5 Kelakuan Yang Bisa Menurunkan Tingkat Kegantenganmu di Media Sosial

Monday, April 1, 2019


googleimage.search

Setiap laki-laki di belahan bumi manapun pasti pengen keliatan ganteng. Selain bisa bikin kamu pede, kegantengan juga bisa meningkatkan daya tarik kamu di mata perempuan. Ngomong-ngomongin soal kegantengan, sayangnya hal itu nggak pernah punya tolak ukur yang jelas. Karena kegantengan sifatnya relatif. Pasti pernah denger dong kata-kata ganteng itu relatif tapi jelek itu mutlak? Hehehe.. Makanya, tiap orang pasti punya definisi kegantengannya masing-masing. Ada yang definisi gantengnya asal punya tatto dan piercing dimana-mana; udah langsung ngerasa paling ganteng. Ada juga yang definisi gantengnya cukup rambut model old-school dengan gaya berpakaian eksekutif.

Sekilas kalau kita ngomongin tentang definisi ganteng, memang kebanyakan hanya membahas fisik dan penampilan. Padahal masih ada unsur lain yang bisa menentukan tingkat kegantengan seseorang; yaitu sikap.

Sikap baik yang bisa meningkatkan daya tarik ini nggak cuma perlu ditunjukan di dunia nyata aja. Tapi juga perlu ditunjukan di dunia maya. Karena sekarang banyak orang yang juga bersosialisasi di sana. Terutama lewat media sosial. Nggak mau dong kalah saingan hanya gara-gara kurang ganteng?

Tapi apakah bersosialisasi di dunia maya sama halnya seperti bersosialisasi di dunia nyata? Jawabannya tentu aja nggak! Karena dua-duanya sama sekali berbeda. Kalau di dunia nyata kalian bisa senyum, salam, sapa sambil bertatap muka dan ngobrol sepuasnya secara langsung, lain halnya dengan bersosialisasi di dunia maya. Ada sejumlah etika yang perlu diperhatikan. Di bawah ini ada beberapa hal yang sebaiknya tidak kamu lakukan saat bersosialisasi di dunia maya. Misalnya saat kamu tengah aktif menggunakan media sosial. Agar tingkat kegantenganmu tidak berkurang. Apa aja? Check it out!

1. Terlalu Sering Update Status
Dari sekian banyak fitur di media sosial, fitur update status mungkin adalah yang paling digemari banyak orang karena membuat penggunanya merasa diperhatikan. Apalagi nggak sedikit orang yang mengartikan jumlah tanda love di Instagram atau komentar di Facebook mereka sebagai bentuk care atau kode cinta dari gebetan. Kombinasi antara sikap gampang baper dan meningkatnya hormon endorfin pemicu rasa bahagia ini menimbulkan efek ketagihan yang bisa mendorong keinginan untuk terus menerus update status. Padahal kita tahu bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu ujung-ujungnya pasti nggak bagus. Keseringan update status bakal bikin orang-orang menghakimi kamu kurang kerjaan atau malah pengangguran. Apalagi kalau isi statusnya nggak penting.

2. Menulis Caption Galau
Semua orang pasti pernah curhat. Tapi sayangnya masih banyak orang yang nggak tahu tempat kalau mau curhat. Mereka bisa curhat dimana aja termasuk di media sosial. Padahal bisa jadi curhatannya malah bikin orang-orang yang baca ngerasa risih. Mau unfollow nggak enak. Gimana mau unfollow kalau nyatanya kamu adalah keluarga atau temen deket mereka sendiri? Bisa-bisa kamu tersinggung. Karena curhat itu sesuatu yang sifatnya personal, kurang baik kalau sampai dijadiin konsumsi publik. Apalagi biasanya isi curhatan itu nggak jauh-jauh dari yang namanya kegalauan. Yang namanya orang lagi galau  pasti perasaannya lagi kacau, berasa lemah, sedih dan tak berdaya. Kebayang nggak sih kalau kegalauannya dipakai inspirasi buat nulis caption di medsos yang nggak nyambung sama fotonya? Selain bikin kamu terkesan punya mental yang rapuh dan emosi yang tidak stabil, kelakuan kayak gini juga bisa memicu orang-orang yang suka ghibahin kamu di belakang untuk semakin seru ngomongin kamu.

3. Kelewat Bijaksana
Dari berbagai macam manusia yang suka posting kutipan di medsos; orang-orang yang suka banget posting kutipan bijak adalah yang paling malesin. Sebenernya hal ini nggak masalah sih jika karakter mereka mencerminkan kutipan-kutipan bijak tersebut. Tapi, kalau secara karakter atau usia ternyata masih jauh dari kata seimbang; mending jangan deh. Alih-alih terinspirasi, orang-orang justru akan menyepelekanmu dan merasa bahwa sikap kelewat bijaksana kamu ini terkesan palsu dan dibuat-dibuat. Alih-alih dewasa, kamu malah nampak seperti sedang modus demi mencari perhatian seseorang.

4. Hobi Selfie
Sebagian besar wanita mengaku lebih senang melihat foto-foto pria yang sedang beraktivitas atau berkumpul bersama dengan teman-teman prianya dibandingkan hanya melihat foto selfie si pria yang menampilkan keseluruhan wajah atau close-up. Pria yang digadang-gadang  sebagai makhluk yang bertugas untuk memimpin dan melindungi kelompok, keberadaanmu pada suatu komunitas atau perkumpulan orang-orang (meskipun hanya dalam foto) secara tidak langsung memberi kesan maskulin, keren dan ganteng. Oleh karena itu sebaiknya hindari foto-foto close up atau selfie. Alih-alih perbanyaklah foto yang menunjukan aktivitas menyenangkan bersama orang-orang yang berbeda.

5. Pamer Kekayaan Pribadi
Selain alasan keamanan, pamer-pamerin harta kekayaan pribadi di media sosial itu emang nggak perlu sih sebenernya. Selain bisa mengundang tindak kejahatan, kadang-kadang kita perlu juga untuk tenggang rasa sama orang lain. Masih banyak orang-orang di luar sana yang untuk makan aja susah. Jangan sampai kita malah bikin mereka nggak bersyukur karena ngeliat postingan kita yang lagi pamer harta. Tahu nggak apa yang paling cepet bikin orang yang paling ganteng sekalipun jadi keliatan nggak ganteng? Yap betul! Sifat sombong.

Bandwagon Effect di Dunia Millenial

Friday, March 29, 2019


googlesearch.image
Sebenarnya jika kita jeli ada begitu banyak fenomena unik di sekitaran kita yang menarik untuk ditulis. Dan tulisan ini saya buat di tengah-tengah fenomena unik tersebut. Khususnya yang menimpa kalangan anak muda yang dituntut untuk kreatif dan berprikir kritis yang justru malah terlena dengan dampak kurang baca dan kurang berpikir. Semenjak media sosial pertemanan menjadi booming beberapa tahun yang lalu, anak-anak muda yang aktif bermedia sosial menjelma menjadi para netizen yang mengikuti berbagai macam trend yang dibawa oleh arus teknologi internet. Para anak muda menjadi tidak asing lagi dengan istilah-istilah kekinian semacam follback atau retweet. Dunia maya menjadi wadah baru dan tempat bagi anak-anak muda untuk bersosialisasi.

Bersosialisasi di dunia maya ataupun di dunia nyata secara teori sama saja. Dua-duanya harus punya bahan obrolan. Internet dengan segala isinya menawarkan berbagai macam bahan obrolan. Dari artikel hingga berita. Dari lirik lagu hingga kutipan.

