kamu langsung tertawa mendengar pengakuan saya. Di telingamu itu terdengar palsu dan caramu tertawa terasa seperti menyinggung. “Kamu terlalu serius,” komentarmu sok tahu.

Di sela-sela percakapan imajiner kita, waktu kembali berputar ke beberapa bulan yang lalu saat kamu menuduh saya membosankan karena tidak punya akun Instagram. Lagi-lagi, kamu menghakimi hidup saya padahal kita baru dua belas kali bertemu. Bahkan makanan favorit saya saja kamu tidak tahu, meskipun, saya berulang kali memesan ayam goreng sambal ijo sama denganmu! 

Kamu bersikeras menganggap saya tidak punya nafsu makan apalagi makanan kesukaan. Saya tidak tahu apakah kamu sedang bercanda atau menyindir saya saat itu. Yang jelas, apapun jawabannya, pada akhirnya kamu tetap keras kepala dan tidak pernah meminta maaf kepada saya sekalipun.

Oleh karena itu, saya berniat membalasmu. Hari-hari berlalu dan saya tidak pernah berbicara kepadamu tanpa terbebas dari niat untuk menyakitimu; andai saya bisa. Dan bodohnya, kamu menerjemahkan sikap saya apa adanya tanpa menyadari awal kejadiannya. 

Sebenarnya saya ingin sekali agar semua laki-laki di dunia ini, termasuk dirimu, untuk membaca 16 Teori Kepribadian Carl Jung atau Pride and Prejudice karya Jane Austen agar bisa memahami perbedaan-perbedaan karakter manusia. Introvert-Extrovert, Sensory-Intuitive, Thinking-Feeling serta Judging-Perceiving. Dan menyadari bahwa bersikap close-minded itu sangat menyebalkan. Akan tetapi, ketika saya berpikir lebih dalam, seharusnya saya tidak perlu heran atau tersinggung dengan pemikiran bodohmu mengingat hasil tes psikologi kita yang berbeda. 

Kamu tradisionalis dan saya seorang realis.

Sebaris kata-kata itu sudah jelas menggambarkan perbedaan sudut pandang kehidupan dua anak manusia; yang pada akhirnya menyebabkan kamu tidak bisa percaya bahwa di dunia ini ada perempuan yang lebih sering menggunakan logika alih-alih perasaannya. Kamu tidak siap menerima ada perempuan yang tidak suka basa-basi. Kamu tidak bisa memahami itu sehingga kamu menganggap saya dingin dan tidak peka seperti ibu-ibu tiri dalam sinteron. Dan itu terjadi bahkan sebelum genap bilangan hari dalam seminggu kita berkenalan. 

Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi jendela restoran siap saji tempat kita bertemu. Saya melihat meja nomor 21 masih terisi. Tidak banyak orang-orang yang mendatangi tempat itu sore ini, sehingga saya bisa kembali fokus merangkai cerita percakapan imajiner kita yang sempat terputus dering telepon beberapa waktu lalu. 

Perkataan seorang teman memenuhi benak saya. Dia berkata bahwa pemikiran laki-laki dan perempuan satu sama lain bertentangan. Mereka tidak akan pernah bisa cocok sampai akhir zaman. Kalaupun mereka terlihat cocok, sebenarnya mereka berdua hanya sedang berusaha saling memahami.

Mungkin saja, selama ini kamu memang belum bisa memahami saya sehingga bersikap begitu menyebalkan. Dan saya pun demikian, belum bisa memahami kamu. Tapi pikiran itu tidak bisa bertahan lama mengingat kamu begitu mudahnya menghilang dari kehidupan saya tepat disaat saya menurunkan kewaspadaan diri saya padamu. 

Hal itu tentunya menjadi tanda tanya besar yang menghantui pikiran saya selama berminggu-minggu. Atau barangkali selama ini saya telah salah menilai dan dibutakan persepsi diri saya sendiri?

Lalu, entah setelah sekian hari yang terasa lama, sayup-sayup saya mendengar nyanyian dari balik jendela kamar rumah saya. Saya mengira itu pasti kamu yang akan muncul di bawah sinar lampu yang berpendar merah jambu. Jadi saya melompat hendak menyongsong malam untuk melupakanmu. Tapi, dalam kelam saya malah menemukan dirimu. Dalam kerumunan dan kesunyian, seperti selalu…….

