Dari Bohemian Hingga Serigala

Saturday, August 17, 2019

Apakah kamu pernah merasa, “Kok hidup gue gini-gini aja, ya?” ketika di suatu pagi yang cerah kamu terbangun dari tidur lelapmu dan tiba-tiba saja kamu teringat jika sebagian besar waktumu dihabiskan untuk bekerja. Sementara di belahan dunia yang lain, orang-orang seusiamu nampaknya sedang menikmati hidup yang lebih berwarna.

Seketika kamu merasa pilu, bertanya-tanya dalam hati apa yang salah dengan hidupmu. “Ngebosenin banget deh hidup gue! Kayak nggak ada warnanya gitu. Kerja -  rapat – lembur - abis gitu pulang ke rumah. Besoknya gitu lagi. Bosenin banget nggak sih hidup gue?” Mungkin itulah kata-kata frustasi yang seringkali kamu lontarkan pada diri sendiri.

Perasaan bosan itu nyatanya semakin menjadi-jadi tatkla kamu membuka pintu lemari dan melihat deretan baju-bajumu yang di dominasi warna-warna kelam serupa hitam, coklat dan abu-abu. Dengan pola garis-garis dan motif kotak-kotak serta sederet kain batik yang belum sempat dijahit. Hampir semua isinya adalah baju kerja. Baju dinasmu yang warnanya itu-itu saja.

Pernah mengalaminya? Kamu menganggukan kepala. Sama dong! Saya juga. Tapi jangan khawatir! Kebosananmu akan segera berakhir. Karena saya akan memberi tahu kamu solusinya.

Kalau kamu pernah dengar quote yang bilang, “You are what you wear” bisa jadi ada benarnya juga. Bisa jadi inilah momen dimana kamu harus mengubah gaya berpakaianmu. Lewat tulisan ini saya ingin berbagi tentang pemikiran saya tersebut.

Dari semua gaya berpakaian, saya paling suka dengan gaya bohemian. Selain eksentrik, gaya ini juga sangat individualis. Karena bergantung pada kreatifitas dan tingkat percaya diri pemakainya. Tidak ada aturan baku untuk mengaplikasikan gaya bohemian ini. Sehingga setiap orang bisa menampilkan gaya bohemian sesuai dengan karakter dan keinginannya masing-masing.

Sedikit sejarah tentang bohemian, gaya berpakaian ini booming pada tahun 1950-an ketika banyak dipakai oleh para traveler dunia. Gaya bohemian terinspirasi dari kaum gypsy yang tinggal secara nomaden di Eropa Timur (diperkirakan berasal dari orang-orang India atau Spanyol yang bermigrasi ke sana).

Singkat cerita, dikarenakan iklim yang dingin dan kebiasaan hidup mereka yang nomaden di alam liar, orang-orang gypsy di sana telah terbiasa memakai baju yang berlapis-lapis untuk menahan hawa dingin tersebut, sehingga terciptalah gaya yang “sangat” berbeda dari masyarakat pada umumnya - gaya yang terlihat sangat eksentrik, anti-mainstream, penuh warna namun tidak urakan. Malah, gaya ini lebih terkesan artsy dan unik karena banyak memadukan motif etnik dan pola kain yang rumit.

Selain untuk menahan hawa dingin, penggunaan baju yang dipakai berlapis-lapis ini juga dimaksudkan untuk mengurangi beban bawaan mereka ketika berpindah-pindah. Sehingga menambah nilai kepraktisan.

Gaya bohemian yang terinspirasi dari kaum gypsy ini biasanya didominasi oleh rok-rok lebar dengan warna-warna yang cerah, baju longgar berenda, motif-motif tribal, kalung etnik, turban dan bandana. Sehingga bisa dipakai untuk menyamarkan bentuk tubuh pada wanita yang kurus disamping memberikan kesan “kreatif sekaligus misterius" pada pemakainya. Selain itu, pemakaian sandal gladiator juga lazim pada gaya berpakaian ini.

Selain sandal gladiator, gaya bohemian juga tak jarang memadu-padankan dress dengan sepatu boots. Penggunaan sepatu boots seperti ankle boots akan memberikan kesan yang sedikit edgy atau maskulin pada tampilan bohemian namun tidak sampai merusak kesan feminim yang ada pada dress.

Sangat berbeda jika kamu memadu-padankan dress dengan sepatu yang lain, semisal: high-heels, flat shoes, stiletto apalagi sandal. Kamu tidak akan mendapatkan kesan kombinasi tampilan maskulin-feminin, kreatif dan tangguh yang sempurna seperti halnya jika kamu memadu-padankan dress dengan sepatu boots seperti pada gaya bohemian.

Bagi saya yang kurang suka mengikuti trend dan lebih memilih untuk mengikuti aturan saya sendiri, tentu saja gaya bohemian ini adalah solusi. Apalagi, saya juga kurang menyukai gambaran perempuan polos atau juga sebaliknya – perempuan yang terlalu tomboy urakan seperti laki-laki; yang seringkali tergambar jelas pada gaya berpakaian dengan unsur feminitas atau maskulinitas yang kuat. Seperti pada gaya berpakaian shabby chic yang penuh bunga-bunga atau sporty bak pemain sepak bola.

Gaya bohemian tidak seperti itu. Gaya ini justru memadu-padankan feminitas dan maskulinitas tersebut menjadi bentuk yang unik dan kreatif. Saya bisa terlihat feminim sekaligus juga edgy dalam waktu yang bersamaan ketika mengaplikasikan gaya bohemian. Hal ini sesuai dengan ekspresi alami jiwa saya. Dan kehendak saya pribadi. Seperti ada sebuah kontradiksi dalam satu tubuh. Seolah-olah kamu bisa melihat perpaduan dua karakter yang bertolak-belakang di dalamnya.