Kemudahan mengakses internet yang serba instan ini membuat para anak muda berada di zona nyaman yang berbahaya bagi mereka. Dikatakan berbahaya karena orang-orang yang berada di zona nyaman biasanya akan malas untuk bertumbuh, untuk berpikir dan untuk menjadi lebih baik lagi. Sehingga hal ini akan menjerumuskan mereka ke dalam mental ikut-ikutan.

Dalam psikologi, fenomena ikut-ikutan ini disebut dengan Bandwagon Effect. Bandwagon effect mengacu pada kecenderungan orang-orang untuk mengadopsi sesuatu seperti perilaku, gaya hidup, atau sikap orang lain hanya karena “orang lain melakukannya.” Hal ini bisa terjadi karena individu hidup mengikuti tekanan dan norma-norma kelompok. Sehingga kecenderungan untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh kerumunan menjadi lebih besar.

Contoh Bandwagon Effect yang paling jelas pada generasi milenial adalah ketika banyaknya anak-anak muda yang memposting quotes dalam akun media sosial mereka. Dari mulai quotes galau hingga quotes tentang kehidupan. Menariknya, mereka melakukan ini sebagai cara untuk bersosialisasi.

Namun pada kenyataannya tidak semua kutipan yang mereka posting di media sosial tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan yang sebenarnya lho!

Seperti misalnya kutipan ini: “Biarkanlah hidup mengalir seperti air.”

Untuk orang-orang dengan pola pikir dewasa yang sudah bisa membedakan antara takdir dengan nasib dan apa yang masih bisa dan tidak bisa untuk diusahakan serta sudah mengalami kerja keras beserta pahit manis, asam-garamnya kehidupan, membaca kutipan tersebut mungkin bisa membuat mereka untuk sedikit lebih santai dalam menjalani hidup yang keras ini. Tidak depresi dengan kegagalan karena hidup sudah ada yang mengatur.

Namun bagi para anak muda milenial yang baru saja memasuki fase awal kehidupan yang sebenarnya, kutipan yang menginspirasi orang untuk jatuh pada mental let it flow ini sangat berbahaya. Bisa kita saksikan bahwa tidak sedikit orang yang pada akhirnya kesulitan mempertahankan pekerjaan mereka atau bahkan kesulitan mencari pekerjaan padahal masih berada di usia produktif karena dulu di masa mudanya pernah punya mental let it flow yang terbawa hingga dewasa.

Di saat orang lain jatuh bangun menata kehidupannya, orang-orang dengan mental let it flow ini dengan seenaknya hanya bersandar pada nasib dan prinsip biarkanlah hidup ini mengalir seperti air. Mereka tidak sungguh-sungguh mempersiapkan kehidupan mereka. Padahal kita semua tahu bahwa air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tidak pernah ke tempat yang lebih tinggi.

Millenials should haven’t posted quote like this or make this quote their own quote of life.

Sebagai generasi milenial yang belum pantas dapat julukan lansia dan pensiun dari pekerjaan, harusnya sih posting quote-nya yang menyemangati hidup dan menginspirasi diri sendiri dan orang lain untuk berkarya dong, ya. Bukannya kutipan-kutipan galau apalagi nyindir.

Setelah baca ini… kira-kira sekarang kamu mau posting quote yang mana nih? Kasih tahu saya di kolom komentar dong!  

Langkah Awal Mencintai Diri Sendiri

Saturday, March 2, 2019


googlesearch.image

Pengetahuan akan diri sendiri adalah langkah pertama untuk mencintai diri sendiri. Dan mencintai diri sendiri tidaklah sama dengan egois. Lalu apa bedanya egois dengan mencintai diri sendiri? 

Egois itu mendahulukan kepentingan pribadi namun dibarengi dengan sikap merugikan orang lain. Sementara mencintai diri sendiri, meskipun mendahulukan kepentingan pribadi namun tidak diiringi dengan sikap merugikan orang lain. 

Sama halnya ketika kita ditanya apa bedanya ekspektasi dengan standar. Standar adalah ketika kamu mengetahui dan bisa menjelaskan secara “spesifik” apa yang bisa dan tidak bisa kamu toleransi. Sementara ekspektasi adalah ketika kamu menuntut bahwa segala apa yang kamu miliki, kamu terima atau sedang kamu jalani akan selalu bisa “berubah” seperti apa yang kamu inginkan. Kamu wajib punya standar tapi tidak wajib punya ekspektasi. Dan sekali lagi: standar itu berbeda dengan ekspektasi. 

Ngomong-ngomongin soal mencintai diri sendiri bagaimana sih cara melakukannya?

Mungkin tiap orang punya versi yang berbeda-beda dalam mencintai diri mereka sendiri. Bagi saya pribadi, cara pertama untuk mencintai diri sendiri adalah dengan terlebih dulu mengenali diri saya sendiri. Caranya adalah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat saya berpikir mengenai apa yang saya apresiasi dalam kehidupan ini, hal-hal apa saja yang bisa dan tidak bisa saya terima, apa yang saya sukai dan tidak saya sukai. Berikut juga dengan nilai-nilai yang saya anut dan bagaimana cara saya dalam memandang kehidupan. 