Mengapa kamu tersenyum seperti itu?

Sejujurnya, saya ingin berubah jadi kupu-kupu kalau begini, hinggap di pundakmu. Saya ingin menjadi secangkir kopi di atas meja kerjamu. Saya ingin menjadi sepiring nasi goreng diantara makan malammu. Saya ingin menjadi huruf-huruf dan jalin kelindan kalimat dalam ungkapan-ungkapan rindumu. Saya ingin berhenti disini, menyalakan lilin sekali lagi dan terbakar sekali lagi. Tapi, saya khawatir bertemu lagi denganmu.

Saya memesan segelas milkshake kedua. Risoles di piring masih utuh tak tersentuh. Saya menatap jendela restoran siap saji tempat kami bertemu. Langit sudah berubah hitam. Dan lampu-lampu kendaraan di jalan bagaikan kunang-kunang yang kuning keemasan. Lantas dari meja nomor 21, kamu berjalan menghampiri saya di meja nomor 7. Kamu menawarkan diri untuk menemani saya agar tidak kesepian. Tapi, setelah semua yang terjadi, segala kebodohan dan permainan ini, sejujurnya saya lebih sering merasa sepi justru saat bersamamu.

Jadi, saya katakan tidak. Dan kamu mempertanyakan alasannya. Sesungguhnya, saya hanya tidak ingin lagi membicarakannya.

(Kembali ke awal)

Praha, Sebuah Memori

Thursday, May 4, 2017


Czech Republic, 2012

Ketika aku menjejakan lagi kakiku di Praha adalah saat-saat dimana salju sedang turun menutupi kota yang cantik itu sekitaran dua sentimeter. Aku merapatkan jaketku semakin lekat ke badan seraya berjalan di atas St. Charles Bridge, jembatan selebar sepuluh meter yang terbentang di atas Sungai Vltava yang menghubungkan antara Kota Tua dan Kastil Praha yang terkenal.

Saat itu Praha seperti kota penyihir dalam dongeng-dongeng klasik. Apalagi di tambah dengan menara-menara kastilnya yang runcing dan berwarna merah, Kota Praha benar-benar terlihat tua dan misterius dalam waktu yang bersamaan, bagaikan peradaban masa lampau yang keindahannya tersembunyi di balik tirai kabut musim dinginnya yang memukau.

Terlepas bahwa aku pernah memutuskan untuk meninggalkan kota yang cantik itu lima tahun silam, aku bahkan tak mengerti mengapa aku bisa kembali lagi ke Praha. Kota itu seperti menyimpan daya tarik tersembunyi yang selalu memaksaku untuk kembali meskipun aku sudah berlari.

Tak hanya dari bangunan-bangunannya yang sebagian besar berarsitektur gothic, baroque atau roccoco yang bisa menyihir orang yang menatapnya dalam kekaguman, tetapi juga orang-orangnya yang abadi; seolah-olah waktu terhenti saat mereka menginjak usia dua puluh lima tahun. Atau seolah-olah orang-orang di Praha tidak akan pernah mati selamanya.

Lima tahun meninggalkan Praha bukanlah waktu yang singkat. Seharusnya sudah banyak hal yang berubah atau setidaknya terhapus dalam kurun waktu sepanjang itu. Tetapi, Kota Praha lagi-lagi tidak seperti kota bagi manusia, kota itu terlalu indah dan ia seakan-akan mengabadikan segala sesuatu yang terjadi di dalamnya, tanpa terkecuali.

Bahkan hingga aku kembali setelah lama berlari, perasaanku lima tahun silam sebelum aku meninggalkan kota itu masih tetap sama. Yang selanjutnya menimbulkan kerisauan dalam hatiku dan membuat aku berpikir lama sekali di bawah turunnya salju musim dingin di Jembatan Charles. 

“Apakah masa depanku juga akan sama?” 

Rupanya tak hanya perasaanku di masa lalu itu yang tak berubah sedikitpun saat menjejakan kembali kedua kakiku di Praha, penyihir-penyihir tua bermantel tebal; mereka juga tetap ada disana - setia menjajakan bola-bola kristalnya di pinggiran jembatan St. Charles. 