Oleh karena itu, ketika kamu merasa butuh untuk meningkatkan rasa percaya diri dan mengasah kreatifitas, gaya bohemian ini bisa kamu coba. Bagi yang tidak terbiasa dengan gaya ini, mungkin pada awalnya akan merasa canggung dan risih karena gaya ini cenderung menjadikan si pemakai pusat perhatian akibat warna-warna dan motifnya yang stand out di keramaian. Tapi, anggap saja itu sebagai bagian dari proses mengekspresikan diri. Bahkan mie instan yang instan saja tidak pernah benar-benar instan. Tetap butuh proses untuk bisa dimakan.

Satu hal yang paling saya suka dari gaya bohemian adalah aksesoriesnya. Perpaduan motif etnik yang unik dengan kombinasi batu-batuan berwarna bold, material kayu serta bulu-bulu unggas pada aksesoris bertema bohemian menambah kesan personal dan tradisional saat dipakai. Sehingga membuat pemakainya terlihat membumi namun juga imajinatif dalam waktu yang bersamaan. Dan karena gaya bohemian melampaui batasan standar berpakaian pada umumnya alias “semau gue,” pemakaian aksesorisnya pun menjadi tidak dibatasi.

Seorang bohemian tetap bisa terlihat “cantik” meskipun mengenakan lebih dari 5 cincin di jarinya. Satu jari bisa dipasangi 2 hingga 3 cincin sekaligus. Tentunya dengan bentuk cincin yang lagi-lagi anti-mainstream.

Sebagai seorang manusia yang suka dengan segala sesuatu yang bermakna. Saya ingin motif cincin bohemian saya juga bermakna. Misalnya, saya dulu ingin punya cincin bohemian berbentuk kepala gajah atau (Ganesha) yang diukir, atau kalung dengan liontin bertuliskan wolf (serigala). Sehingga jika ada yang bertanya saya bisa menjelaskan maknanya bagi saya secara pribadi. Tidak semata-mata karena alasan lucu atau sedang booming saja.

Kenapa kepala gajah atau Ganesha, misalnya, karena saya suka ilmu pengetahuan maka ini ada hubungannya dengan Ganesha. Ganesha sendiri adalah salah satu dewa ilmu pengetahuan maka saya jadikan gambarnya sebagai ukiran cincin di jari saya. Supaya saya selalu ingat untuk cinta ilmu pengetahuan dan cinta belajar seumur hidup saya.

Atau misalnya, kenapa saya ingin kalung bertuliskan wolf alih-alih kalung yang bertuliskan nama saya seperti orang-orang kebanyakan, jawabannya adalah karena saya sangat mengagumi kepemimpinan seekor serigala di dalam kelompoknya.

Selama ini, serigala seringkali dipandang negatif. Bahkan dikaitkan dengan domba. Maksud saya, dikata-katain serigala berbulu domba (Haha, maap ini random). Padahal, ada hal lain yang lebih keren yang bisa kita bahas dari si serigala ini.

Ketika seekor serigala menjadi pemimpin dalam kelompoknya dan mereka akan bermigrasi, maka sang pemimpin akan mengarahkan tiga serigala yang tertua, cacat, sakit dan terluka untuk berada di barisan terdepan. Alasannya, ialah agar serigala-serigala “bermasalah” tersebut tidak tertinggal.

Jika mereka disimpan di barisan belakang, niscaya mereka tidak akan sanggup mengikuti langkah kaki rombongannya yang mengakibatkan mereka bisa tertinggal dan mati terpisah dari rombongan.

Lima serigala di belakang barisan serigala yang sakit adalah para serigala yang terkuat di kelompoknya, serigala-serigala ini diarahkan oleh sang ketua untuk bertugas mengamankan bagian depan jika terjadi serangan.

Lima serigala terakhir di bagian belakang, juga adalah serigala-serigala yang terkuat di kelompoknya yang lagi-lagi diarahkan oleh sang ketua. Serigala-serigala ini bertugas untuk mengamankan bagian tengah dan lini belakang jika terjadi serangan.

Satu serigala yang terpisah agak jauh dari rombongan dan berada paling belakang, dialah sang ketua. Dia mengawasi rombongan dan situasi tempat yang dilaluinya. Menjadi pembawa pesan bahaya bagi kelompoknya. Jika ada serangan, sang ketualah yang akan bergerak kesana-kemari untuk mengkoordinir pasukannya. Dia akan melindungi semua anggota kelompoknya dan memastikan seluruh anggota rombongannya selamat sampai di tujuan. 

Keren banget, kan?

That is called the leadership. You keep the whole pack ‘alived.’

Dan sebenarnya, masih banyak lagi aksesoris anti-mainstream yang ingin saya buat untuk koleksi gaya bohemian ini. Tidak hanya sebuah cincin yang berukir Ganesha atau kalung bertuliskan serigala saja. Tapi masih banyak lagi. Tentu saja aksesorisnya harus mengandung nilai-nilai personal dan sentimental berdasarkan pengalaman pribadi di dalam hidup saya.

Teknik Menulis Show Don't Tell

Saturday, July 6, 2019

Seorang penulis adalah pengamat. Maka, tulisannya harus menggambarkan hal-hal yang dia amati. Mengamati erat kaitannya dengan menggambarkan sebuah detail. Apalagi jika kita akan menuliskan hasil pengamatan tersebut ke dalam sebuah cerita. Detail yang wajar dan alami sangat diperlukan.

Ketika sebuah tulisan bisa merangsang dan melibatkan indera sang pembaca, maka tulisan itu akan mendorong mereka untuk membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam cerita. Tidak sedikit pembaca yang pada akhirnya menangis, tertawa atau bahkan merinding tatkala membaca sebuah tulisan.