Iseng-iseng saya mengumpulkan 100 pertanyaan yang saya tujukan untuk diri saya sendiri. Secara personal, menjawab pertanyaan-pertanyaan ini cukup menyenangkan untuk diri saya pribadi. 
  1. Apakah kamu secara umum optimis atau pesimis?
    “Optimis, dong. Saking optimisnya saya pernah yakin dia bisa berubah. Hahaha…"
  2. Jika seandainya bisa apa yang ingin kamu ubah dalam hidupmu?
    “Sekolah kali ya. Soalnya dulu waktu SMP-SMA cita-citanya masuk Islamic Boarding School biar bisa lebih banyak belajar tentang agama."
  3. Aplikasi apa yang paling sering kamu gunakan?
    “Whatsapp.”
  4. Apa pujian terbaik yang pernah kamu terima?
    “Teteh tuh anak Mamah yang paling sholeh…” 
  5. Jika kamu adalah sebuah warna; warna apakah kamu?
    “Hitam.”
  6. Apa saja 3 hal yang tanpanya hidupmu hampa?
    “Keyakinan, handphone, peradaban modern," (a.k.a: mall, bioskop, café, tempat wisata, fasilitas hidup)
  7. Tentang apakah terakhir kali kamu berargumen?
    “Tentang kelakuan netizen. Penting ya emang harus komentarin sadis kehidupan orang lain yang bahkan orang yang kita komentarin aja nggak kenal sama kita. Intinya sih isi argumennya: Gak usah ikut campur urusan orang lain. You don’t even know them!” 
  8. Bagaimana kamu bertemu sahabatmu?
    "Awalnya kita sekelas pas dulu waktu SMA. Gak sebangku sih tapi kursinya tetanggaan. Dia orangnya baik dan care. Bukan tipe-tipe temen yang suka ngomongin kejelekan orang lain di belakang atau ngeremehin orang lain. Awalnya kita suka main bareng. Dari mulai ngerujak bareng, renang bareng, belanja bareng sampai ketemuan sama cowok gebetan bareng-bareng.”
  9. Apakah kamu punya koleksi?
    "Punya. Sebagian besar buku psikologi dan spiritual. Ada novel juga tapi kebanyakan novel sastra klasik Eropa (Inggris dan Rusia)
  10. Apa yang tidak pernah ingin kamu ubah?
    "Agama sama gender dong ya."
  11. Apa kata-kata favorit kamu?
    “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb-nya. Dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Qs. Al-Baqarah: 45-46)
  12. Apakah kamu berpikir bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan indah?
    “Kadang berpikir gitu sih. Namun hanya jika kita mengikuti tuntunan agama dengan benar.”
  13. Siapa orang terakhir yang hari ini kamu ucapkan I love You?
    “Rahasia dong.”
  14. Suara apa yang membuat kamu paling terganggu?
    “Suara orang yang marah-marah.”
  15. Apakah kamu selalu mengerjakan tugas-tugasmu tepat waktu?
    “Selalu.”
  16. Kemana pertama kali kamu berlibur tahun ini?
    “Belum liburan kemana-mana. Masih di Bandung aja.”
  17. Apakah kamu bisa dideskripsikan sebagai seseorang yang spontan?
    "Kayaknya nggak deh. Soalnya saya lebih suka jika segala sesuatu itu ada perencanaan matangnya.”
  18. Apakah kamu suka membaca horoskop?
    "Nggak suka."
  19. Jika kamu adalah sebuah emoji; kira-kira emoji manakah yang paling cocok untuk menggambarkan dirimu?
    “Nggak ada emoji yang cocok. Semuanya kayak saya tapi sekaligus kayak bukan saya.” 
  20. Bagaimana kamu bereaksi pada kritikan?
    “Kalau kritikannya membangun ya terima aja. Jadikan itu bahan introspeksi untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.”
  21. Apakah kamu terlalu “hot” atau terlalu “cold?”
    “Mostly, terlalu cold.”
  22. Apakah kamu percaya hantu?
    “Percaya.”
  23. Berapa lama waktu bagi kamu untuk berdandan?
    “Kurang lebih setengah jam.”
  24. Apakah kamu punya hubungan yang baik dengan kedua orangtuamu?
    “Punya.”
  25. Apakah ada seseorang yang kamu rindukan saat ini?
    “Ada dong.”
  26. Hal apa yang paling kamu sesali jika direnungi saat ini?
    “Umur segini masih aja nyusahin orangtua.”
  27. Jika bisa apakah kamu ingin menjalani hidup seperti para tokoh dalam film-film atau novel-novel favoritmu?
    “Ngga yakin. Kadang pengen tapi kadang juga nggak. Tergantung suasana hati.”
  28. Bagaimana cara kamu ingin meninggal?
    “Yang wajar aja. Tenang, khusnul khotimah, dikelilingi keluarga.”
  29. Kira-kira apa yang orang pikirkan saat melihatmu pertama kali?
    “Wah, kayaknya dia cewek jutek nih….” 
  30. Siapa yang paling mengetahui dirimu yang sesungguhnya?
    “Tuhan yang Maha Segalanya.”
  31. Apakah kamu tipe orang yang sering datang tepat waktu, datang lebih cepat atau datang terlambat?
    “Mostly, datang lebih cepat, sih.”
  32. Apa hal yang paling tidak kamu sukai?
    “Tidak punya tujuan; sesuatu yang nggak jelas.”
  33. Apakah kamu ingin kembali ke masa lalu jika kamu bisa?
    “Iya ingin. Tapi hanya untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang udah diperbuat bukan untuk tinggal menetap disana.” 
  34. Apakah kamu percaya pada dirimu?
    “Percaya.”
  35. Kapan terakhir kali kamu berbelanja online?
    “Kemarin tanggal 1 Maret. Beli buku psikologi Pemulihan Jiwa.”
  36. Apakah kamu lebih mudah memaafkan atau melupakan?
    “Memaafkan.”
  37. Siapa orang yang kamu kenal yang menurutmu orang yang paling pintar?
    “Ibu.”
  38. Apa 2 kualitas paling penting yang harus ada dalam diri pasanganmu?
    “Mampu berkomunikasi dengan baik dan bisa membahagiakan diri sendiri.”
  39. Apa mata pelajaran favoritmu ketika dulu sekolah?
    "Bahasa Inggris."
  40. Apakah kamu sedang jatuh cinta sekarang?
    “It can be yes or it can be no.” 
  41. Pernahkah kamu mematahkan hati seseorang?
    “Pernah.”
  42. Apakah kamu lebih suka mendengarkan lagu atau menonton televisi?
    “Mendengarkan lagu.”
  43. Siapa orang yang paling peduli padamu?
    “Orang tua.”
  44. Bagaimana kamu akan menghabiskan uang ratusan juta?
    “Yang pasti 2.5% untuk zakat. Setelah kebutuhan pokok terpenuhi, sisanya ditabung sambil memikirkan bagusnya investasi apa agar bisa bertambah.”
  45. Apa terakhir kali mimpi yang kamu ingat?
    “Mimpi lari dari gedung lantai dua di kampus.”
  46. Siapa orang yang terakhir kali melihatmu menangis?
    “Lupa. Udah jarang nangis juga, sih.”
  47. Apakah kamu akan memberikan kesempatan kedua?
    “Tergantung jenis masalahnya dan seberapa fatal kejadiannya.”
  48. Apa hal terakhir yang biasa kamu lakukan sebelum pergi tidur?
    “Cuci muka dan gosok gigi.”
  49. Yang manakah tahun terbaik dalam hidupmu?
    “2012”
  50. Apa nasehat yang sekiranya akan kamu berikan pada orang yang terus-menerus ingat mantan?
    “Mantan tidak akan merindukanmu ketika kamu pergi. Tapi dia akan merindukanmu ketika kamu move-on.”
  51. Apakah kamu percaya bahwa segala sesuatu terjadi karena ada alasannya?
    “Percaya. Dan Kami tidaklah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah.“ (Qs. Shad: 27)
  52. Apakah kamu tertarik tinggal di desa?
    “Hmm, sejujurnya lebih suka tinggal di kota.”
  53. Bagimanakah kira-kira bahasa cintamu?
    “Quality time and physical.”
  54. Bagaimana perasaanmu ketika bangun tidur?
    “Semangat dan dipenuhi energi positif.”(Terutama ketika day off keesokan harinya)
  55. Menurutmu apakah berbohong itu diperbolehkan?
    “Mostly nggak. Tapi tergantung masalah, situasi, akibat serta konsekuensinya juga sih. Nggak bisa dilihat dari satu sisi aja.”
  56. Apakah kamu percaya cinta pada pandangan pertama?
    “Nggak deh kayaknya. Kalo cinta pada percakapan pertama mungkin masih bisa percaya. Soalnya pernah ngalamin.”
