Ngobrolin Mereka

Wednesday, March 4, 2020


Nggak adil rasanya jika dulu saya sudah pernah membahas tiga karakter perempuan fiksi tanpa gantian membahas versi cowoknya. Berhubung saya lagi mood nulis, berikut adalah tiga cowok fiksi teratas yang bakalan saya jadikan bahan untuk tulisan kali ini. Siapa aja mereka?

Mr. Darcy – Novel Pride & Prejudice by Jane Austen

Kalau kalian pernah baca novel Pride & Prejudice karangannya Jane Austen pasti udah nggak asing lagi sama tokoh fiksi laki-laki bernama Fitzwilliam Darcy. Dia ini adalah tipikal laki-laki yang bisa bikin cewek-cewek langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Sekaligus juga patah hati dan kesal di waktu yang bersamaan. Soalnya nih; meskipun banyak yang naksir… Darcy itu sangat pemilih dan sulit untuk dibikin senang. 

Darcy juga tipikal orang yang sangat logis dan pintar. Makanya, Darcy ini sering banget sebal sama perempuan-perempuan genit yang terlalu giat menarik perhatiannya. Dan ketika Elizabeth Bennet datang, Darcy pun kena batunya. Si cowok sombong ini akhirnya menemukan partner yang sepadan dengan dia dalam hal kecerdasan. Yang membuat dirinya kepikiran dan akhirnya jatuh cinta.

“Sia-sia saja bagiku. Aku tak sanggup lagi menahan perasaanku. Ijinkanlah aku mengatakan kepadamu betapa aku mengagumi dan mencintaimu,” ucap Mr. Darcy pada Elizabeth.

Tapi, tapi... nggak mungkin dong ya; cuman gara-gara kalimat itu aja Mr. Darcy sampai punya banyak fans wanita garis keras di seantero dunia. Bahkan hingga beratus-ratus tahun lamanya masih tetap seperti itu. Ya, emang nggak mungkin sih kalau hanya sekedar mengandalkan kata-kata.

Apalah pula artinya kata-kata. Apalagi buat mendapatkan tipe perempuan cerdas kayak Elizabeth Bennet yang sama-sama pintar dan menggunakan logika.

Kalau kamu pernah baca novelnya; kamu pasti bakalan mengerti jika sikap Mr. Darcy nggak cuman sampai disitu aja. Tapi jauh lebih rumit dan menarik dibandingkan itu semua! Pikirkan gimana caranya laki-laki yang awalnya digambarkan menyebalkan bisa jadi tokoh fiksi paling legendaris idaman kaum hawa di seluruh dunia ini selama berabad-abad.

Kalau kalian pernah mencoba googling dan iseng-iseng cari namanya, ternyata banyak banget orang-orang di dunia ini yang membahas tentang karakter Mr. Darcy tersebut. Berikut juga dengan sejumlah alasan kenapa laki-laki itu bisa kelihatan atraktif banget di mata perempuan.

Terlepas dari sebagian besar orang-orang yang ngefans sama Mr. Darcy karena dia menampilkan kesan cowok dingin yang misterius, saya pribadi malah merasa sudah cukup dengan tipe laki-laki yang modelnya seperti itu. Seringnya, saat kembali ke dunia nyata saya justru malah banyak ketipu sama laki-laki yang eksteriornya demikian. Kirain sebelas-dua belas sama Mr. Darcy dalam tingkat kemenawanan dan kecerdasan. Taunya emang tipikal cowok bingung yang nggak tau mau ngomong apa. Nggak heran kalau pada diem. Dan diem. Dan diem. (Hehehee...)

Saya justru lebih tertarik sama Mr. Darcy karena dia punya pendapatnya sendiri dan cukup bijaksana dalam menyuarakannya. Meksipun Mr. Darcy jadi terkesan frontal dan to the point, jangan bayangkan jika dia adalah tipikal pria kasar yang suka ngomong seenaknya. Malah justru kelakuannya sopan banget.

“Tidakkah kau merasakan dorongan yang kuat, Miss Bennet, untuk berdansa diiringi lagu ini?” tanya Mr. Darcy. Elizabeth tersenyum tapi tidak menjawab. Mr. Darcy mengulangi pertanyaannya dengan sedikit nada terkejut karena Elizabeth diam saja.

“Oh!” katanya, “aku mendengarmu, tapi aku tidak bisa langsung memutuskan jawabanku. Aku tahu kau menginginkanku mengatakan ‘Ya’ agar kau bisa menghina seleraku; tapi, aku selalu siap untuk menolak siasat itu dan mengecewakan orang yang berpikiran buruk tentangku. Oleh karena itu, aku mengambil keputusan dan memberitahumu bahwa aku sama sekali tidak ingin berdansa denganmu – dan sekarang, hinalah aku kalau kau berani.”

“Sungguh, aku tidak berani."