Tapi, bagaimana jika sebuah tulisan hanya menerangkan sesuatu tanpa menuliskan detail yang cukup bagi para pembaca? Pastinya tulisan tersebut akan terasa hambar dan membosankan. Sehingga membuat orang malas untuk membacanya.

Perhatikan contoh di bawah ini:

Sanem yang sedang menonton televisi bergegas ke dapur sesaat setelah sang ibu memanggilnya. Sesampainya di dapur, Sanem diminta ibunya memasak sepanci besar sayur sop. Sementara itu sang ibu mengaduk kaldu. Tak lama kemudian, hand phone yang diletakannya di atas kulkas berbunyi. Sanem mengangkat teleponnya dan berbicara dengan seseorang.
"Baik, aku segera kesana," ujar Sanem sambil menutup telepon.
"Siapa yang meneleponmu?" tanya ibunya.
"Mr. Jan, Bu. Aku diminta ke kantor sekarang," ujar Sanem.

Perhatikan kembali contoh di bawah ini:

Suara nyaring Sang ibu yang memanggilnya, membuat Sanem yang tengah menonton TV terpaksa mengecilkan volume suara di televisi. Berusaha mendengar dengan jelas kata-kata ibunya. Yang ternyata meminta Sanem untuk membantunya memasak di dapur.

Sanem cepat-cepat mematikan televisi yang ditontonnya, remotenya dia simpan begitu saja di atas meja dan segera beranjak dari kursi. Aroma kaldu ayam semakin menyeruak tatkala Sanem tiba di dapur.

Sang ibu menunjuk tumpukan wortel dan buncis yang terletak di atas meja. Kemudian memberi Sanem sebuah pisau tajam untuk memotongnya menjadi ukuran yang lebih kecil. Sementara dirinya kembali sibuk dengan kegiatan mengaduk kaldu ayam di dalam panci. 

Buih-buihnya yang berwarna kuning mulai bermunculan. Aroma kaldu ayam semakin menyeruak memenuhi udara. Suasana hening saat itu. Pikiran Sanem berkelana pada banyak hal. Sang ibu juga tidak mengajaknya berbicara. Sibuk mengaduk kaldu di dalam panci.

Dalam suasana hening yang demikian, tiba-tiba handphone Sanem berbunyi. Gadis itu pun tersadar dari lamunannya. Dan langsung menyimpan begitu saja pisau yang sedang digunakannya untuk memotong wortel.

Cepat-cepat Sanem berjalan ke arah kulkas untuk meraih handphone-nya yang terletak di sana sambil diiringi tatapan mata ibunya. Gadis itu berbicara dengan nada suara yang sengaja dipelankan pada seseorang di sebrang telepon.

“Baik. Aku akan segera kesana,” ujarnya sambil menutup telepon. Wajah Sanem berubah murung. Lalu dengan gusar kembali ke meja.

“Siapa yang meneleponmu?” tanya ibunya curiga karena Sanem berbicara dengan nada suara tidak seperti biasanya. Sanem terdiam sesaat.

“Mr. Jan, Bu,“ katanya. “Aku diminta ke kantor sekarang.”

Bagaimana perasaanmu saat membaca contoh tulisan yang kedua? Tentu saja kamu pasti merasa bahwa tulisan di contoh yang kedua lebih hidup daripada tulisan di contoh yang pertama. Tulisan ini memang dituliskan dengan menggunakan teknik penulisan show don’t tell. Sehingga indera para pembaca dilibatkan untuk membayangkan situasi dalam cerita.

Bayangkan bila seorang penulis menuliskan sebagian besar isi ceritanya dengan menggunakan gaya penulisan pertama. Mungkin orang-orang akan langsung merasa bosan meskipun baru membaca dua tiga halaman bukunya. Lain halnya jika penulis menuliskannya dengan menggunakan teknik penulisan show don’t tell. 

Situasi yang dijelaskan dengan singkat dan kurang detail di contoh pertama, ditambahkan penjelasan yang lebih banyak di contoh yang kedua. Sehingga pembaca tidak hanya diajak untuk sekedar tahu tetapi juga untuk memahami dan merasakan situasi yang sedang terjadi dalam cerita. 

Bagaimana aroma sayur sop menyeruak dalam udara, suasana hening ketika memasak di ruang dapur bersama ibu, dan perasaan curiga yang muncul dalam benak si ibu tatkala melihat sikap anaknya yang berubah saat menerima telepon. Itulah yang dinamakan dengan teknik menulis show don’t tell.

Memang tidak mudah untuk menulis menggunakan teknik show don’t tell. Apalagi jika kita jarang berinteraksi dengan berbagai macam manusia sebagai sumber pengetahuan untuk cerita yang akan kita tulis. Selain rajin berinteraksi, kunci untuk menulis menggunakan teknik show don’t tell adalah rajin mengamati.

Perjamuan Luka

Thursday, May 16, 2019


Hari ini saya sedang menunggu seorang laki-laki. Bisa jadi laki-laki itu adalah kamu, kamu atau kamu. Dengarkan baik-baik penjelasan saya ini. Saya adalah seorang wanita yang mendapatkan kesenangan dari berpindah ke satu lelaki ke lelaki lain untuk melukai hati laki-laki.

Ada kepuasan tersendiri di saat saya pergi meninggalkan mereka yang berdarah-darah mengharap cinta saya. Dulu saya tidak begitu. Tapi seorang laki-laki yang saya cintailah yang mengajarkannya kepada saya. Di saat saya sedang cinta-cintanya, dia malah tega pergi meninggalkan saya yang berurai air mata. Dia pergi bersama perempuan lain.