  57. Kira-kira mending mutusin apa diputusin?
    “Mutusin.”
  58. Apakah kamu orang yang religius?
    “Cukup religius.”
  59. Dengan siapa terakhir kali kamu mengobrol mengenai topik yang agak dalam?
    “Dengan salah seorang teman saya.”
  60. Apakah kamu lebih condong pada kepribadian sanguinis, koleris, melankolis atau plegmatis?
    “Kayaknya sih lebih condong ke kepribadian melankolis-koleris.”
  61. Untuk lebih bisa memahami dirimu kira-kira buku dan film serta lagu apa yang sebaiknya ditelusuri?
    “Pride & Prejudice Novel by Jane Austen, Korean Drama: She was Pretty, Sacrifice by Black Atlas dan beberapa lagu Amy Winehouse: You know I’m no good dan Back to Black.”
  62. Apa kualitas yang kamu idam-idamkan ada dalam diri orang lain?
    “Tidak ikut campur yang bukan urusannya, mampu melihat dari dua sisi dan berbagai sudut pandang, tidak gampang menghakimi.”
  63. Bagaimanakah gambaran mengenai hari yang sempurna menurut kamu
    “Hari yang sempurna adalah hari ketika saya merasa bahagia. Dan apa yang bikin hati saya berbahagia? Ya banyak! Salah satunya adalah ketika saya merasa nyaman dan tambah cantik saat pakai baju yang modelnya sesuai, ketika chatting sama pasangan dan isi chattingannya lucu banget, ketika nemu temen yang bisa diajakin ngobrol secara mendalam dan dia baik banget, ketika bisa beliin orangtua barang-barang yang mereka udah lama pengen atau mereka sukain banget... dll, dll.
  64. Sebutkan 5 hal yang kamu lakukan yang paling sering menghabiskan waktumu?
    “Kerja, dengerin lagu, baca buku, ikut kajian sama jadi tempat curhat.”
  65. Lagu apa yang terakhir kali kamu dengarkan?
    “Fall Again by Glenn Lewis.”
  66. Kapan terakhir kali kamu tertawa dengan sangat keras?
    “Gatau. udah lama banget kayaknya.”
  67. Apakah kamu merasa penampilan luar kamu sudah mencerminkan dirimu yang sebenarnya?
    "Hmm, nggak. Mungkin hanya memrepresentasikan sebagian kecil aja, ya. Sebagian besarnya nggak bisa dinilai lewat penampilan.”
  68. Apa salah satu quote favorite kamu?
    “Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari ilmu.”
  69. Jika kamu bisa tinggal dimanapun, dimanakah kamu akan memilih untuk tinggal?
    “Di Finlandia. Yang kualitas pendidikannya nomor 1 di dunia. Atau di Swiss, negara paling bersih yang nuansanya hijau pegunungan; mirip latar cerita di novel klasik Heidy.”
  70. Apa hal paling baik yang pernah kamu lakukan?
    “Sama aja kayak doa; kebaikan sejatinya dirahasiakan. Agar semakin berlipat ganda pahalanya. Lagian yang menurut kita adalah kebaikan, belum tentu juga Allah nerimanya kebaikan juga. Bisa aja dimata-Nya dianggap keburukan karena kitanya riya.”
  71. Makanan apa yang menurutmu kurang cocok dipesan saat kencan sama gebetan?
    “Hamburger. Abis susah makannya. Bayangin aja.”
  72. Lebih suka cowok pake parfum atau nggak pake parfum?
    “Pake parfum dong.”
  73. Kalau dalam MBTI, Enneagram dan STIFFIN kira-kira kamu tipe kepribadian apa?
    “INFJ, Tipe 5, Intuiting introvert.”
  74. Sebutkan satu hal ajaib yang pernah kamu alami dalam hidupmu!
    “Sempet nggak sadar kalau ternyata pernah punya pacar yang plat mobilnya samaan kayak password handphone dan pin ATM yang mana dua nomor itu adalah tanggal kencan pertama sama mantan yang sebelumnya.“
  75. Band apakah yang lagu-lagunya banyak menjadi favorit kamu?
    “Band Dewa 19”
  76. Siapa penulis favorit kamu?
    “Jane Austen dan Emily Bronte.”
  77. Apa yang biasanya selalu ingin kamu lakukan di kala hujan turun?
    “Selimutan sambil ngobrol.”
  78. Apa kebiasaan unik dalam keluarga yang menjadi favorit kamu?
    “Nggak lupa bawain oleh-oleh kalau abis liburan atau jalan-jalan.”
  79. Apa film paling menakutkan yang pernah kamu tonton?
    “Final Destination.”
  80. Menurut kamu hal apa saja yang tidak bisa dijadikan bahan lelucon?
    “Agama dan urusan hati.”
  81. Bahasa apa selain Inggris dan Indonesia yang ingin kamu kuasai?
    “Bahasa Arab dan Russia.”
  82. Seberapa sering kamu melewatkan sarapan?
    “Jarang. Selalu sarapan.”
  83. Apa tiga kualitas teratas yang membuat kamu tertarik pada seseorang?
    “Gesture, penampilan dan isi pembicaraan.”
  84. Apakah kamu pernah punya pengalaman buruk dengan orang gila?
    “Pernah. Jadi waktu itu turun dari motor dengan niat hati mau nanyain alamat seseorang. Pas ngeliat orang itu sih biasa aja mungkin karena jaraknya masih agak jauh. Cuman pas udah deket kok ditangannya dipasangin banyak karet gelang ya. Tapi karena udah terlanjur turun ya nanya aja. Yang selanjutnya dijawab sama dia dengan jawaban yang kurang wajar. Dari situ baru sadar kalau dia gila. Langsung takut banget dari situ. Buru-buru melipir ke tukang baso terus kabur.”
  85. Bagaimana cara kamu mengekspresikan cintamu pada diri sendiri?
    “Banyak. Salah satunya dengan merawat diri (eat-well, dressed well, make up, keep studying)."
  86. Apa yang membantu kamu untuk menjadi lebih santai?
    “Baca Qur’an dan artinya.”
  87. Siapa penyanyi yang menurut kamu mendekati kriteria tipe pria idaman kamu?
    “Virzha dong. Abisnya kelakuannya lucu. Apalagi waktu masih main di The Comment.”
  88. Website apa yang paling sering kamu kunjungi?
    “thoughtcatalog.com”
  89. Apakah kamu lebih suka diberi hadiah pernak-pernik semacam bunga dan boneka atau barang-barang praktikal yang cenderung bisa digunakan?
    “Barang-barang praktikal. Kayak misalnya: headset, jacket, bantal guling.”
  90. Lirik lagu apakah yang paling menggambarkan moto percintaanmu?”
    “Lirik lagu When You Really Love Someone by Alicia Keys
  91. Apakah yang bisa membuat kamu kuat dan tidak berputus asa?
    "Ayat ini: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiadalah yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Qs. Yusuf: 87)
  92. Siapakah tokoh karakter fiksi favoritmu?
    “Mr. Darcy di novel Pride & Prejudice, Mr. Knightley di novel Emma dan Bima di novel Still.”
  93. Apa yang paling kamu syukuri dalam hidup ini?
    “Iman Islam.”
  94. Bagaimana cara kamu menolak cinta seseorang yang tidak kamu sukai?
    “Ngomong secara baik-baik. Atau bisa juga menghilang dari kehidupannya.”
  95. Apakah kamu pernah memblokir akun seseorang?
    "Pernah."
  96. Sebutkan 2 pertanyaan teratas yang paling kamu suka untuk ditanyakan oleh pasanganmu?
    "Gimana seharian ini? Ada cerita yang mau kamu ceritain? atau hal apa aja sih yang bikin kamu suka aku?"
  97. Apakah kamu pernah mengalami culture schock?
    “Pernah. Waktu main ke Kuningan. Ternyata meskipun sama-sama berbahasa sunda tapi sundanya kasar.”
  98. Apa sesuatu yang cukup menakutkan yang setidaknya orang harus mencobanya sekali seumur hidup?
    “Naik Hysteria.”
  99. Berhubung lagi musim hujan kira-kira makanan apa yang paling sesuai untuk cuaca seperti ini?
    “Mie instan dong udah pasti.”
  100. Apa hal yang tidak akan pernah lagi kamu lakukan jika berkaca pada masa lalu?
    “Terlalu dalam mencintai orang lain namun tidak cukup dalam ketika mencintai diri sendiri.”
Dan akhirnya 100 pertanyaan selesai dijawab. Tapi rasanya kok kayak masih kurang aja ya. Kapan-kapan saya nulis lagi, deh. See you at another post!