Elizabeth yang telah siap melawan, terperangah melihat kesopanan Mr. Darcy. 

Namun, bagi Darcy, perpaduan antara kelemahlembutan dan kekeraskepalaan dalam sikap Elizabeth tidak terlihat sebagai suatu penghinaan. Dan Darcy tidak pernah seterpesona itu kepada seorang wanita sebelumnya. Dia yakin, seandainya kelas sosial Elizabeth tidak lebih rendah darinya, dirinya akan berada dalam kesulitan besar. 

(Pride & Prejudice hal. 80-81)

Dulu banget, saya pernah membayangkan jikalau Mr. Darcy itu hidup di dunia nyata, pastilah dia bukan tipe laki-laki yang bakalan ngajak perempuan jalan-jalan tapi nggak tau mau pergi kemana. Soalnya (masih) menurut saya, dia itu tipe laki-laki yang punya prinsip dan perencanaan yang matang. Ketimbang terus-terusan nanya mau nonton atau makan dimana yang kemungkinan besar bakal dijawab dengan kata-kata ‘terserah’; dia pasti udah bisa menentukan keputusannya sendiri.

Sikapnya yang jelas dan sederhana itulah yang bikin Mr. Darcy jadi keliatan laki banget. Siapa sih perempuan normal yang nggak suka sama cowok yang laki banget? Nggak ada lah yang nggak bakalan suka! Semuanya pasti suka. Selain itu, hal lain lagi yang bikin banyak perempuan mengidolakan Mr. Darcy sampai kapan pun adalah karena Mr. Darcy telah bersikap cerdas dengan jatuh cinta dan memilih Elizabeth, mostly, karena kepribadiannya.

Selama ini saya sering mendengar ketika seseorang ditanya mengapa dia mencintai pasangannya, orang-orang cenderung akan menjawab, ‘Dia membuatku nyaman.’ Tapi, ketika rasa nyaman itu hilang karena konflik dan kekurangan yang dia lihat dari pasangannya, dia begitu mudah meninggalkan pasangannya dengan alasan, “Aku sudah nggak nyaman lagi sama kamu.”

Padahal menurut saya kenyamanan adalah salah satu pertanda bahwa kamu mencintai pasanganmu. Tetapi tentu saja itu nggak boleh menjadi satu-satunya alasan mengapa kamu mencintai pasangan. Kamu mencintai pasangan bukan semata-mata hanya karena kenyamanan yang dia berikan. Tetapi karena segala kepribadian pasangan yang kamu lihat.

Sebuah hubungan yang dimulai dan menuhankan kenyamanan akan bersifat egois karena masing-masing pihak hanya akan mencari kepuasan ego dari hubungan tersebut. Lagipula, nggak ada hubungan apapun di dunia ini yang selamanya akan terasa nyaman. Semua pasti ada batu-batu dan kerikilnya.

Untungnya, Mr. Darcy bukan tipe laki-laki yang menuhankan kenyamanan di atas segala-galanya. Meskipun menghadapi berbagai macam persoalan dengan Elizabeth, alih-alih menyalahkan takdir apalagi pasangannya, laki-laki itu tetap berusaha keras untuk menyelesaikan urusannya dengan sikap yang dewasa dan bijaksana. Singkat kata; mengapa Mr. Darcy begitu atraktif dan melegenda di benak para wanita selama berabad-abad adalah karena dia tidak egois; meskipun dia punya cukup banyak kualitas bagus dalam dirinya yang bisa menjadikannya untuk egois. 

Dan bagi perempuan, sikap realis-kontradiktif yang ditunjukan oleh Mr. Darcy itulah yang bikin dia makin keliatan laki banget. (Sekali lagi) siapa sih cewek normal yang nggak akan suka sama pria yang laki banget? Jawabannya udah pasti nggak bakalan ada! Jadi jangan tanya lagi mengapa Mr. Darcy bisa sebegitu menariknya di mata kami. Jawabannya sederhana aja; karena dia laki banget.

Mr. Knightley – Novel Emma by Jane Austen

Mr. Knightley ini adalah salah satu tokoh fiksi favorit saya yang sikapnya paling realistis, tegas, dan dewasa. Jangan sekali-kali bilang Mr. Knightley punya sikap romantis. Karena dia bahkan nggak romantis sama sekali; seperti definisi orang-orang kebanyakan. Dan memang gak perlu. Selama ini banyak orang yang mendefiniskan kata romantis sebagai sebuah sikap. Padahal, kalau menurut saya pribadi, romantis itu seharusnya hanya menjadi sebuah perayaan atau selingan kecil yang sesekali aja. Dan Mr. Knightley adalah contoh sempurna dari penjelasan ini.