Sekarang saya melakukan hal yang sama kepada lelaki lain. Sebagaimana dulu saya diperlakukan hal yang serupa oleh laki-laki yang saya cintai. Entah berapa puluh laki-laki yang telah melabuhkan cintanya kepada saya dan berakhir kecewa. Saya tertawa puas melihat mereka. Memohon-mohon dan mengiba-iba di bawah kaki saya. Mengharapkan cinta saya.

Sayangnya, hanya perempuan bodoh yang akan luluh hatinya oleh belas kasihan setelah dia pernah dipermainkan. Saya bahagia menjalani peran baru saya. Saya ingin terus mencari dan melukai lebih banyak lagi laki-laki.

Sampai pada suatu hari saya melihat seseorang yang bersandar pada anjungan sebuah kapal yang menepi di pantai. Saya terkesima dengan senyum laki-laki itu dan juga dengan ombak badai di rambutnya. Hidupnya berbinar dan saya ingin masuk terlibat petualangan di dalamnya.

Untuk pertama kalinya, keinginan menyakiti hati laki-laki sirna. Berganti keinginan untuk memilikinya.

Terserah apa kata orang. Saat itu saya sedang buta. Maka saya putuskan untuk nekat mengirimi laki-laki itu sebuah surat cinta.

Untukmu,
seseorang yang seperti matahari. 
Cahayanya dekat tetapi menjangkaunya nampak begitu jauh.

Aku jatuh cinta padamu. Mungkin ini hanya bias semata. Sebuah kesimpulan yang terlalu cepat dibuat. Tapi aku harap kau menerima cintaku. Terimalah cintaku ini dengan hidupmu yang beriak. Aku terlampau letih dalam kesunyian.

(Aku)
Perempuan sunyi yang menikahi puisi

Begitulah surat itu saya tulis. Dan beberapa hari kemudian laki-laki itu membalas surat cinta saya.

Kau tahu apa isinya?

Mengerikan.

Dia bilang dia menolak cinta saya. Tapi dia menawarkan sesuatu yang lebih spesial yang bisa dia berikan kepada saya secara cuma-cuma. Secara gratis.

Hmm... Apa dia pikir saya membutuhkan sesuatu dari dia selain cinta? Padahal yang saya inginkan hanyalah cinta agar saya bahagia. Baiklah. Saya menerima tawarannya. Saya masuk. Terjebak dalam permainannya.

Saya turuti semua keinginannya dan saya mereguk kesenangan yang semu bersamanya. Saya berharap saya bahagia. Meskipun dalam hati diam-diam saya menangis. Saya tetap tak bahagia.

Maka malam ini saya putuskan untuk membunuhnya; saja.

Saya ajak laki-laki itu bertemu dengan sebelumnya mengasah pisau dapur yang saya masukan ke dalam tas tangan saya. Saya akan menunggunya di taman.

Jangan heran apabila besok pagi kalian mendengar berita bahwa ada seorang laki-laki muda terbaring tewas di kamar hotel dengan pisau dapur menancap di dadanya.

Ssstt.... laki-laki itu datang. Dia berjalan menghampiri saya. Sebentar lagi dia akan merasakan balasannya. Karena hari ini saya sudah lelah - berpura-pura bahagia.


Bandung, Dini Hari

Pukul 02.02

Ketika Penulis Mencintaimu

Wednesday, May 15, 2019



Ketika penulis mencintaimu maka berhati-hatilah, karena cintanya abadi. Dia akan menulis namamu dengan tinta emas dan mengabadikannya dalam tulisan. 

Ketika penulis mencintaimu maka berhati-hatilah, dia merekam segala tingkah laku dan kata-kata. Menjadikannya sumber inspirasi.

Ketika penulis mencintaimu maka berhati-hatilah, karena dia ingat semua hal detail tentangmu dari caramu makan hingga caramu berjalan. Semua tentangmu akan dia tulis dengan rapi. Tidak ada satu pun yang bisa kau sembunyikan darinya. 

Ketika penulis mencintaimu, dia akan berimajinasi. Dia merancang skenario-skenario indah yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. 

Ketika penulis mencintaimu, hujan dan malam hari menjadi waktu favoritnya. Karena dia meyakini hujan bisa membawa roh orang yang dipikirkannya. Dia menangkap rasa dan nuansa yang sama yang mengingatkannya padamu. 

Ketika penulis mencintaimu, maka waktu seolah-olah membeku. Kau akan melihatnya mengabadikan momen hidupnya denganmu dalam jalinan kalimat dan puisi.

Ketika penulis mencintaimu, dia akan memahami dirimu. Setiap gestur dan ekspresi wajah yang kau perlihatkan padanya menjadi penting. Dia akan menerjemahkan setiap perubahan kecil dalam dirimu ke dalam kode-kode yang hanya dipahami oleh dirinya. Dalam tiap-tiap tulisan, artikel dan juga hatinya.

Ketika penulis mencintaimu, dia akan menghilang sejenak. Dia menuliskan satu-persatu hal menarik yang dia temukan ada padamu. Dan itu belum cukup.

Ketika penulis mencintaimu, dia akan diam. Tapi pikirannya memutar skenario awal pertemuanmu dengannya seperti dalam film-film roman. 

Ketika penulis mencintaimu, sesekali dia akan melihat hidup dari cara pandangmu. Dia akan berusaha memahami motif terdalam kau melakukan sesuatu. 

Ketika penulis mencintaimu, maka berhati-hatilah. Hidupmu akan berubah. Kau takkan pernah merasa dicintai sedalam ini sebelumnya oleh siapapun. Dan dia akan selalu punya cara untuk menantangmu menjadi orang yang lebih baik lagi.  

Ketika penulis mencintaimu, mohon jangan kecewakan dirinya. Karena dia tidak akan pernah lagi mencintai siapapun dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan padamu. 