Ngobrolin INFJ Door Slam

Thursday, January 3, 2019

stocksy.com

Masih membahas INFJ dengan segala kerumitannya. Di postingan kali ini saya akan menulis tentang INFJ Door Slam. Saya sebenarnya masih mencari padanan kata yang tepat untuk istilah ini dalam Bahasa Indonesia. Namun gagal menemukannya.

Sebenarnya istilah door slam, menurut saya agak kurang sesuai jika dikaitkan dengan INFJ mengingat artinya dalam Bahasa Indonesia adalah “membanting pintu.” Sementara door slam yang dilakukan oleh seorang INFJ jauh dari kesan membanting pintu. Malah justru sebaliknya; mereka melakukan door slam dengan cara yang halus, tenang dan seringkali diam-diam. Namun biasanya merciless. Seolah-olah itu adalah sesuatu yang wajar. Seperti nyala lilin yang perlahan-lahan memudar lantas selanjutnya menghilang.

Door slam sendiri adalah salah satu teknik pertahanan diri orang-orang dengan tipe kepribadian INFJ. Ini adalah jalan terakhir yang ditempuh oleh mereka dalam melindungi inner core-nya yang sangat sensitif. Atau ketika mereka telah putus asa berurusan dengan orang-orang yang membuat mereka selalu merasa tersiksa berulang-ulang kali secara mental. 

Tidak seperti kepribadian lain yang melakukan door slam karena hal-hal sepele, seperti: keegoisan pribadi yang tak dipenuhi atau ketersinggungan spontan, door slam yang dilakukan oleh orang-orang bertipe INFJ biasanya lebih serius. Mereka akan melewati proses berpikir yang sulit dan panjang serta merasakan pahitnya penderitaan dibalik gagalnya peringatan-peringatan yang mereka sampaikan dan usaha-usaha perbaikan yang mereka usahakan sebelum akhirnya sampai pada titik tersebut. Dan ketika hal itu terjadi mereka sebenarnya sudah terluka dengan sangat dalam. Bahkan, ketika keputusan door slam itu masih menjadi bahan pertimbangan. 

Oleh karenanya ketika tipe kepribadian ini memutuskan untuk berubah demikian, alih-alih merasa terbebani, INFJ justru merasa sebaliknya. They feel liberated! They feel their power back! Mereka merasa seolah-olah telah terbebas dari belenggu penderitaan yang selama ini menyiksanya. Sekali INFJ melakukan door slam, biasanya mereka akan sulit sekali untuk merubah keputusannya. Kecuali jika orang yang mendapatkan door slam treatment tersebut menyadari kesalahannya dan langsung menunjukan bahwa mereka menyesal atas perbuatannya.

Karena INFJ adalah kepribadian dengan dimensi judging yang kuat maka orang-orang ini hampir selalu merencanakan segala sesuatu. Orang-orang yang tidak begitu mengenal kepribadian INFJ mungkin akan mudah menghakimi mereka ceroboh atau bahkan gampang tersinggung ketika tiba-tiba INFJ mengambil keputusan yang cukup ekstrem. Seperti menghapus seluruh akses kontak, menolak berbicara atau menghilang dari kehidupan orang yang bersangkutan saat melakukan door slam. Orang-orang itu bisa memandang INFJ sebagai sosok yang impulsif karena nampak tidak berpikir panjang, jahat dan pemarah. Terutama bagi mereka yang terbiasa menghakimi personalitas orang lain hanya dari luarnya saja. Padahal sesungguhnya INFJ bukan tipe orang yang demikian. Hal ini sebenarnya dipengaruhi oleh sisi introvert mereka yang kurang suka berbicara. Terutama mengenai urusan pribadinya. 

Karena INFJ mewarisi dimensi introvert yang juga kuat, hal ini membuat eksterior penampilan mereka menebarkan aura dingin dan mengancam sehingga nampak pendiam dan (galak) bagi sebagian orang. Sehingga mereka menjadi lebih sulit untuk didekati.

Orang-orang dengan tipe kepribadian INFJ pada dasarnya adalah orang-orang yang hangat dan menghargai originalitas. Sehingga jarang sekali terganggu dengan perilaku “nyeleneh” orang lain. Dan seringnya mereka melihat hidup secara filosofis. Begitu juga saat mereka berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana hal ini mengakibatkan para INFJ menjadi sangat toleran terhadap kelakuan orang lain. 

Tapi, INFJ yang paling sabar sekali pun tetap memiliki batasan. Ketika batasan seorang INFJ dilanggar dan orang tersebut tidak menunjukan rasa penyesalan malah justru semakin tenggelam dalam perilaku buruk mereka kepada INFJ, biasanya INFJ yang pendiam bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat mengerikan dan mengejutkan orang-orang di sekeliling mereka.

Ada kalanya, seorang INFJ yang sudah sangat terluka tidak benar-benar bisa melakukan door slam secara total kepada seseorang dikarenakan orang tersebut adalah orang yang tidak bisa dihindari. Semisal anggota keluarga atau rekan kerja di kantor.

Ketika berada dalam situasi yang demikian para INFJ akan melakukan emotional door slam. Yang artinya, mereka tidak akan berbagi hal-hal pribadi mereka kepada orang tersebut. Dan cenderung menunjukan perilaku yang kaku seperlunya tanpa basa-basi. Jika kebetulan orang yang menjadi sasaran door slam INFJ itu adalah sesama rekan kerja di kantor yang tidak bisa dihindari maka INFJ masih akan tetap bersikap sopan saat bertemu. Namun secara sadar mereka akan menghindari segala bentuk interaksi yang membutuhkan lebih dari sekedar kesopanan. Orang-orang yang menjadi sasaran door slam treatment seorang INFJ hanya akan berhadapan dengan profesionalisme mereka yang dingin. 

Your presence may be acknowledged, but your existence may be ignored.

Ketika seorang INFJ masih bisa mengungkapkan kemarahan mereka secara verbal baik dengan berteriak, memaki atau menangis serta mau berbicara “lebih dalam” dengan anda maka keadaan masih bisa diperbaiki. Tapi, ketika seorang INFJ bersikap biasa saja serta nampak tidak peduli pada perilaku buruk anda terutama setelah mereka melewati masa-masa menyakitkan yang diakibatkan oleh kelakuan anda maka bisa dipastikan bahwa anda telah menjadi salah satu dari daftar orang-orang yang mendapatkan door slam treatment dalam kehidupan mereka.

Mengenal Masyarakat Inggris Abad Ke-18 Lewat Novel Pride & Prejudice

Wednesday, January 2, 2019


Kalau kalian penggemar berat novel roman-klasik, pastinya sudah tidak asing lagi dengan novel Pride and Prejudice karangan Jane Austen, dong ya? Atau setidaknya kalian pasti pernah dengar judulnya, berhubung novelnya udah legend banget dari semenjak dirilis tahun 1813 dan masih dicetak ulang hingga sekarang. Dari sekian banyak ulasan mengenai Pride and Prejudice, kebanyakan blogger sayangnya hanya menulis ulang sinopsisnya saja. Padahal masih banyak hal lain yang bisa kita pelajari dari Pride & Prejudice ini. Apa saja? Check it out! 