Makanya, mungkin saya nggak perlu heran kenapa Mr. Knightley yang tegas bisa terasa begitu manis padahal dia nggak romantis apalagi melankolis. Karena sehari-harinya Mr. Knightley memang selalu bersikap logis dan realistis. Sehingga ketika dia sedang tidak bersikap demikian; dunia berubah. Saya ingat banget kata-kata Mr. Knightley saat berdebat dengan Emma yang setiap kalimatnya begitu berkesan bagi saya.

“Kau melihatnya menulis surat jawaban! Pasti kau yang menuliskannya, Emma, ini pasti ulahmu. Kau membujuknya supaya menolak.” 

Sudah jelas Emma tidak berniat membantah pernyataan ini secara langsung, jadi dia memilih untuk mengikuti caranya sendiri. 

Dan Mr. Knightley meneruskan kembali kata-katanya. 

“Aku selalu menganggap persahabatan kalian ini bodoh sekali,” kata Mr. Knightley, “meskipun aku hanya menyimpan penilaianku itu untuk diriku sendiri, sekarang aku yakin bahwa ini akan sangat merugikan Harriet. Kau akan mencekokinya dengan gagasan mengenai kecantikannnya sendiri dan kelebihan-kelebihannya yang hanya ada dalam bayangannya, hingga dia akan menganggap bahwa tak seorang pun dalam jangkauannya akan dianggapnya cukup baik baginya. Sifat suka pamer pada gadis yang tidak terlalu pintar hanya akan menimbulkan kerusakan. Tidak ada gunanya bagi seorang gadis jika melambungkan harapannya terlalu tinggi. Miss Harriet Smith mungkin tidak akan kebanjiran lamaran meskipun dia sangat cantik. 

Lelaki yang mementingkan akal sehatnya, terserah apapun komentarmu, tidak ingin memiliki istri yang bodoh. Lelaki yang mementingkan keluarganya tidak akan berminat berhubungan dengan perempuan yang keluarganya tidak jelas. Dan sebagian besar laki-laki yang bijaksana pasti mengkhawatirkan perasaan tidak nyaman dan malu yang akan mereka alami jika misteri seputar orangtua gadis itu terungkap. 

Biarkan Harriet menikah dengan Robert Martin dan dia akan aman, terhormat dan bahagia selamanya. Jika kau menyemangatinya untuk bercita-cita menikah dengan kalangan atas dan mengajarinya supaya baru merasa puas jika dapat menggaet pria berpangkat dan kaya raya, dia justru akan menjadi orang yang menumpang pada Mrs. Goddard seumur hidupnya. Atau minimal sampai dia putus asa dapat menggaet anak laki-laki seorang guru miskin.” 

Sepanjang saya baca novel; terutama novel-novel roman, sangat jarang saya bisa menemukan tipikal tokoh utama pria di dalam fiksi yang punya sifat dewasa dan berwibawa kayak Mr. Knightley. Cuman baru dia doang tokoh fiksi yang bisa berdebat seluwes itu dengan caranya yang jelas tapi tegas. Kebanyakan, kalo tokoh prianya gak terlalu dominan maka dia malah terlalu penurut. Yang ujung-ujungnya malah di friendzone. Dan selamanya hanya akan jadi gebetan.

Terkait dengan sikap Mr. Knightley saat sedang tidak bersikap logis dan realistis (Sebenarnya mengutarakan perasaan nggak bisa dibilang tidak logis dan tidak realistis juga sih) Tapi, anggap aja demikian. Saya jadi ingat kata-katanya pada Emma ketika mereka sedang berjalan-jalan.

“Sebagai teman,” ulang Mr. Knightley. “Emma, itu kata yang kukhawatirkan. Tidak, bukan itu yang kuinginkan. Tapi, untuk apa aku ragu-ragu. Kuterima tawaranmu meskipun kelihatannya janggal, aku akan menerimanya dan akan berbicara padamu sebagai seorang teman. Coba katakan, apakah aku punya peluang untuk menjadi lebih dari sekedar teman? --- Aku tidak dapat berbicara dengan kata-kata yang berbunga-bunga, Emma,” laki-laki itu meyakinkan. “Seandainya aku tidak terlalu mencintaimu, mungkin aku akan lebih banyak berbicara. Tapi, kau tahu aku ini seperti apa.”

Coba bayangkan laki-laki ganteng yang sehari-harinya selalu bersikap tegas dan cenderung sinis tiba-tiba aja jadi malu-malu kucing sambil ngomong kayak gitu. Memang sih, seringnya hal-hal di dunia itu justru malah lebih terasa bermakna ketika kita hanya sesekali aja melakukannya.

Can Divit – Drama Serial Turki; Erkenci Kus

Kalau dua tokoh di atas diambil dari buku novel karangannya Jane Austen; Can Divit ini adalah tokoh utama pria yang ada di drama serial Turki; Erkenci Kus. Seumur-umur saya nonton film; saya belum pernah ngerasa nge-fans banget sama tokoh pria manapun sampai-sampai saya niat banget untuk follow IG aktornya; kecuali pas saya nonton film ini. Satu-satunya film drama sebelum ini yang berhasil nggak bikin saya bosen nontonnya cuman drama Korea yang judulnya; She was Pretty. Dan itu pun saya nggak pernah terbersit niatan untuk follow IG aktor utamanya. 