Ketika penulis mencintaimu, maka sekali lagi berhati-hatilah. 

Penulis adalah obsesif jeli, dia akan menangkap segala hal yang menarik perhatiannya. 

Dan itu adalah kamu.

Kenapa Orang Tidak Suka Membaca



Salah satu alasan terbesar kenapa kita harus membaca buku adalah untuk menambah ilmu pengetahuan. Tapi sayangnya, masih banyak orang yang tidak suka membaca buku bahkan membencinya. Selain itu masih banyak pula manusia-manusia di dunia ini yang meremehkan orang-orang yang hobinya membaca. Padahal membaca memberikan kita banyak keuntungan. Keuntungan membaca selain untuk mendapatkan pengetahuan juga untuk melatih kepekaan dan rasa empati. 

Di zaman yang serba individualis ini, orang-orang dengan sikap empati sudah semakin langka, tergerus dan tergantikan oleh orang-orang dengan sikap materialistis, narsis dan apatis. Oleh karena itu, sebagai orang yang concern pada dunia pendidikan dan tertarik pada literasi, saya miris sekali ketika melihat generasi muda Indonesia saat ini terutama para siswa usia sekolah dasar hingga menengah, yang minat bacanya hanya bertahan di level itu-itu saja; sebatas membaca iklan, pesan singkat dan berita gosip. Tidak heran, jika tingkat literasi Indonesia di tahun 2018 terpuruk di peringkat 62 dari 70 negara berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PISA. Dan kemerosotan mental banyak terjadi dimana-mana yang diakibatkan karena kurangnya membaca.

Dari berbagai macam alasan yang melatar-belakangi keengganan orang-orang untuk membaca, sebenarnya ada tiga alasan utama yang membuat seseorang tidak suka membaca.

1. Membaca Nampak Tidak Keren

Sudah sejak lama kegiatan membaca diasosiasikan dengan sesuatu yang membosankan karena cukup duduk sendirian dan konsentrasi kamu sudah bisa membaca. Sementara itu kita tahu bahwa dunia tempat kita tinggal ini di dominasi oleh orang-orang ekstrovert; manusia-manusia petualang haus perhatian yang lebih senang mengobrol dan traveling alih-alih membaca.

Sehingga wajar saja jika banyak orang di luaran sana menghakimi kegiatan membaca buku sebagai aktivitas yang membosankan dan tidak mengasyikan karena memang presentase orang-orang yang senang membaca itu sangat langka dibandingkan keseluruhan penduduk dunia.

Selain itu hal ini juga diperparah dengan munculnya sebutan kutu buku yang dialamatkan kepada orang-orang yang senang membaca tersebut. Sebutan ini seringkali bukan ditujukan sebagai apresiasi pada yang menerima tetapi sebagai sarana mengejek dan mencela yang semakin diperparah dengan image kutu buku dalam tontonan yang digambarkan tidak menarik. 

Dua alasan ini pada akhirnya menumbuhkan mindset pada sebagian besar masyarakat Indonesia yang penduduknya masih awam akan manfaat literasi bahwa membaca buku itu tidak keren sama sekali. Hanya orang-orang yang kurang gaul dan tidak punya banyak teman yang melakukannya. Padahal, banyak orang-orang hebat di dunia ini dari mulai ilmuwan hingga pengusaha adalah para pembaca buku yang sangat akut.

2. Materi Bacaan Yang Tidak Menarik

Bagi orang yang awam akan literasi, menemukan materi bacaan yang menarik itu bisa sangat penting karena jika bacaannya menarik diharapkan hal tersebut mampu menumbuhkan motivasi untuk membaca buku lebih banyak lagi. Sayangnya, kesempatan ini seringkali disia-siakan terutama oleh pemerintah. 

Pemerintah seolah hanya aktif menyerukan pada sekolah-sekolah agar siswanya melek literasi dengan mengadakan program PPK (15 menit membaca sebelum belajar) dan memperbanyak kuantitas buku-buku pengetahuan dan buku-buku pengarang Indonesia zaman dulu tanpa mempertimbangkan bahwa anak-anak usia tertentu mempunyai topik-topik bacaan khusus yang mereka sukai seperti novel remaja (teenlit) yang sedang update dan jumlah kata yang mampu mereka baca dalam setiap bagiannya dalam rentang waktu tertentu. 

Berapa banyak masyarakat Indonesia yang selama hidupnya hanya sebatas pernah membaca novel klasik Sitti Nurbaya atau Salah Asuhan yang cukup berat itu pun hanya sekilas ketika di bangku SMA dan karena ditugaskan oleh guru Bahasa Indonesia. Yang ujung-ujungnya tetap membuat mereka tidak tertarik untuk membaca dan malah mengasosiasikan membaca sebagai kegiatan yang tidak menyenangkan. 

Buku-buku di perpustakaan yang tidak update dengan perkembangan zaman, jumlah kata yang terlalu banyak di setiap bagiannya serta jenis bacaan yang hanya itu-itu saja ibarat air yang memadamkan minat baca anak-anak Indonesia yang masih perlu untuk terus dimotivasi dengan bacaan-bacaan yang menarik. 

Saya tidak mengatakan bahwa karya sastra klasik Indonesia seperti Sitti Nurbaya dan Salah Asuhan tidak menarik. Kedua buku itu justru sangat bagus dan menarik dan anak-anak harus membacanya. Tapi, anak-anak juga perlu diperkenalkan dengan jenis buku lain yang update dengan perkembangan zaman. 