1. Orang Inggris Senang Menamai Rumah Mereka

Berawal dari kehidupan orang-orang Inggris yang membangun terlebih dahulu rumah mereka dan terciptalah jalan-jalan tanpa nama yang berkembang setelahnya. Gagasan rumah yang dibangun mengikuti perkembangan jalan sebenarnya cenderung lebih modern jika dibandingkan dengan sejarah awal masyarakat Inggris. Keadaan yang demikian membuat masyarakat Inggris sulit untuk mengorganisasi penomoran dan penyebutan lokasi rumah mereka. Apalagi, ditambah dengan jarak yang cukup jauh antara satu rumah dengan yang lainnya. Sistem penomoran seperti itu tak mungkin untuk dilakukan. Sehingga akhirnya, alih-alih diberi nomor seperti rumah-rumah di masa kini, para penduduk Inggris masa lalu lebih memilih untuk memberikan nama pada rumahnya.

Selain faktor untuk memudahkan pengidentifikasian rumah, alasan lain kenapa orang Inggris senang menamai rumah mereka adalah karena bagi sebagian besar orang Inggris, rumah yang sudah berumur cukup tua apalagi meninggalkan banyak kenangan akan terdengar lebih pantas jika diberikan nama bukannya nomor. Contohnya; Penyebutan rumah dengan nama “Kellynch Hall” bagi orang Inggris akan terdengar jauh lebih sopan, klasik dan nyaman di telinga jika dibandingkan dengan penyebutan “Rumah Nomor 40."

Sama halnya seperti di dalam Novel Pride & Prejudice yang seluruh tokoh-tokohnya juga tinggal di dalam rumah yang semuanya diberi nama. Seperti Elizabeth yang tinggal di Longbourn, Darcy yang tinggal di Pemberley dan Bingley yang menyewa sebuah rumah mewah bernama Netherfield Park tak jauh dari kediaman Lizzy di Longbourn.

2. Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Garis Paternal

Berdasarkan literatur Inggris klasik yang saya baca, sebenarnya tidak semua harta warisan akan jatuh kepada pihak laki-laki. Namun lebih tergantung pada sang pemberi mandat. Di zaman ketika Pride & Prejudice ini ditulis (Era Georgian sekitar tahun 1800an) pada umumnya masyarakat Inggris membagi harta warisan mereka secara paternal atau berdasarkan garis keturunan ayah. Yang mana ketika di dalam suatu keluaga tidak memiliki anak laki-laki dan jika sang ayah meninggal dunia, maka seluruh harta warisan keluarganya (tanah dan rumah beserta isinya) akan jatuh kepada keluarga laki-laki dari pihak sang ayah. Misalnya: paman, sepupu laki-laki, keponakan laki-laki dst. Sementara istri dan anak-anak perempuan tidak mendapatkan sepeserpen pun dari harta warisan sang ayah.

Hal ini terjadi karena tujuan pewarisan itu sendiri yang adalah untuk menjaga agar harta keluarga tidak berpindah atau dikuasai orang lain. Sementara para perempuan pada masa itu cenderung dianggap sebagai bagian dari keluarga suami (keluarga orang lain). Bukan keluarga ayah. Sehingga jika harta warisan diwariskan kepada anak perempuan atau cucu laki-laki dari anak perempuan, maka hal tersebut sama halnya dengan mewariskannya kepada keluarga yang lain yang menyalahi tujuan pewarisan.

Inilah sebenarnya yang melatarbelakangi mengapa Mrs. Bennet dalam Pride & Prejudice bersikeras ingin menikahkan kelima putrinya dengan pria yang kaya raya. Karena kenyataannya dia tidak punya anak lak-laki.

3. Status Sosial Adalah Harga Diri

Kehidupan masyarakat Inggris abad ke-18 yang digambarkan oleh Jane Austen seringkali menyinggung tentang pentingnya status sosial dalam kehidupan mereka. Terutama masyarakat kelas menengah atas yang seringkali mengadakan dan mengikuti pesta-pesta dansa dengan gaya hidup mewah. Hal itu dilakukan dalam rangka memperoleh kenalan yang bisa dijadikan sebagai prospek pasangan masa depan. Terutama oleh para wanita. Karena kedudukan suaminya kelak akan menentukan tingkat kesejahteraan mereka.

Kehidupan para wanita di era Georgian-Victorian tak terlepas dari sejumlah etiket yang harus mereka patuhi demi mendapatkan suami yang kaya raya, diantaranya:

Perempuan dilarang mengemukakan pendapat mereka. Selain tidak lazim pada zamannya, kepintaran tersebut boleh jadi mengintimidasi para laki-laki sehingga batal untuk menikahi mereka. Karena tidak terbiasa mengungkapkan pendapat, perempuan Inggris di zaman tersebut sangat bergantung sepenuhnya pada suami. Dan kebanyakan dari mereka menikah bukan karena dasar cinta. Tapi lebih karena status sosial dan gengsi.

Selain kurangnya inisiatif untuk berpendapat, membaca buku dan menjadi penulis juga merupakan sebuah aib bagi wanita di zaman tersebut karena hal itu membuat mereka menjadi terlihat pintar dan lebih maskulin dibandingkan para lelaki. Sehingga menghalangi prospek mereka untuk mendapatkan suami yang kaya raya.

Terlepas dari apa yang terjadi pada para wanita di zaman itu, jika menilik kembali novel Pride & Prejudice, ada satu kelebihan yang menurut saya bagus sekali untuk dipertahankan. Yang mana kehidupan masyarakat Inggris pada masa lalu jauh lebih sopan dan taat norma dibandingkan dengan kehidupan masyarakatnya di masa kini. Dimana bermesraan di depan umum, tinggal satu atap, kawin lari apalagi hamil diluar nikah masih menjadi hal-hal yang sangat tabu untuk dilakukan.

Perempuan INFJ

Tuesday, January 1, 2019


Selasa, 1 Januari 2019

Random Thoughts

Bagi saya yang cenderung menyimpan banyak hal untuk diri sendiri, berkomitmen untuk rajin menulis dan mempostingnya di blog adalah salah satu resolusi pribadi yang paling menantang di tahun ini. Apalagi saya sudah cukup lama tidak menulis. Jika dulu saya bisa santai menulis apapun yang terlintas dalam benak saya; dari tulisan melankolis hingga hard-core, fiksi hingga non-fiksi; mungkin saya yang sekarang agak sedikit berbeda. Bisa jadi kombinasi umur dan pengalaman hidup adalah penyebabnya. (Curhat, maap…) Selain resolusi untuk menulis secara konsisten, saya sebenarnya masih punya beberapa resolusi lain yang sifatnya personal sehingga tidak bisa saya tuliskan di sini. Menurut saya resolusi pribadi itu sifatnya rahasia. Cukup diri sendiri dan Tuhan yang tahu. Selain karena faktor usia dan pengalaman hidup, sisi introvert yang lebih dominan juga mempengaruhi pemikiran saya tersebut. 

Berbicara soal sisi introvert yang sering disalah-pahami, INFJ yang merupakan salah satu kepribadian dengan sisi introvert paling langka di dunia sepertinya akan jadi bahasan utama saya di postingan pertama di tahun ini.