Lupakan Descendant of the Sun yang kata banyak orang lucu dan romantis. Saya nggak pernah bisa tamat nonton filmnya. Karena keburu ngantuk dan ketiduran. Mungkin saya punya definisi lucu yang berbeda sama orang-orang kebanyakan. Dan mungkin juga saya tipe yang nggak pedulian sama hal-hal yang romantis dan lebih milih ketawa-ketawa bahagia nonton film rom-com macam Erkenci Kus.

Bagi saya Can Divit itu lucu banget. Apalagi pas dia lagi makan buah. Terutama buah anggur dan strawberry yang ukurannya kecil-kecil. Saya sampai hapal banget episode mana aja pas dia lagi makan buah saking udah beberapa kali nonton filmnya. Bagi saya, adegan Can Divit makan buah itu keliatan nggak nyambung aja sama penampakan badannya yang tinggi besar.

Dalam bayangan saya sih; seharusnya kalau cowoknya tinggi besar kayak dia; apalagi brewokan terus rambutnya gondorong-gondrong berantakan; nggak cocok banget makan strawberry. Lebih cocokan makan nangka atau kelapa yang bukanya susah. 

Dan seringkali saya juga setuju kalau hidup ini kadang jangan nyambung-nyambung banget juga. Harus ada bagian nggak nyambungnya biar seru dan berwarna. Makanya, saya suka ngerasa lucu aja kalau liat dia yang penampilannya kayak gitu lagi makan buah-buahan kecil macam anggur dan strawberry.

Di film itu, Can Divit digambarkan sebagai sosok pria berjiwa bebas dan kreatif. Dia juga tipe laki-laki yang go-getter. Alias kalau dia udah mau sesuatu bakalan diusahakan semaksimal mungkin. Menurut saya, gaya rambut gondrong dengan aksesoris yang dimana-mana itu emang cocok banget buat orang yang tipenya go-getter kayak dia. Selain karena… yah secara genetik dia sudah memenuhi 3 syarat utama untuk berpenampilan gondrong dan messy. Yaitu badannya tinggi besar, bahunya lebar dan garis rahangnya kuat; yang dipertegas dengan bentuk hidungnya yang mancung sempurna. Gaya berpakaiannya juga pas banget apalagi kalau dia udah pakai sepatu boots. 

Selain penampilan, hal lain yang bikin Can Divit terlihat atraktif selanjutnya adalah karena dia kontradiktif. Selama ini kita telah dibutakan dan disesatkan dengan kata-kata yang keliru bahwa kunci pertama pembuka pintu hati perempuan adalah romantisme dan perhatian. Tapi masih aja selalu menjadi misteri ketika datang tipe laki-laki yang membawa sifat-sifat demikian namun ujung-ujungnya tetep ditolak juga. 

Ya, karena memang bukan itu jawabannya, sih. 

Jauh diatas itu semua dan disadari atau tidak; perempuan suka laki-laki yang kontradiktif. Dan bisa membahagiakan dirinya sendiri.

Secara umum sikap-sikap tersebut ada dalam diri Can Divit. Secara penampilan dia berantakan tapi enak dilihat. Dia juga kaya tapi sederhana. Secara sikap dia nggak mudah percaya orang tapi cukup toleransi sama orang lain. Dia suka traveling tapi juga suka baca buku. Dia perhatian tapi nggak berlebihan. Temen-temennya banyak tapi dia lebih suka sendirian. Yang naksir juga banyak tapi dia setia banget sama satu orang perempuan. Dan dia ngelakuin itu semua secara alami; karena benar-benar nyaman dengan dirinya sendiri. Itulah yang bikin karakternya kelihatan atraktif. Sehingga dia jadi keliatan dua kali lipat lebih ganteng dan menarik dibandingkan cowok-cowok kebanyakan. 

Pokoknya, sejauh ini bagi saya pribadi; belum ada Tv-hero yang chemistry-nya lebih keren daripada dia.

Cerita Tentang Sepatu Boots

Thursday, February 27, 2020


Seberapa penting arti sepatu bagi wanita? Yang jelas sih kalau bagi saya; penting banget. Karena saya paling tidak tahan jika harus pakai sepatu yang bikin kaki saya lecet. Oleh karena itu, saya lebih baik sabar menabung untuk beli sepatu yang agak pricey tapi kualitasnya bagus dan nyaman dipakai; dibandingkan terpaksa menghamburkan uang untuk terus-terusan beli sepatu yang hanya tahan dipakai selama 3 bulan. Dengan alasan biar sepatunya banyak dan bisa diganti-ganti kalau sedang bosan. Lagipula, saya itu termasuk tipe orang yang agak malas untuk berbelanja jika tidak terlalu penting dan mendesak. Dan beli sepatu 3 bulan sekali menurut saya akan sangat merepotkan. 