Kemudian aku tersadar dari lamunanku sekaligus terkesima ketika salah seorang penyihir di jembatan itu menyodorkan bola kristalnya yang bening dan berkilauan ke hadapanku yang tengah memandangi mejanya.

“Kristal ini, apakah kau mau membelinya?” Tanya sang penyihir.
“Tentu saja. Kristal ini sangat indah.” Balasku tanpa berpikir panjang. Seharusnya aku tidak boleh
menerima kristal itu. Namun itulah satu-satunya kesempatan agar aku bisa menemukan sesuatu yang
sedang aku cari. Lebih tepatnya seseorang yang sedang aku cari.

Maka seperti itulah pertemuanku dengan si penyihir yang memberikan aku bola kristal di jembatan St. Charles. Dan saat itu aku belum tahu pasti apa yang selanjutnya akan terjadi dalam hidupku kecuali bahwa aku merasa jika Praha benar-benar seperti kota di Negeri Dongeng, karena keesokan harinya aku tidak hanya bertemu dengan penyihir-penyihir yang menjajakan bola kristal ajaibnya di St. Charles tetapi juga seorang malaikat dengan sayap hitam pekatnya – yang diam-diam lewat bola kristal itu aku mencarinya.

Dan hari itu… 

Aku tak sengaja melihatnya saat ia sedang termenung menatap sungai dengan sayapnya yang lebar menyentuh tanah. Aku tahu malaikat itu pasti mengenaliku jika dia melihatku. Dan benar saja yang ku takutkan pun terjadi, dia melihatku dan kemudian entah bagaimana caranya langkah kakiku akhirnya mengantarkan aku kepadanya ditengah-tengah terpaan angin musim dingin yang menghembus tubuhku, perasaan kami yang kaku dan cerita lain yang belum usai.

Pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menyukai malaikat. Tapi mengapa jika begitu adanya aku tetap memanggilnya malaikat? Padahal teman-temanku semuanya bersikeras memanggil dia Iblis. Namun, kemudian aku tersadar bahwa malaikat itu terus menatapku. Aku memaksakan ketenangan merasuki tubuhku saat kami akhirnya berhadapan.

Seperti air danau yang membeku, kami nampak tenang di permukaan. Namun kenyataannya saling bergejolak di dalam. Maka mungkin seperti itulah sebenarnya keadaan kita; sekarang.

Tarragona, Tentang Perjalanan

Monday, May 1, 2017



Spanyol, 2012

Akhir musim panas:

Ke Tarragona aku kembali. Kota pesisir pantai yang cantik; tanah kelahiranku. Aku menyukai segalanya tentang kota ini. Pantai-pantainya yang indah, hamparan pasir halusnya yang keemasan serta suhu airnya yang hangat. Dan kenangan-kenangan yang aku tinggalkan di sana. Dan juga rumpun bunga-bunga kecil berwarna biru yang tumbuh di halaman belakang rumah ibuku. Beberapa bulan yang lalu, aku terpaksa pergi meninggalkan kota pesisir pantaiku, untuk pergi ke Alpujarras sebuah desa di bagian selatan pegunungan Sierra Nevada yang berbeda sekali dengan tanah kelahiranku demi melaksanakan dua buah misi.

Misi yang pertama adalah misi kemanusiaan. Aku pernah mendengar seorang filusuf Yunani berkata dalam bukunya bahwa manusia itu dikatakan benar-benar menjadi manusia ketika dia menggunakan sifat-sifat kemanusiaannya yang terdalam, hati nuraninya yang murni dan jiwa sosialnya untuk menolong sesama. Diam-diam aku mengamini kata-kata sang filusuf itu, dan diam-diam pula aku menjadi sedih dalam hatiku, meskipun sejujurnya aku sendiri masih tak mengerti mengapa aku akhirnya memilih mendedikasikan diriku justru disaat aku merasa seolah-olah akulah orang yang seharusnya menjadi objek kemanusiaan yang pantas dikasihani. Oh, Tidak! Kenapa aku bisa berpikiran seperti itu? Yang berhak mengasihani diriku hanyalah Tuhan. Aku tidak ingin orang-orang mengasihani aku meskipun sejujurnya saat itu aku sedang merasa hancur. Aku penguasa atas diriku sendiri. Aku yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku dan bukan orang lain.

