5 Mindset Orang Indonesia Yang Perlu Diubah

Wednesday, September 25, 2019


Sebagai orang Indonesia yang lahir dan tumbuh besar di negara sendiri, saya sering sekali menemukan pola pikir dan kebiasaan orang-orang disini yang bertentangan dengan hati nurani saya pribadi. Entah apakah orang lain juga mempunyai perasaan yang sama ataukah tidak. Yang jelas, kalau menurut saya… beberapa mindset di bawah ini harus diubah. 

“Kan tempat umum!”

Sangat gampang menemukan orang yang sedang merokok dimanapun di Indonesia. Tak hanya di teras rumah mereka sendiri. Bahkan di dalam angkutan umum, taman kota sampai di tempat-tempat kondangan pun selalu ada yang merokok. Dan seringkali orang-orang yang merokok di tempat umum tersebut nampak santai saja. 

Tidak ada rasa bersalah nampak pada raut wajah mereka. Malah kebanyakan justru punya mindset, “Kan tempat umum!” jadi sah-sah saja merokok. Padahal mindset seperti itu keliru. Justru karena di tempat umumlah maka kita tidak boleh merokok. Percuma dong pemerintah menyediakan ruangan khusus untuk merokok. Kalau masih merokok di tempat umum.

Banyak orang yang mendatangi tempat umum. Dari mulai orang tua, bayi, anak-anak bahkan ibu hamil. Bayangkan kalau kita merokok di tempat umum. Selain akan menganggu kenyamanan orang lain, asap rokok yang dihembuskan orang-orang yang merokok tentunya mengandung penyakit jika sampai terhirup. Maka dari itulah, kegiatan merokok di tempat umum sebaiknya tidak dilakukan. Lagian, racun kok dibagi-bagi. Heran deh. 

Tapi, alih-alih mengakui dan meminta maaf karena kekeliruannya, kebanyakan orang-orang Indonesia seringnya malah bersikap bebal dengan mencari-cari pembenaran dibalik kata-kata, “Terserah gue dong! Rokok-rokok gue. Yang beli gue. Hak-hak gue dong mau ngerokok dimana juga!” Tak heran jika Indonesia masih jadi negara berkembang. Bisa jadi orang-orang seperti itu mungkin sedang lupa. Lupa bahwa meskipun dia punya hak (untuk merokok), orang lain juga punya hak yang sama (untuk mendapatkan udara tanpa polusi asap rokok).

“Harga temen dong!”

Salah satu kebiasaan orang Indonesia ketika punya kenalan yang punya bisnis adalah tak malu-malu meminta harga temen. Padahal seringnya harga temen ini malah berubah jadi eksploitasi karena justru jadi seenaknya, jauh lebih murah dan terkesan nggak menghargai perjuangan teman kita yang merintis usaha. Meskipun di-iya-kan bisa saja permintaan kita ini malah membuat teman kita rugi, kecewa bahkan gulung tikar. 

Menurut saya pribadi, harga temen itu harusnya lebih mahal dari harga standar karena sebagai temen dia semestinya lebih mengerti betapa lelah dan susah payahnya temannya itu bekerja. Bukannya malah menawar harga jauh di bawah harga standar plus ngotot minta diskonan. Yang berpotensi membuat bangkrut usaha temannya. Bayangkan jika 7 orang dari 8 orang sahabatnya minta harga temen. 

Kebayang dong bakalan kayak gimana? Bisa-bisa usaha yang baru dirintis harus gulung tikar karena terlalu banyak ngasih harga temen. 

Kalaupun kita mau minta harga temen setidaknya kita juga harus ada timbal balik untuk teman kita. Misalnya kita bantu promosikan usahanya, mengenalkannya dengan networking baru dan menawar sewajarnya. Tidak memaksa apalagi bersikap sadis seenaknya minta banyak diskonan padahal kita mampu membayar dengan harga standar. 

Jangan biarkan harga temen membuat usaha teman-teman kita mencari nafkah jadi bagai bersedekah pada kita. Friend is friend. Bussiness is bussiness.

“Ngamplopnya segini ajalah…”

Di Indonesia adalah hal yang lumrah jika diundang ke acara pernikahan, tamu yang datang pasti akan menyelipkan amplop yang berisi uang ke dalam kotak yang sudah disiapkan oleh pihak penyelenggara acara. Semakin mewah pesta pernikahan yang dihadiri, orang biasanya semakin gengsi jika memberikan amplop dengan isi yang sedikit atau standar. 