Setiap wanita di dunia ini pasti punya model sepatu favoritnya masing-masing. Dan terlepas dari situasi apapun dan aturan apapun; sepatu favorit saya dari dulu sampai sekarang adalah boots. Lebih tepatnya ankle boots. Itu, lho, sepatu boots yang tingginya hanya semata kaki. Meskipun pada kenyataannya saya lebih sering pakai sepatu jenis lain, sih. Karena memang pakai sepatu boots itu sedikit ribet. Apalagi kalau saya sedang buru-buru. Dan memang untuk orang-orang yang hidup di negara tropis kayak saya; pakai sepatu boots itu akan bikin penampilan terlihat lebih stand-out dikeramaian. 

Entah kapan pertama kali saya jatuh cinta dengan sepatu boots ini. Yang pasti saya merasa sepatu boots mencerminkan jiwa saya banget. Disaat teman-teman perempuan saya keranjingan memakai flat-shoes; saya justru lebih suka dengan sepatu boots yang lebih sering dipakai oleh laki-laki. Tapi apakah saya perempuan tomboy? Sama sekali bukan. Lalu kalau begitu apakah saya perempuan feminim? Bisa jadi bukan juga. Karena saya lebih suka pakai baju warna gelap dan tidak begitu suka penampilan yang terlalu feminim seperti shabby-chic yang motifnya dipenuhi warna-warna pink-pastel dan bunga-bunga. Saya lebih suka penampilan yang mengkombinasikan keduanya. Dulu saya pernah nulis di postingan ini.

Ada dua alasan kenapa saya menyukai sepatu boots:

Pertama; kenyamanan 

Dibanding pakai high-heels yang beresiko membuat kaki pegal-pegal jujur saja saya lebih suka pakai sepatu boots karena alasan kenyamanan. Apalagi ketika saya naik motor. Hanya sepatu boots yang menurut saya tingkat safety-nya paling aman dibandingkan kalau saya pakai sepatu-sepatu jenis lainnya. Alas kaki yang menurut saya paling berbahaya untuk naik motor adalah model mules (yang bentuknya setengah sandal setengah sepatu) karena mudah sekali untuk terlepas. Saya sudah lama mencoret mules dari daftar alas kaki favorit saya. 

Kedua; fashionable

Tampilan boots yang edgy kelihatan keren banget di mata saya. Apalagi kalau dipadu-padankan dengan rok dan atasan bertema bohemian yang menjadi fashion statement favorit saya. Sepatu boots bikin orang yang pakainya kayak punya punya jiwa seni dan gaya sendiri. Kalau dia laki-laki, pakai sepatu boots bisa bikin auranya keliatan macho banget. Sementara kalau dia perempuan dan pakai sepatu boots entah kenapa kesannya keren aja. Bisa dipastikan perempuan yang suka pakai sepatu boots bukanlah tipikal perempuan pasif-agresif yang ngomongnya nggak apa-apa padahal kenyataannya sedang menghukum kamu dengan silent treatment. 

Sedikit tips buat kalian yang ingin bergaya dengan sepatu boots; jika tubuh kalian tidak terlalu tinggi pilihlah boots dengan model ankle boots yang tingginya hanya semata kaki. Sehingga jika dipakai tidak akan membuat badan tenggelam. 

Membaca Tanda-tanda Alam

Monday, February 24, 2020


Dulu saat SD saya banyak menghabiskan masa-masa kecil saya bermain bebas di alam. Sesederhana berlarian di lapangan tempat kami bermain layang-layang, memetiki daun-daun dan bunga-bungaan, bergelantungan di pohon pisang, bermain lumpur, serta sesekali ikut memanen jagung di kebun kakek atau membuat perangkap belut di sawah bersama para anak laki-laki. Pernah juga saya terjun ke kolam ikan tetangga yang dipenuhi puluhan lele tanpa takut tersengat hanya untuk menolong kucing yang awalnya saya dan teman saya ceburkan kedalamnya hanya karena ingin memberinya makan dengan ikan-ikan segar di kolam. 

Masih terekam jelas juga di ingatan ketika pada suatu hari saya dan teman-teman saya yang badung itu sengaja mencabut paksa pohon tebu yang banyak tumbuh di pinggir kolam pemancingan karena penasaran. Lalu ibu salah seorang teman kami berbaik hati mengupaskan kulit batang tanaman itu hingga bersih lantas membagi tebu itu menjadi banyak potongan kecil. Jangan bayangkan cara memakan potongan tebu itu adalah dengan menghisapnya. Karena tentu saja airnya tidak akan keluar. Kau harus mengunyahnya.