Mencontoh pada negara-negara maju di Eropa sana, anak-anak usia sekolah sedari awal sudah diperkenalkan dengan buku-buku klasik dan populer yang sedang update dari negaranya dan juga luar negeri yang sudah disadur ulang oleh pemerintah dimana jumlah kata per-bab-nya disesuaikan dengan jenjang pendidikan sang anak. Selain itu, di setiap chapter disisipkan pertanyaan-pertanyaan terkait bab yang mereka baca dan harus mereka jawab. Sehingga guru yang mengajar di kelas bisa memastikan bahwa anak-anak yang melaksanakan program PPK memang benar-benar membaca bukan hanya sekedar membolak-balik halaman buku. 

Seharusnya Indonesia juga seperti itu. Pemerintah seyogyanya menyiapkan tim untuk menyadur buku-buku klasik dan populer dalam dan luar negeri yang jumlah kata di setiap bab dalam buku yang disadur disesuaikan dengan rentang usia, waktu dan pendidikan anak. Lalu menyebarluaskan buku-buku saduran tersebut ke sekolah-sekolah sebagai fasilitas untuk menunjang program PPK melek literasi dimana program PPK yang saat ini digalakan masih mengandalkan para siswa untuk membawa buku masing-masing supaya diganti jadi difasilitasi oleh sekolah. Agar tidak ada lagi anak yang beralasan tidak membawa buku saat program PPK dilaksanakan.

3. Kemampuan Membaca Yang Kurang

Orang-orang dengan kemampuan membaca yang kurang dan jarang dilatih akan sulit untuk menikmati kegiatan membaca buku-buku bagus yang berkualitas karena membaca itu menuntut konsentrasi. Ketika orang-orang ini membaca dengan tempo yang lambat demi memahami alur atau pesan yang ingin disampaikan penulis, hal tersebut bisa mengakibatkan mereka frustasi. Apalagi jika ditambah dengan bahan bacaan yang tidak menarik. 

Tentunya hal ini bisa membuat mereka merasa tidak kompeten. Sehingga bagi orang-orang ini membaca adalah kegiatan yang membuang-buang waktu saja dan tidak menyenangkan. Oleh karena itu mereka jadi enggan untuk membaca.

Itulah menurut saya 3 alasan utama yang sebenarnya melatar-belakangi seseorang malas membaca buku. Padahal orang-orang yang membaca buku itu keren lho. Apalagi jika dia seorang perempuan. Pasti masih banyak yang belum pernah baca kutipan bahwa The most dangerous creature on Earth is a well-read woman! Bukan pria apalagi makhluk mitologi. 

Kok bisa gitu? Bisa dong! Karena a well read woman bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak suka membaca. Tengok saja sejarah, wanita-wanita dengan insting kecerdasan yang diasah dari hobi membaca bahkan bisa menumbangkan sebuah negara, menjebloskan orang ke penjara bahkan menghancurkan karier dan kehidupan seseorang.

Ngobrolin 4 Tempramen Kepribadian

Tuesday, May 14, 2019

Temprament

Bagi saya yang setuju dengan kata-kata Mr. Darcy yang bilang kalau, “People themselves alter so much, that there is something to be observed in them forever,” belajar untuk mendalami seluk-beluk persoalan yang menyangkut jiwa-jiwa manusia selalu membuat saya tertarik. Maka dari itu, sekitar bulan Maret yang lalu saya memutuskan untuk mengikuti seminar psikologi di salah satu hotel di Bandung, tepatnya di Setiabudi. 

Saya rela bela-belain nabung dan jajan hemat demi bisa dapetin ilmu di seminar psikologi tersebut karena tiket masuknya lumayan mahal. Dan setelah ikut seminarnya, sekarang saya ingin share sebagian ilmu yang saya dapatkan disana. Meskipun nggak mungkin semuanya ya karena bahasannya banyak banget.

Mengingat psikologi itu ternyata ilmu yang sangat penting dan berdampak pada banyak hal dalam kehidupan, saya mungkin bakalan kasih calon pasangan saya nilai plus ketika dia melek bahasan tersebut. (Maap, curhat.. hehehe…)

Bagi sebagian orang mungkin kalian udah nggak asing lagi dengan kata-kata koleris, sanguinis, melankolis dan phlegmatis. Itu adalah nama empat tempramen yang dipopulerkan pertama kali oleh Aristoteles. Keempat tempramen tersebut membentuk perilaku dan sikap yang berbeda-beda pada masing-masing individu.

Koleris misalnya dicirikan dengan tipe manusia yang galak, tegas dan to the point. Sementara sanguin dicirikan dengan tipe manusia yang ceria, supel dan suka menggampangkan sesuatu namun sulit menyimpan rahasia. Berbeda lagi dengan manusia tipe melankolis yang berkebalikan dari si sanguin dimana manusia bertipe ini cenderung perfeksionis, murung dan pendiam namun sangat cerdas dan analitis. Dan tipe terakhir adalah si phlegmatis yang menurut psikolog di seminar kemaren sih katanya adalah tipe manusia yang menjadi jodohnya semua orang. (Cieee….!!!)

Kalau saya ingat-ingat lagi pengalaman hidup diri sendiri, ternyata saya yang melankolis ini memang paling nyambung berinteraksi dengan orang-orang yang tipenya phlegmatis. Memang bener kata si psikolog, tipe phlegmatis adalah jodohnya semua orang karena dia cocok dengan semua tipe kepribadian. Sangat pengertian, santai namun cukup humoris. Katanya hampir tidak ada pasangan yang salah satunya bertipe phlegmatis apalagi yang dua-duanya tipe phlegmatis yang bertengkar atau konsultasi ke psikolog.