Bagi kalian yang belum berkenalan dengan Myers-Briggs Test, mungkin akan asing dengan istilah INFJ. INFJ sendiri adalah singkatan dari Introvert – Intuition – Feeling – Judging. Ini adalah salah satu kepribadian paling langka dari 16 tipe kepribadian yang ada di dunia. Hal ini mengacu kepada tipologi kepribadian yang dipopulerkan oleh Isabella Myers-Briggs yang mengklaim bahwa manusia terdiri atas 4 dimensi. Dan tiap dimensinya terbagi menjadi dua ciri.

Yang pertama adalah dimensi tenaga yang terbagi menjadi: Introvert (I) dan Ekstrovert (E)

Orang-orang dengan tipe introvert adalah mereka yang cenderung kehabisan tenaga dalam situasi sosial yang menutut interaksi dengan banyak orang. Sementara orang-orang ekstrovert adalah kebalikannya; mereka mendapatkan tenaga dan semangat di dalam situasi sosial dan saat berinteraksi dengan banyak orang. Jika diberikan pertanyaan, semisal: “Apa hal yang kamu inginkan untuk hari ulang tahunmu?” Maka orang-orang tipe introvet bisa jadi akan mengatakan: “Cukup makan malam berdua di restoran atau bahkan tidak usah ada perayaan sama sekali.” Sementara tipe ekstrovert mungkin akan menjawab, “Ingin makan-makan dengan rekan kerja satu kantor atau ikut trip rombongan ke sebuah pulau selama satu minggu.”

Kedua adalah dimensi fokus yang terbagi menjadi: Intuitif (N) dan Sensing (S)

Orang-orang yang intuitif secara umum adalah mereka yang pembicaraannya cenderung abstrak dan berorientasi pada masa depan. Jika diberikan pertanyaan, semisal: “Seandainya kamu bisa membeli barang apapun di dunia ini, sebutkan tiga barang apa saja kah yang paling ingin kamu beli!” Maka orang-orang intuitif bisa jadi akan menjawab: “Mesin waktu, baling-baling bambu atau bahkan kantong Doraemon." Jawaban mereka cenderung imajinatif. Sementara orang-orang dengan tipe sensing akan memberikan jawaban yang cenderung membumi dan real. Seperti: “Handphone baru, baju baru, rumah baru.” Dan yang semacamnya.

Ketiga adalah dimensi keputusan yang terbagi menjadi: Thinking (T) & Feeling (F)

Orang-orang dengan kecenderungan thinking adalah mereka yang memutuskan sesuatu berdasarkan logika dan fakta yang lebih dominan serta berdasarkan sesuatu yang bisa dilihat secara real. Sementara orang-orang dengan kecenderungan feeling adalah mereka yang memutuskan sesuatu berdasarkan perasaan dan norma sosial. Kecenderungan feeling pada umumnya dimiliki oleh kaum perempuan. Dan kecenderungan thinking pada umumnya dimiliki oleh kaum laki-laki. Jika diberikan pertanyaan, semisal, “Apa yang paling kamu sukai dari sebuah film?” Dan dia menjawab alur ceritanya atau akting pemerannya yang bagus maka kemungkinan besar dia adalah tipe dengan kecenderungan feeling yang dominan. Sementara, jika jawabannya adalah visualisasi dan gambar atau efek yang digunakan dalam film, maka kemungkinan besar dia adalah tipe dengan kecenderungan thinking yang dominan.

Yang terakhir adalah dimensi keteraturan yang terbagi menjadi: Judging (J) dan Perceiving (P)

Orang-orang dengan kecenderungan Judging yang dominan adalah mereka yang lebih nyaman mengatur kehidupannya secara terstruktur. Sementara orang-orang dengan kecenderungan perceiving adalah mereka yang menjalani kehidupannya dengan lebih santai dan spontan; cenderung tidak terstruktur. Jika diberikan pertanyaan semisal, “Bila kamu mendapatkan kupon wisata gratis ke China dan hanya punya waktu 1 jam untuk mempersiapkan keperluan untuk dibawa, apakah kamu akan menerimanya atau menolak?” Jika dia menolak atau mengeluh kemungkinan besar dia adalah orang dengan kecenderungan judging yang dominan. Begitu pula sebaliknya.

Dari empat dimensi ini, orang-orang yang memiliki ciri Intuitif (N) dan Feeling (F) di dalam pola dimensinya termasuk ke dalam golongan para pencari makna. INFJ termasuk ke dalam golongan para pencari makna karena memiliki ciri Intuitif dan Feeling di dalam pola dimensinya. 

Para pencari makna adalah orang-orang yang menghargai nilai-nilai moral, hubungan, perasaan dan filosofis. Karena cenderung langka, kepribadian INFJ biasanya sangat jarang untuk dijumpai. Menurut penelitian hanya ada sekitar 1 hingga 2% orang-orang berkepribadian INFJ di seluruh dunia. Orang-orang INFJ biasanya dikenali karena ekspresi wajahnya yang murung meskipun sebenarnya mereka tidak merasa demikian. Selain itu, meskipun para INFJ termasuk ke dalam golongan introvert dengan dominasi feeling yang kuat, orang-orang INFJ pada umumnya akan nampak terlihat lebih rasional saat bersama dengan orang-orang tipe feeling dan terlihat lebih perasa saat bersama-sama dengan orang-orang tipe thinking. It means that they don’t fit anywhere. 

Sebagai salah seorang perempuan dengan tipe kepribadian langka tersebut, di bawah ini saya akan membagikan tentang tips bagaimana cara berinteraksi dengan para INFJ tanpa membuatnya kabur atau tersinggung:
  1. Sadari bahwa kami menyukai pembicaraan yang mendalam (spiritualitas, psikologi dan pengalaman hidup). Obrolan tentang hal-hal sensoris yang terlalu banyak seperti: Gosip terupdate atau jenis handphone keluaran terbaru dan semacamnya; membuat kami gila.
  2. Kami nampak dingin dan tertutup di luar tapi sebenarnya sangat sensitif dan peduli pada orang-orang di sekitar kami. Bahasa tubuh yang santai dan terbuka membuat kami merasa diterima.
  3. Kami menyukai konsistensi. Artinya, jika kalian berniat menarik perhatian kami lewat obrolan, lakukan obrolannya setiap hari! Tidak dua hari sekali, tidak seminggu sekali apalagi satu bulan sekali.
  4. Kebanyakan INFJ biasanya menganut moto bahwa kebijaksanaan adalah mengetahui bahwa kita tidak mengetahui segalanya. Jadi hindari menghakimi kehidupan orang lain. Sebelum para INFJ menghakimi orang lain, biasanya mereka akan menghakimi dirinya terlebih dahulu.
  5. Kami senang berbicara empat mata. Atau bersama satu-dua orang teman saja.
  6. Jangan menelpon untuk mengobrol. Apalagi video call. Kecuali jika kami sudah benar-benar dekat denganmu. Tanda kami merasa dekat denganmu adalah kami berinisiatif untuk memulai kontak (chat, telepon, sms) terlebih dahulu.
  7. Meskipun kami senang padamu dan bisa sangat peduli saat bertemu jangan terlalu berharap bahwa kami akan mengirimkan chat atau menelponmu terlebih dahulu. Biasanya kami cukup pesimis dan negative thinking. (If you text me first, you make my day. If I text you first, I feel like I’m annoying you) 
  8. Jangan pura-pura menjadi orang lain untuk menarik perhatian kami. Cukup jadi versi terbaik dirimu sendiri. Para INFJ adalah orang-orang yang paling toleran dan sangat humanis serta menyukai kepribadian yang otentik.
  9. Berbicaralah dengan nada suara yang jelas namun lembut; tunjukan bahwa kamu bermoral dan punya artikulasi yang baik.
  10. Jika kami nampak diam dan menjauh; introspeksilah dirimu.
Sekian tips dari saya semoga bermanfaat. Happy New Years, Everyone!