Misi yang kedua adalah memahami apa yang disebut orang-orang bestari sebagai rahmat yang disamarkan. Sama seperti kebanyakan manusia yang penglihatannya dangkal akan hikmah dan hakikat, saat itu timbul satu pertanyaanku kepada Yang Maha Kuasa yang hampir-hampir saja mengarahkan aku dalam kemarahan, putus asa dan rasa kecewa, mengapa disaat-saat hancur yang kurasakan, justru aku harus berpisah dengan keluarga dan teman-teman dekatku, jauh dari tanah kelahiranku, jauh dari kenangan-kenanganku yang meskipun pahit tapi mampu membuat aku merasa sebagai manusia karena masih bisa merasa. Bukankah disaat-saat seperti itu teman dan keluarga adalah obat?

Tapi rupanya perjalananku ke Alpujarras tidak demikian. Bisa dibilang, itulah cara Tuhan menghalangi rencanaku yang sudah ku persiapkan sedemikian rupa. Sahabatku Minerva, seorang gadis keturunan Turki-Spanyol yang kuliah di universitas yang sama denganku bahkan sampai tak habis pikir dan berulang kali mempertanyakan rencanaku yang menurutnya sangat nekat itu. “Apakah kau yakin benar-benar akan melakukannya?” Tanya Minerva di sela-sela kami menyusuri Taman Rambla Nova. Yang diteruskannya lagi dengan nasehat seperti biasanya, “Sudahlah. Lebih baik jangan kau lakukan. Itu akan membunuhmu perlahan.” Sejujurnya Minerva benar dan aku memang tak tahu dengan keputusan yang aku ambil itu apakah akan sesuai atau tidak untukku di masa depan, tapi aku hanya tak mau merasa bodoh dan menyedihkan jika aku tidak melakukannya saat itu. Aku sudah berjanji pada diriku bahwa aku akan melakukannya dan aku sudah menyiapkan segalanya meskipun itu akan sangat berpotensi melukai hatiku. Lagipula aku tidak punya alasan untuk tidak melakukannya. Dan lagi, setiap kali aku mengingat hal tersebut-- semua peristiwa itu, seolah-olah sebuah mata pisau yang tajam sedang dihujamkan ke jantungku berulang-ulang kali. Jika hal tersebut seperti mati, maka mungkin bagiku saat itu sudah tidak akan ada bedanya lagi. Aku berulangkali merasakan aku sudah mati. Jadi aku memutuskan untuk melakukannya.

Pertengahan musim panas:

Aku berada jauh dari Tarragona. Alpujarras benar-benar seperti oase di Padang pasir. Hamparan pertanian yang membentang dari timur ke barat, yang dialiri oleh air yang berasal dari salju yang meleleh di puncak gunung Sierra Nevada, terlihat kontras sekali dengan pemandangan tanah tandus di kaki pegunungannya yang dipenuhi dengan ladang-ladang pohon zaitun dan bangunan-bangunan peninggalan Bangsa Moor. Mungkin ini cara Tuhan menghiburku. Tapi meskipun aku mulai mencintai Alpujarras dan orang-orangnya yang ramah, dan udaranya yang segar kuhirup serta semua pemandangan alam menakjubkan di hadapanku, aku tetap lebih mencintai kota pesisir pantaiku; dimana aku bisa menemukan rumpun bunga biru kecil yang tidak pernah aku dapati tumbuh di Alpujarras.

Seperti lukisan-lukisan beraliran surealis yang menggambarkan simbol-simbol, bunga biru kecil itu adalah simbol bagiku. Aku suka warnanya yang biru. Seolah-olah warna bunga itu menggambarkan perasaan hatiku. Aku suka namanya yang tidak seperti nama-nama bunga pada umumnya. Dan tidak banyak orang yang tahu. Aku suka semua hal tentang bunga itu, seperti aku menyukai kenangan yang ada dibalik nama bunga itu.