Berbanding terbalik jika kita menghadiri pesta undangan dari orang yang biasa-biasa saja. Atau orang-orang dengan ekonomi menengah ke bawah. Isi amplop yang diberikan pun biasanya jauh lebih sedikit bahkan di bawah standar jika dibandingkan ketika kita menghadiri pesta pernikahan yang mewah. 

Tapi pernahkah kita berpikir? Jika orang-orang dengan ekonomi pas-pasan yang menggelar pesta pernikahan tersebut justru jauh lebih membutuhkan uang pemberian dari kita. Karena kenyataannya tak sedikit orang-orang seperti mereka itu berhutang terlebih dahulu ketika akan menggelar sebuah pesta. Maka dari itu, baiknya sih kita lebihkan isi amplopnya. 

Berbeda halnya dengan orang-orang yang sudah kaya. Bagi orang kaya mungkin uang puluhan juta tersebut cuman dipake buat beli tas branded atau sepatu baru. Beda banget dengan orang-orang yang ekonominya pas-pasan yang kemungkinan besar justru dipakai untuk bayar utang pasca resepsi atau memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

“Masih mahal ah!

Sebagai orang Indonesia yang digadang-gadang punya sifat ketimuran dan senantiasa bersikap ramah, kenyataannya kita seringkali bersikap tega. Terutama kepada para pedagang kecil yang hasil usahanya tidak seberapa. Sebutlah para pedagang kelilling dari mulai para pedagang sayur sampai mainan anak-anak. 

Kita seringnya tidak segan-segan menawar harga barang yang mereka jual dengan semena-mena. Tapi, ketika kita berada di toko yang lebih besar atau menemukan penjual yang berasal dari negara lain kita gengsi untuk menawar. Kita menindas, memandang rendah dan tidak menghargai usaha bangsa sendiri dibandingkan dengan bangsa lain.

Saya seringkali menemukan orang-orang yang menawar harga barang dari para pedagang kecil ini dengan sangat murah dan tidak masuk akal.

Terbayang dalam benak saya betapa para pedagang kecil itu mungkin telah berjalan berpuluh-puluh kilometer menanggung barang dagangannya atau mendorong gerobak tua dan hanya punya keuntungan kurang lebih seribu hingga dua ribu dari setiap barang yang berhasil mereka jajakan. Itu pun kalau barangnya laku. Dan sedihnya, masih ada yang menawar dengan harga sangat murah dan tidak masuk akal. 

Bahkan ada juga orang-orang yang tak segan-segan bersikap judes tatkala keinginannya untuk minta diskonan tak dipenuhi. Seharusnya kalau kita membayangkan ada di posisi mereka, alih-alih menawar harga barang dagangannya dengan sadis pasti kita akan lebihkan bayarannya. 

“Kan anak kecil!”

Orang yang sudah dewasa setidaknya bertanggung jawab untuk diri mereka sendiri. Sementara anak yang masih kecil adalah tanggung jawab orang dewasa alias orangtua mereka masing-masing. Tak sedikit anak-anak kecil yang dimaklumi perilaku nakalnya hanya karena mereka adalah anak-anak. Tanpa diberi pemahaman oleh orangtuanya yang menjadi penanggung jawab perilaku mereka. 

Saya pernah melihat seorang anak yang berdiri di kursi bus sedang bergerak-gerak lincah melihat ke arah jendela ketika saya naik transportasi umum tersebut. Padahal saat itu ada seorang nenek-nenek yang tidak kebagian kursi untuk duduk. Alih-alih, menggendong anaknya agar nenek tersebut bisa duduk, ibu si anak malah bersikap acuh tak acuh. Dan membiarkan anaknya tetap berdiri di kursi bus. 

Bahkan ketika si nenek akhirnya meminta space untuk duduk di sebelahnya, ibu itu hanya sedikit menggeser badannya. Sehingga posisi duduk si nenek terlihat sangat tidak nyaman. Sementara anaknya yang masih kecil tersebut dibiarkan tetap berdiri di atas kursi bus yang bisa diduduki oleh penumpang lain. 

Selama ini perilaku anak yang kurang baik tersebut seolah dimaklumi oleh orangtua mereka sendiri. Bahkan seringkali orangtua menganggap perilaku anak-anaknya yang kurang baik tersebut sebagai perilaku yang lucu dan menggemaskan. 

Semisal ketika bertamu ke rumah orang lain dan anaknya memonopoli makanan dalam toples hingga hampir habis. Alih-alih diberikan penjelasan bahwa makan dengan rakus itu perilaku yang tidak baik. Apalagi di rumah orang lain, kebanyakan orang tua malah hanya memandang anaknya sambil berkata, “Dede suka ya? Kuenya enak?” tanpa berpikir bahwa barangkali si pemilik rumah meskipun nampak tersenyum, diam-diam merasa kesal melihat kelakuan anak dari tamunya. Boleh jadi kue itu hanya tinggal setoples dan untuk menjamu tamu yang lain. 