Berada di alam bebas membuat saya yang masih kecil tertarik dengan pembahasan mengenai alam liar berikut rahasianya. Sehingga saya begitu takjub ketika mendengar nenek saya yang dulu tinggal di kampung bercerita bahwa tanaman singkong yang tumbuh di dekat pohon besar; rasanya tidak akan enak. 

Selain bisa memprediksi rasa singkong yang enak dan tidak enak, beliau juga pandai membaca tanda-tanda alam. Seperti misalnya perilaku binatang dan cuaca berdasarkan arah angin. Atau bahkan tanda-tanda ketika akan turun hujan. Bagi saya yang awam, tanda-tanda akan turun hujan apalagi kalau bukan mendung. Padahal berapa kali kita pernah merasakan cuaca sudah lembab dan langit juga mendung tapi tetap tidak turun hujan. 

Berhubung hari ini di tempat saya tidak turun hujan setelah beberapa hari terakhir dilanda hujan. Saya jadi mau membagikan beberapa ciri pertanda alam jika akan diguyur hujan.

Embun menghilang

Dulu ketika masih kecil, saya paling hobi bangun pagi-pagi. Apalagi jika menginap di rumah nenek saya. Karena saya dan saudara-saudara saya selalu punya misi untuk pergi menangkap capung-capung yang masih tidur di dedaunan untuk dimasukan ke dalam toples yang tutupnya dilubangi kecil-kecil.

Kebetulan kebun itu adalah sepetak tanah yang ditumbuhi sejenis tanaman untuk pakan sapi. Dan ketika masih pagi, capung-capung yang belum terbang itu akan hinggap di dedaunan tersebut sehingga memudahkan kami untuk menangkapnya. Ketika kami menyibak masuk ke dalam kebun, tak jarang baju kami yang awalnya kering akan basah terkena percikan air embun. Dan hari itu biasanya akan cerah hingga sore. Tapi jika hari itu akan hujan, embun pagi yang biasanya banyak terdapat di dedaunan justru menghilang. Hal ini disebabkan karena angin bertiup kencang dan suhu udara rendah. Tapi, hal ini tidak berlaku jika di malam sebelumnya telah terjadi hujan.

Perilaku binatang berubah

Kalau kalian cukup beruntung menemukan sarang laba-laba yang baru, maka perhatikan apakah si laba-laba masih bertengger disitu? Karena jika beberapa jam lagi akan turun hujan, laba-laba tersebut akan meninggalkan sarangnya mencari tempat persembunyian yang aman. Begitu juga burung-burung dan hewan-hewan terbang lainnya. Jika beberapa jam akan turun hujan maka burung-burung itu akan terbang lebih rendah dari biasanya karena tekanan udara yang tinggi menyulitkan mereka.

Selain itu, nyamuk-nyamuk pun akan lebih aktif untuk menggigit di pagi hari. Sementara lalat akan cenderung hinggap diam di tembok atau dinding. Tidak berseliweran seperti biasa. Bahkan, beberapa hewan yang baunya khas seperti kambing; akan mengeluarkan bau yang lebih pekat dari biasanya jika sebentar lagi akan turun hujan. Saya tahu ini; karena dulu kakek teman saya memelihara kambing tak jauh dari kediaman rumah teman saya tersebut. Sementara saya seringkali main di rumahnya.

Bunga-bunga lebih wangi

Percaya atau tidak bunga-bunga justru akan menjadi lebih wangi jika sebentar lagi akan turun hujan. Sama halnya seperti bau kambing yang juga demikian. Bagi orang-orang yang tinggal di desa dan menghabiskan banyak waktu bermain-main di kebun seperti saya, mungkin hal ini bukan rahasia lagi.

Awan di puncak gunung

Jika, kebetulan rumah kalian dekat dengan gunung atau akan mendaki gunung dan melihat awan melingkupi puncak gunung maka kemungkinan besar sebentar lagi akan turun hujan. Namun, jika yang kalian lihat adalah awan di lembah atau kabut tipis maka kemungkinan besar hari itu akan cerah.

Sebenarnya masih banyak lagi tanda-tanda alam lain yang ingin saya ceritakan. Tapi, untuk kali ini segitu saja dulu tulisan saya. Happy traveling dan selamat membaca tanda-tanda alam!

Dialog dengan Diri Sendiri

Thursday, February 20, 2020



Jika kamu jeli mengamati sebenarnya kebanyakan manusia itu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berbicara dengan orang lain. Tapi apakah kamu ingat kapan terakhir kali kamu berbicara dengan dirimu sendiri? Atau justru kamu merasa orang-orang yang berbicara dengan diri mereka sendiri itu gila? 