A Story of Dragon

Sunday, February 25, 2018


Ada sebuah tempat rahasia di semesta ini dimana aku bisa bertemu dengan Sang Naga, meskipun sejatinya raga kami terpisahkan oleh dua dunia yang berbeda. Dia adalah Sang Naga yang ku kagumi, yang mengendalikan kehidupan dengan api dalam tubuhnya. Namun, alih-alih menjaga kawah berapi di puncak-puncak gunung tertinggi, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di lautan. Menyelam diantara bebatuan karang, menyusuri setiap jengkal samudera serta menyusup diantara gulungan ombak-ombak besar dengan merentangkan kedua sayapnya yang kuat dan lebar. 

Ketika tempat rahasia itu terbuka setelah berabad-abad tertutup badai, aku melihatnya terbang menyusuri cakrawala yang terbentang di atas kedua sayapnya yang bebas. Apa itu, pikirku, sebelum akhirnya Sang Naga turun menghampiri. Dan begitulah awal perkenalanku dengan Sang Naga yang ku kagumi. 

Ada sesuatu yang berbeda tentang Sang Naga. Dan itu melebihi kata-kata. Sesuatu itu seperti api yang bersemayam dalam tubuhnya. Begitu gelap, kuat dan berbahaya.

“Api tidak akan membuatmu terluka jika kau berhati-hati menggunakannya. Justru api bisa menghangatkanmu.” ujar Sang Naga padaku di suatu hari yang hujan.
“Tapi, api juga bisa menghancurkan.” 
“Aku bisa menjamin keselamatanmu.”
“Bagaimana jika tidak?” 
“Jika tidak, maka aku akan berhenti menjadi Sang Naga. Dan ikut bersamamu.”

Kenyataan bahwa orang-orang di bumi meyakini Sang Naga hanya ada dalam legenda, membuatku tidak pernah membicarakannya kepada siapapun. Kecuali sore itu, pada seorang perempuan yang kulitnya memancarkan rona keemasan saat terkena sinar matahari. 

Orang-orang bilang perempuan itu terkena kutukan karena dia selalu berbicara tentang takdirnya. Setelah ratusan hari dilaluinya dengan kata-kata yang sama tentang takdir dirinya, tentang udara dan kebebasannya, orang-orang mulai menganggapnya mengidap gangguan jiwa. Padahal perempuan itu sepuluh kali lipat lebih cantik dibandingkan perempuan lain yang ada di kota tempat tinggalnya.

“Mengapa udara?” tanyaku saat kami sedang duduk berdua menatap matahari terbenam di tepi pantai yang mengingatkanku pada sang Naga. 
“Karena aku malu.”
“Kukira itu bukan jawaban. ” 

Perempuan dengan rona keemasan di kulitnya lantas berkata, “Tidak. Itu memang jawaban yang sesungguhnya.” Kemudian dia termenung sebentar lalu meneruskan kembali kata-katanya. “Dan bagaimana dengan dirimu? Apa yang kau inginkan?” 
“Aku ingin mengabdikan hidupku pada seekor naga.” ujarku setengah termenung karena teringat percakapan dengan sang Naga di suatu hari yang hujan. 

Alih-alih menertawakan kata-kataku yang terdengar aneh, perempuan itu menyikapinya dengan wajar. Dia bertanya, “Apakah dulu kau pernah mengenal seekor Naga?” 

Pertanyaannya sungguh tak disangka. Tapi, aku menjawabnya juga. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membeberkan rahasia tentang jati diri Sang Naga pada manusia di bumi yang paling mustahil untuk dijadikan teman bercerita. Perempuan itu lantas menyimak dengan setia setiap detail cerita mengenai Sang Naga yang ku kagumi. Tak ada rona terkejut ataupun ragu tergambar di wajahnya. Hanya ekspresi yang normal dan wajar. 

Seusai bercerita dia bertanya padaku apakah aku mengijinkannya berkomentar atau sebaiknya dia diam saja. Aku katakan tentu saja dia boleh berkomentar. Dan perempuan itu mulai menguraikan pendapatnya. “Aku setuju bahwa Naga adalah makhluk yang mengagumkan. Tapi, akan ada banyak hal yang harus kau korbankan jika kau ingin ikut bersamanya. Apakah kau benar-benar sudah siap dengan konsekuensinya?”

“Dia berkata bahwa dialah yang akan ikut bersamaku.”
“Bahkan jika kata-katanya benar, kau tetap akan mengorbankan banyak hal dan itu tidak sebanding. Kau tahu? Itulah sebabnya aku menyesal menjadi manusia. Betapa menyenangkannya menjadi udara. Tak pernah dilahirkan. Aku ingin menjadi udara.”
“Apa maksudmu?”
“Agar orang-orang di dunia ini tak lagi bisa melihatku. Agar tak ada yang menemukanku kecuali dalam ketiadaan.” 

Apakah perempuan ini benar-benar mengidap gangguan jiwa? Apa yang sebenarnya dia maksudkan?

Teka-teki mengenai kata-katanya yang tak kumengerti, akhirnya sedikit terkuak beberapa bulan kemudian saat perempuan itu menghilang secara tiba-tiba. Desas-desus bahwa perempuan itu bersekutu dengan seekor naga menyeruak di seantero kota. Orang-orang menanggapinya dengan rasa marah, resah dan gelisah. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana bisa perempuan itu bersekutu dengan makhluk jahat di lingkungan tempat tinggal mereka dan dekat dengan anak-anak mereka. Mengancam kehidupan mereka. 

“Kulitnya yang keemasaan, kepergiannya yang tiba-tiba. Dan hidupnya.”
“Bagaimana hidupnya?”
“Orang-orang yang bersekutu dengan Naga, kehidupan mereka tidak akan pernah lagi menjadi miliknya. Ada kehidupan lain. Kau akan mengerti saat waktunya tiba,” ujar seorang perempuan tua yang duduk disampingku. 

Dan benar saja, saat waktu itu tiba aku melihatnya kembali ke kota. Kulitnya semakin keemasaan dan hidupnya tak lagi sama. Saat bertemu dengannya aku tak sanggup menanyakan hal mengerikan apa yang telah menimpanya. Semua orang di kota menghakimi takdirnya. Dia kehilangan banyak hal. Orang-orang memusuhi dan menghinanya dan dia kehilangan kehidupan sosialnya. Dia hanya punya kehidupannya yang lain yang diberikan Sang Naga padanya.

“Semuanya sudah terlambat. Aku tidak lagi ingin menjadi udara. Ketika aku melihat kedua mata ini, aku tahu bahwa aku telah kehilangan hidupku. Aku hanya harus kuat sampai waktuku tiba. ” ujarnya sendu sambil memperlihatkan seorang anak laki-laki kecil yang kulitnya keemasan seperti dirinya. Saat itu aku langsung mengerti kemana arah pembicaraan ini bermuara. Kemunculannya seperti potongan puzzle yang melengkapi percakapan kami dulu. Aku takkan sanggup bersekutu dengan seekor naga. Aku tidak ingin kehilangan hidupku. Aku tidak ingin seperti dia.