Harusnya sebagai orangtua, merekalah yang semestinya lebih peka. Bukannya hanya diam saja sambil memaklumi perilaku anaknya yang kurang baik. Dengan selalu mencari-cari alasan dan ngomong seenak mulutnya, “Maklumin dong… namanya juga anak-anak!”

The Poor Villains

Monday, September 9, 2019

Adalah Davy Jones yang menjadi Kapten Kapal The Flying Dutchman dalam film Pirates of the Caribbean. Sebelum pria itu dikutuk menjadi monster berwajah gurita yang bengis dan ditakuti; Davy Jones di masa lalu adalah seorang bajak laut muda yang jatuh cinta pada Calypso. Dalam mitologi Yunani, Calypso sendiri adalah Dewi Penguasa lautan. Dia merupakan anak dari Dewa Atlas dengan seorang perempuan di bumi. Tak heran, Calypso yang setengah manusia itu masih mewarisi darah immortal dan gen egois dari bapaknya. Seperti halnya ciri khas dewa-dewa Yunani yang cenderung keras kepala dan semaunya sendiri.

Cinta Davy Jones yang teramat dalam pada Calypso membuatnya menyanggupi sebuah tugas berat yang diberikan oleh perempuan itu kepadanya. Dimana Davy Jones hanya akan bisa menginjakan kaki satu kali di daratan setelah sepuluh tahun berlayar di lautan.

Tugas yang disanggupi oleh Davy Jones itu adalah demi mengumpulkan jiwa orang-orang yang mati di sana untuk dikirimkan ke dunia bawah. Dan, jika tugas itu telah terpenuhi maka Calypso menjanjikan dirinya untuk bertemu dengan Davy Jones dan menjadi miliknya.

Davy Jones yang dipenuhi perasaan cinta yang mendalam pada Calypso, tekun mengerjakan tugas yang berat tersebut; mengumpulkan jiwa orang-orang yang mati di lautan dan mengirimkannya ke dunia bawah. Hingga akhirnya, sepuluh tahun berlalu dan tibalah hari dimana Davy Jones bisa kembali ke daratan dan bertemu dengan cintanya. Namun, ketika pria itu kembali Calypso tidak ada disana.

Dengan kemarahan dan kekecewaan yang mendalam karena merasa dipermainkan oleh orang yang dicintainya, Davy Jones merencanakan aksi balas dendam untuk mengunci tubuh Calypso ke dalam bentuk manusia mortal.

Singkat cerita, rencana itu pun berhasil. Dan Davy Jones menjadi penguasa lautan yang berubah kejam, bengis dan menakutkan. Karena Davy Jones enggan kembali melaksanakan tugasnya untuk mengumpulkan jiwa orang-orang yang mati di lautan, seperti janjinya dulu pada Calypso, maka kutukan pun menimpa dirinya. Wajahnya yang semula manusia berubah menjadi monster.

Akan tetapi, balas dendam tersebut diam-diam juga melukai hati Davy Jones. Laki-laki itu diliputi rasa bersalah yang mendalam karena telah menyakiti perempuan yang masih sangat dia cintai. Rasa bersalahnya pada Calypso menyebabkan rasa sakit hati yang amat sangat. Namun, rasa itu tidak cukup kuat untuk membuatnya mati. 

Sehingga akhirnya, Davy Jones yang merana pun memutuskan untuk merobek dadanya sendiri, mengeluarkan jantungnya yang sakit akibat rasa bersalah, menyimpannya ke dalam sebuah kotak dan menyembunyikan sisi rapuhnya tersebut dari dunia.

Davy Jones menutupi hatinya yang sakit dan terluka dengan menjadi jahat.

Seandainya Davy Jones cukup bahagia, pasti dia tidak akan melukai atau bersikap jahat kepada orang lain. Dan jika kita renungi, sebenarnya rasa pahit bersalah akibat luka masa lalu itu timbul karena sebagai manusia biasa, Davy Jones mengkhianati hati nuraninya sendiri.

Benar kata pepatah bahwa kecenderungan manusia itu adalah menjadi baik. Maka ketika seorang manusia menjadi jahat dan menyimpan dendam niscaya perasaannya akan berontak. Dia menjadi tidak nyaman, sedih dan gelisah. Karena tubuhnya menampung jiwa yang sudah tidak pada fitrahnya.