Bagi saya pribadi berbicara dengan diri sendiri itu normal. Bahkan merupakan sebuah kebutuhan. Seperti saat saya menulis ini pun sebenarnya saya sedang berimajinasi dan berbicara dengan diri saya sendiri. Dan pembicaraan saya dengan diri sendiri bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan dipicu oleh berbagai macam hal di dunia ini. Tidak harus selalu peristiwa besar dan spekatakuler. Bahkan pemicunya seringkali merupakan hal-hal kecil dan dangkal seperti sesederhana mendengarkan lagu “You’re not from here-nya” Lara Fabian. 

I don’t know what is going on. You turn around and touch my heart. A silent moment speaks the truth. Something has happened all at once…. ¯¯¯

Dalam bayangan kali ini aku melihatmu (diriku yang dulu) mengatakannya. Sejujurnya aku menyayangimu dari semenjak dulu, sekarang, di masa depan dan bahkan untuk selamanya. Tapi biarkanlah aku mengomelimu terlebih dahulu. Kau pasti ingat apa yang kumaksudkan. Dan perasaanmu bahkan bercampur aduk ketika mengingatnya. Kau kebingungan antara ingin meledak atau berpura-pura tegar seolah semuanya baik-baik saja, bukan? Tapi bagaimanapun itu semua sudah berlalu. Seperti membuka buku catatan amal di Hari Pembalasan. Sia-sia saja jika kau ingin memperbaikinya.

It should have scared me in advance…. ¯¯¯

Bagaimanapun di masa depan kau harus punya batasan. Dunia ini luas dan beragam. Tak hanya dihuni makhluk-mahkhluk berhati malaikat sebagaimana orang-orang ditempatmu dibesarkan. Tak sedikit di dalamnya banyak jiwa-jiwa setan bersemayam. 

But I was falling in those eyes of yours and so fear was gone. I knew there was nothing else I’d ever want…. ¯¯¯

Begitulah dirimu yang dulu. Dan terkadang di beberapa waktu di masa sekarang kau masih seperti itu. Memandang semua orang dengan tatapan bahagia tanpa peduli ada pisau dibalik tangan mereka. Tapi tak mengapa; aku tak berhak menghakimimu lebih jauh. Bagaimanapun dari awal aku sudah menyatakan bahwa aku akan menyayangimu untuk selamanya. Utuh dan apa adanya. Aku kagum padamu yang selalu yakin akan perlindungan-Nya. 

I know you. You’re not from here…. ¯¯¯

“Kampung halaman kita memang bukan di sini. Bukan di dunia ini. Ada masanya aku akan kembali. Dan semua penderitaan ini akan berakhir. Ini hanya sementara,” katamu pada suatu hari yang hujan. Tepat ketika kita sama-sama terdiam. Entah karena dada terlalu sesak oleh berbagai pertanyaan atau begitu kosong tanpa menyisakan satupun pertanyaan. 

I’ve waited you to appear to take my breath away. And make me weep. Just a touch of yours and I fly, and I fly, and I fly…. ¯¯¯

“Karena aku meyakininya maka aku harus mengusahakannya. Agar kepulanganku nanti tidak percuma,” tekadmu. Maka alih-alih terpuruk-meratapi kau justru bekerja keras untuk mewujudkannya. Kau berubah. Sikapmu tak lagi seegois dulu. Kau lebih banyak melihat ke dalam dirimu. Mengurangi sedikit demi sedikit kebiasaan menghakimi perilaku orang lain hanya dari sudut pandang dirimu sendiri. Dan menolak peran sebagai korban sesakit apapun cobaan yang kau hadapi.

Dan kini, setiap hari yang berlalu hanya menjadi penambah rindu untukmu. Menjadi tanda yang kerap kau syukuri bahwa semakin dekatlah waktu kepulanganmu itu. Orang-orang di luar dirimu tentu saja tidak mengerti. Hanya aku saja yang mengerti pikiran rahasiamu itu. 

I can’t get used to missing You. If this is how it’s gotta be. I need an angel to watch over me. No one can hold the hands of time. But I can hold You in my mind. Over and over like a melody…. ¯¯¯

Betapa mengherankannya bahwa kini dirimu menjadi begitu merindukan sesuatu justru tepat di saat kau tengah kehilangan sesuatu yang lain. Sesuatu yang kau rindukan kali ini berbeda. Tidak membuatmu cemas dan bertanya-tanya seperti ketika dulu kau memilikinya. Alih-alih, justru menimbulkan rasa tenang. Mungkinkah ini rahmat-Nya yang disamarkan? 

Tuhan terlalu pemurah untuk mempermainkanmu. 