Ketika masih di Tarragona, aku sesekali keluar rumah di malam hari dan berjalan di tepi Pantai Arabassada sendirian, menikmati angin pantai yang dingin atau menghabiskan waktu memandangi rumpun bunga biru kecil sambil menulis. Seperti dua sisi mata uang, aku tak hanya mengagumi bunga itu saja tapi sekaligus juga ingin menghapusnya dari penglihatanku. Bunga biru kecil itu membuat aku merasakan segalanya yang terjadi di hidupku, mengarahkan aku pada pertanyaan yang selalu sama yang terus berputar-putar di otakku, pertanyaan yang selalu buntu dan tak bisa ku jawab. Dan kalaupun aku merangkai-rangkai sendiri cerita tentang jawaban dari pertanyaanku, aku selalu merasa tidak puas karena jawaban itu selalu berujung pada satu kata yang tak akan lagi bisa disangkal. Kau tahu apa itu?

Takdir.

Ya! Kata orang-orang, jika sudah takdir maka tidak akan bisa diubah lagi.

Malam hari dipertengahan musim panas:

Selama di Alpujarras aku tak hanya belajar memanusiakan manusia tetapi juga belajar melihat hidupku dari sisi yang lain. Seperti seorang filusuf yang sedang mempelajari aliran para sufi, aku mencoba melihat hidupku dari sisi yang lebih spiritual yaitu lewat kasih sayang Tuhan padaku. Dan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini membuatku merasa bahwa Tuhan tidak menyayangi diriku terjawab sudah. Aku tersadarkan dengan padatnya aktivitasku di Alpujarras tepat disaat aku merasa sangat hancur adalah cara Tuhan menyayangiku. Benar kata orang bijak, kesibukan adalah obat untuk kesedihan. Dan aku juga tersadarkan dengan menjauhnya aku dari tanah kelahiranku, dimana tidak kudapati sedikitpun rumpun bunga warna biru yang biasa kulihat tumbuh di Tarragona, nyatanya sukses membuat aku tidak banyak berkhayal tentang masa lalu dan seandainya; dua topik favoritku saat sedang kacau atau terluka. Itu kumaknai sebagai cara Tuhan menyelamatkanku. Bukankah tidak baik terus menerus berkhayal?

Akhir musim panas:

Aku kembali ke Tarragona. Dan aku sudah melupakan tentang rencanaku yang dulu dipertanyakan oleh Minerva. Tapi gelombang perasaan yang mulai hilang ketika di Alpujarras itu, perlahan-lahan muncul kembali. Aku hampir-hampir saja menjadikan lagi kebiasaanku berkhayal masa lalu sebagai aktivitas favoritku jika saja Tuhan tidak memberikan petunjuk-Nya padaku. Ibuku selalu mengatakan bahwa petunjuk adalah dari Tuhan. Maka mintalah pada-Nya.

Maka hari itu aku melihatnya. Kami berada di sebuah pameran lukisan yang ruangannya berbentuk lorong panjang, aku berdiri diujung lorong, dan orang itu pun berdiri di ujung lorong yang lain. Kami berhadap-hadapan, kami sama-sama saling melihat tapi tidak bisa saling mendekat karena jalan kami terhalang oleh banyaknya orang yang juga sedang melihat-lihat lukisan. Kemudian aku terbangun. Hari-hari berikutnya aku merasakan hatiku jauh lebih lapang dan aku semakin yakin bahwa Tuhan sudah memilihkan pilihan-Nya yang terbaik untukku. 

Musim dingin:

Rumpun bunga biru kecil itu sudah mulai menghilang dan hanya tersisa kelopak-kelopaknya yang mulai tertutup serpihan salju. Aku memandanginya, tapi tidak merasa ingin melakukan apapun. Dan tidak juga merasakan perasaan apapun selain bahwa hidupku terasa jauh lebih baik. Seperti salju yang turun menutupi bunga-bunga kecil itu, dalam hati aku pun berharap bahwa Tuhan akan selalu meliputiku dengan kasih sayang-Nya seperti salju dingin yang menutupi rumpun bunga biru kecil itu, yang aku tidak ingin mengatakan namanya.