Sementara itu, orang-orang dengan tipe kepribadian koleris sangat tidak disarankan memilih pasangan diluar tipe kepribadian phlegmatis. Bayangkan tokoh perempuan Hela dalam The Avengers; kakak kandung Thor yang tipenya koleris dominan berpasangan dengan Sule; komedian bertipe sanguin. Nggak cocoklah! Bisa-bisa Hela dibikin ngamuk dan kesel setiap hari. Alih-alih nanggepin lelucon pasangannya, mungkin Hela bakalan mengutuk Sule jadi batu. Atau misalnya bayangkan kembali tokoh Hela berpasangan dengan Thanos yang sama-sama koleris. Pasti dari dulu si Thor dan si Loki udah ngungsi ke Planet Bumi karena ada perang dunia di Asgard. Pasangan yang paling cocok untuk tipe koleris adalah tipe phlegmatis. Titik.

Terus gimana dengan tipe melankolis? Kalau yang saya tahu dari seminar kemarin sih, sangat tidak disarankan juga dengan tipe koleris. Karena koleris yang to the point akan sering menyinggung perasaan si melankolis yang sensitif. Misalnya:

Setelah sekian jam milih-milih baju di mall. Terus nyobain di ruang ganti.

Melankolis (Cewek) : “Yang, aku bagus nggak pakai baju yang ini?”
Koleris (Cowok) : “Nggak bagus. Kayak karung.” 

(Nggak niat nyinggung padahal. Cuman to the point)

Melankolis: “Oh..." 

(Dalem hati: Tega banget ya kamu ngehina selera aku...)

*Tersinggung berat– inget terus – berubah murung – dendam sampai kiamat* 

Namun, tidak seketat koleris dalam berpasangan melankolis masih bisa memilih pasangan tipe sanguin dengan syarat sifat sanguinnya tidak terlalu dominan.

Nah, untuk menentukan kalian tipe kepribadian apa secara sederhana, caranya sangat gampang. Cukup siapkan kertas HVS dan pulpen. Lalu penuhi kertas HVS tersebut dengan tulisan kalian (harus terisi hingga bawah) dalam waktu lima menit saja.

Orang-orang koleris akan menulis dengan tulisan yang tajam dan lumayan susah dibaca. Tulisan dengan huruf “b” yang cekung ke dalam. Tidak bulat sempurna.

Sementara orang-orang sanguin akan menulis huruf dengan gaya yang berbeda-beda. Misalnya: Paragraf pertama dia akan menulis dengan huruf arial, paragraf kedua dengan monotype corsiva dan paragraf ketiga dengan times new roman. Intinya, saat menulis orang-orang sanguin tidak konsisten pada satu gaya.

Sementara itu tulisan orang-orang melankolis cenderung berjarak cukup jauh antara satu kata dengan yang lainnya. Karena diantara tipe kepribadian yang lain, tipe melankolis adalah orang-orang yang membutuhkan “me time” paling banyak. Bahkan ketika nanti dia sudah menikah.

Yang terakhir adalah tulisan tipe kepribadian phlegmatis. Bisa dibilang tulisan tipe kepribadian ini adalah yang paling lucu dan rapi diantara tipe kepribadian yang lain. Jika orang-orang ini menulis hurup “b” atau “p” maka bulatannya akan cembung sempurna.

Kira-kira setelah kalian ikutin tes sederhana ini kalian tipe yang mana? Share di kolom komentar dong. Kita ngobrol.

Perempuan Yang Menginspirasi

Tuesday, April 2, 2019

googleimage.search
Hidup di dunia patriarki dengan masyarakat yang masih menggantungkan nasib anak perempuannya pada harta kekayaan laki-laki menjerumuskan para wanita ke dalam mental yang tidak mandiri. Sehingga tujuan hidup mereka saat ini hanya berpusat pada bagaimana caranya menggaet pria kaya agar bisa hidup sejahtera. Tanpa mereka sendiri berniat untuk mengembangkan potensi-potensi lain yang ada dalam dirinya karena yang paling penting adalah menjadi cantik. Fenomena miris ini tidak hanya terjadi di dunia nyata tetapi juga banyak terjadi di dalam alur cerita novel. Para perempuan selalu digambarkan sebagai damsel in distress alias makhluk-makhluk indah menawan tapi lemah tak berdaya yang hanya menunggu untuk diselamatkan laki-laki.

Saya sendiri kurang tertarik membaca novel apabila tokoh perempuannya galau, teraniaya atau baperan. Oleh karena itu, kebanyakan novel-novel roman yang saya baca pasti bergenre klasik. Karena biasanya tokoh perempuan dalam novel-novel klasik itu memiliki karakter yang tangguh, dewasa dan tidak berlebihan. Selain itu alasan lainnya adalah karena dalam roman klasik tokoh perempuannya selalu menang. 

Selama ini perempuan-perempuan tangguh dengan kecenderungan feminisme yang kuat selalu mendapatkan pandangan miring dari masyarakat. Salah satu yang menjadi pemicu munculnya stigma negatif ini adalah pemahaman masyarakat akan feminisme itu sendiri. Bagi banyak orang feminisme adalah menyama-ratakan antara laki-laki dengan perempuan. Sehingga feminisme banyak dibenci terutama oleh kaum pria karena dianggap memicu pemberontakan wanita kepadanya. Yang pada akhirnya menempatkan wanita-wanita tersebut ke dalam situasi yang tidak sesuai dengan kodrat mereka yaitu sebagai lawan laki-laki.

Intinya, feminisme yang banyak dipahami di dalam masyarakat selama ini adalah jika laki-laki sanggup mengangkat puluhan kilo beban maka perempuan juga harus bisa. Dan segala hal yang menempatkan perempuan menjadi sosok maskulin yang membuang kodratnya sebagai wanita yang lemah lembut dan santun. Padahal feminisme bukanlah persoalan fisik semata tetapi lebih kepada persoalan moral.