Sudut Pandang Catherine Heywood

Tuesday, February 4, 2020



Hallstatt, Austria 1821
Untuk Saudariku tersayang;
Anna Heywood

Sambil menulis ini aku berada di depan Danau Hallstattersee pada penghujung musim gugur yang sepi. Dimana air danau yang dingin dan bening tak hanya memantulkan jajaran pegunungan Dachstein yang kokoh berdiri tenang disekelilingnya. Namun juga warna langit sore yang muram keunguan. Menguarkan wangi pinus ke udara. Bercampur dengan aroma mawar merah yang menjalari setiap dinding rumah-rumah tradisional penduduknya di Pedesaan Hallstatt. Membuatku merindukan hangatnya perapian, selimut tebal dan buku-buku bacaan di perpustakaan rumah kita di Inggris.

Sembari duduk menatap Danau Hallstattersee aku menulis untuk merefleksikan jalan yang sudah kutempuh selama dua puluh lima tahun usiaku. Kau tentu tidak akan menyangka jika jalan hidupku disini nyatanya mengalir mengikuti alur dalam novel klasik yang sempat kau gemari. Kini aku merasa seperti Anne Elliot dalam Persuasion yang ditulis oleh Jane Austen.

Membaca kembali novel tersebut dengan pemahaman yang lebih bijaksana, membuatku semakin mengagumi ketabahan Anne; ditengah orang-orang yang tak sengaja melukai hatinya. Apalagi disaat Kapten Wentworth datang ke Kellynch lalu tinggal tak jauh dari kediaman Anne. 


Meskipun menanggung derita akibat kedatangan Sang Kapten, perilaku Anne yang begitu lembut dan santun membuat orang-orang disekelilingnya tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Anne adalah tipikal perempuan yang sangat kuat. 


Mungkin aku tidak seutuhnya sama seperti Anne Elliot yang begitu anggun dan dewasa dalam menghadapi segala sesuatu. Karena aku masih belum bisa memandang Frederick dengan perasaan yang sama ketika aku memandang teman-temanku di Hallstatt. Frederick bukanlah Kapten Wentworth. Dan seringkali kenyataan berbanding terbalik dengan akhir cerita di dalam novel roman yang kita baca.

Meskipun begitu aku selalu merasa ada sesuatu yang familiar mengenai Frederick yang mengingatkanku pada Sang Kapten dan diriku sendiri. Bahkan ketika kami pertama kali bertemu. Meskipun pada awalnya aku tidak bisa menjelaskannya, namun seiring berjalannya waktu aku menemukan sebuah teori mengenai kembar-jiwa yang tak sengaja kubaca di salah satu halaman buku tua. Yang sepertinya bisa menggambarkan mengenai keadaan jiwa kami berdua. Seolah-olah aku merasa ditarik kembali pada waktu-waktu tertentu dalam hidupku setiap kali aku mengingatnya.

Frederick ternyata pernah tinggal di Yorkshire saat Ia berumur lima tahun. Dan aku bahkan tidak  menyadari bahwa dulu aku juga pernah pergi kesana. Kesadaran ini muncul begitu saja di masa-masa saat aku masih bersama dengan Frederick; bahwa padang rumput luas yang sewaktu kecil pernah keluarga kita datangi selama beberapa minggu itu adalah Yorkshire yang muram; yang jarang sekali menjadi tempat favorit orang-orang untuk berwisata. Mungkin saja sebenarnya aku dan Frederick pernah berpapasan saat itu karena dia juga bersekolah disana.

Dan yang tak kalah mengejutkannya adalah tatkala selang dua puluh tahun kemudian pria itulah yang justru mendapat giliran untuk datang ke Hallstatt. Yang letaknya ribuan mill jauhnya dari Kota London. Bahkan tak hanya sekedar datang tapi dia juga menemuiku.

Di lain kesempatan, aku pernah tak sengaja melihat nomor seri kereta kuda miliknya yang terasa begitu familiar. Sampai akhirnya aku menyadari jika nomor seri keretanya tersebut sama persis dengan nomor seri kereta kuda milikku di Inggris yang masih dirawat hingga kini. Kau tentu saja masih ingat sejarah dibalik nomor seri tersebut. Dan mengapa aku bersikeras mencantumkan nomor tersebut di keretaku.

Dan masih banyak lagi hal-hal yang kualami yang entah mengapa sebagian besarnya bersinggungan dengan diri Frederick. Tapi, meskipun kehidupan kami pada akhirnya tidak berujung seperti dalam novel Persuasion; aku justru belajar banyak hal dari laki-laki tersebut. Dan bahwa aku kini telah menjadi sosok yang berbeda. Sosok yang mampu untuk menertawakan dirinya sendiri.

Setiap kali aku mengingat masa-masa dengan Frederick, alih-alih menggerutu, aku akan selalu ingat lelucon ini bahwa meskipun dulu aku pernah merasa jatuh cinta pada seorang pria; namun kenyataannya aku malah melampaui tahapan tersebut dan langsung jatuh, terjun-meluncur bebas, sehingga karam dan tenggelam.

Namun untungnya aku masih bisa berenang!


Saudarimu yang tegar,



Catherine Heywood