Jika dikaitkan dengan tokoh perempuan di dalam novel, nyatanya tidak banyak penulis yang mampu menggambarkan perempuan dengan prinsip-prinsip feminisme tanpa membuatnya terlihat seperti laki-laki. Dari novel-novel yang saya baca, hanya ada beberapa tokoh perempuan yang bisa pas sempurna mewakili feminisme dengan definisi yang sudah saya jelaskan di atas tadi. Diantaranya:

1. Elizabeth Bennet - Pride & Prejudice
Dia adalah tipikal perempuan yang mindset perilakunya setingkat lebih modern dibandingkan wanita-wanita pada zamannya (sekitar tahun 1800-an di Inggris) Jika perempuan-perempuan di zamannya sebagian besar tidak suka membaca karena lebih suka bersolek untuk mendapatkan pria kaya, Elizabeth justru berbeda karena dia senang membaca dan mampu mengungkapkan pendapatnya dengan cara yang baik, akurat sekaligus juga cerdas. Padahal di zaman itu perempuan yang mengungkapkan pendapat akan dianggap lancang dan tidak pantas karena hal tersebut bisa menodai citra perempuan pendiam yang banyak diminati laki-laki. Sehingga jika dilakukan akan memperkecil kesempatan mereka untuk bisa menikah.

Selain itu, Elizabeth juga merupakan tipikal perempuan tangguh dengan prinsip feminisme yang kuat. Meskipun sempat tersinggung karena dibilang "berpenampilan lumayan" oleh Mr. Darcy, Elizabeth membalasnya dengan cara yang elegan. Alih-alih menerima ajakan dansa pria itu pada suatu kesempatan berdansa, Elizabeth menolaknya (meskipun pria itu kaya raya dan dikagumi oleh banyak wanita) namun alih-alih tersinggung, penolakan tersebut justru mampu membuat Mr. Darcy terpesona pada kepribadian Elizabeth dan mereview kembali pendapatnya akan diri Elizabeth.

Jika Elizabeth masih hidup hingga sekarang mungkin dia bukan tipe perempuan yang akan ngomong "gapapa" tapi sebenernya dalam hati benci dan terluka. Bukan juga tipe perempuan yang kalau marah bakalan menghukum pasangannya dengan silent treatment. By the way, silent treatment itu jahat banget lho. Elizabeth adalah salah satu tokoh perempuan feminis favorit saya yang selain anggun dan elegan, dia juga ceria, cerdas dan berwawasan.

2. Scarlett O'Hara - Gone With The Wind
Kalau kamu pernah baca novel legendaris Gone with The Wind karangannya Margaret Mitchell pasti nggak asing lagi dengan gadis keras kepala, manja dan tebar pesona bernama Scarlett O'Hara. Mungkin awal baca novelnya kamu bakalan gemas dengan sifatnya yang egois dan penuh tipu daya. Tapi transformasi Scarlett menjadi perempuan dewasa yang tangguh akibat bencana perang betul-betul keren.

Disaat perempuan-perempuan lain banyak yang depresi dan hanya pasrah menunggu bala bantuan karena situasi perang, Scarlett berinisiatif memimpin kelompoknya untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Scarlett yang dulu manja sudah tiada. Berganti dengan perempuan yang tangguh dan dewasa. Selain itu, Scarlett juga tetap semangat meskipun harus membangun kembali bisnisnya dari nol yang sempat hancur akibat perang hingga akhirnya dia berhasil mendulang kesuksesan yang besar.

3. Anne Elliot - Persuasion
Disaat banyak perempuan yang gampang baper dan suka bergosip, Anne Elliot mampu menampilkan dirinya sebagai sosok perempuan dewasa yang pandai mengendalikan emosi. Kebayang nggak sih ketika setiap hari harus dihadapkan untuk melihat mantan pacar yang masih dicintai sedang dekat dan diisukan dengan perempuan lain? Apalagi tanpa satu pun orang yang bisa dijadikan teman bercerita. Pastinya sulit dan nggak mudah. Itulah juga yang dirasakan oleh Anne Elliot. Tapi kerennya Anne bisa melewatinya dengan sangat elegan!

Jika Anne Elliot benar-benar hidup di dunia nyata saat ini, pastilah dia bukan tipe perempuan yang akan update status galau di medsos untuk curhat. Bukan pula tipe perempuan yang suka ikut campur urusan orang lain. Semua perasaan pahitnya akan dia telan dan simpan sendiri. Cukuplah Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai tempat dia mengadu dan mengobati diri. Sifatnya yang tenang dan dewasa mampu membuat Anne terlihat lebih tangguh jika dibandingkan dengan adiknya yang hobi bergosip dan mengeluh untuk hal-hal kecil walaupun adiknya tersebut sudah lebih dulu menikah dan punya tiga orang anak.

Meskipun Anne terlihat biasa-biasa saja dengan hidupnya namun sebenarnya dia juga sedang menghadapi masalah yang nggak bisa dibilang gampang. Anne sendiri digambarkan sebagai sosok yang berperangai lembut dan sopan tapi juga dengan kecenderungan feminisme yang kuat pada prinsip hidupnya. Sifat teguh Anne pada prinsipnya ini tidak lantas membuatnya nampak kasar atau terkesan seperti laki-laki. Anne malah tetap bisa terlihat sebagai seorang feminist garis keras meskipun dia seutuhnya berperilaku lemah lembut sebagai seorang perempuan. Jadi, siapa bilang kalau mau jadi feminist itu harus kasar? Mungkin kamu belum pernah kenalan sama Anne Elliot.

Akhir kata semoga kamu-kamu yang masih hidup di dunia nyata bisa mengambil pelajaran lewat kisah hidup perempuan-perempuan tangguh ini. Be fabulous and stay strong! See you!