Mungkin inilah yang melatarbelakangi adegan dalam film The Pirattes of the Caribbean: Dead man’s chest ketika Davy Jones diam-diam menyendiri bermain piano dengan tentakelnya dan tiba-tiba saja setitik air mata kesedihan muncul dari sudut matanya.

Saya juga masih ingat adegan ketika Davy Jones dengan pilu menjawab pertanyaan Calypso sesaat sebelum mereka berpisah. “And what’s of your fate Davy Jones?” tanya Calypso yang kemudian di balas Davy Jones dengan kata-kata, “My heart will always belong to you.” Alias, “hatiku akan selalu jadi milikmu.” Padahal perempuan itu sudah memperlakukannya sedemikian rupa.

"Every man has his secret sorrows which the world knows not; and often times we call a man cold when he is only sad." 

Tokoh antagonis kedua yang saya kasihani adalah Rahwana dalam wiracarita Ramayana. Kalau disuruh memilih antara Rahwana atau Rama, kemungkinan besar saya bakalan memilih Rahwana meskipun banyak orang menjulukinya bejat dan penjahat.

Dikisahkan Rahwana menculik Dewi Sinta dan membawanya ke Kerajaan Alengka. Selama bertahun-tahun berada di Alengka, tak sekalipun Rahwana memaksa Dewi Sinta apalagi memperlakukannya dengan buruk. Padahal sebagai seorang raja, sangat mudah bagi Rahwana untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan termasuk Sinta. Alih-alih memperlakukan Dewi Sinta dengan tidak hormat, perempuan itu malah diberikannya segala fasilitas terbaik yang ada di Alengka. Sekuat tenaga Rahwana berusaha membahagiakan Dewi Sinta. 

Tak tanggung-tanggung, Rahwana juga selalu mengunjunginya setiap hari untuk mengungkapkan perasaannya berharap perempuan itu mau menerimanya. Namun, Dewi Sinta yang setia menunggu Rama tetap teguh pada pendiriannya. Dia tetap menolak Rahwana. 

Hingga akhirnya pada suatu hari, karena melihat perjuangan Rahwana yang terus-menerus dan perlakuannya yang baik kepadanya, Dewi Sinta yang hampir luluh berkata;


"Sebenarnya aku juga mulai mencintaimu. Tapi, aku tidak ingin mengkhianati suamiku. Jika kau benar-benar mencintaiku, tolong ikhlaskanlah diriku. Dan kembalikanlah aku kepada suamiku."

Akhirnya, Rahwana pun menjawab.

“Baiklah, kalau itu keinginanmu. Aku akan mengembalikanmu kepada suamimu. Tapi dengan cara ksatria (berperang). Jika dia menang, kau boleh kembali kepada suamimu." 

Sementara itu, Rama yang disebut-sebut Ksatria, justru menunjukan perilaku yang tidak ksatria. Ketika Rahwana berhasil dibunuh dan Dewi Sinta kembali kepadanya, laki-laki itu malah mencurigai dan mempertanyakan kesucian istrinya setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Bukannya bersyukur bahwa istrinya masih hidup dan baik-baik saja!

Bahkan ketika Dewi Sinta melakukan upacara terjun ke api untuk membuktikan pada Rama bahwa dirinya masih suci, suaminya itu tetap tidak percaya. Hingga akhirnya, Dewi Sinta pun dibuang ke hutan ketika sedang mengandung anaknya. Bahkan sampai meninggal.

Sebagai perempuan, jujur saya sangat marah dengan sikap Rama pada istrinya tersebut padahal dia sering disebut-sebut sebagai ksatria. Sosok yang seharusnya lebih baik dari Rahwana. Meskipun pada akhirnya Rama menyesali perbuatannya tapi itu sudah terlambat. Bagi saya, kesalahan Rama pada istrinya ini sangatlah fatal. Lebih fatal, daripada kesalahan Rahwana yang menculik Dewi Sinta. 

Bukan berarti, saya mendukung perbuatan Rahwana yang menculik Dewi Sinta. Tentu saja tidak sama sekali. Hanya saja, melihat perlakuan Rama pada istrinya yang kejam begitu membuat saya jadi bertanya-tanya. Apakah selama ini Rama benar-benar tulus menyayangi dan melindungi istrinya? Bagi saya rasanya sulit membayangkan Rama dengan perilaku demikian menyandang gelar ksatria. Lebih mudah membayangkan gelar ksatria itu diperoleh oleh Rahwana. Meskipun memang tidak ada kstaria yang menculik istri pria lain, sih.

Tapi, gimana ya. Menurut saya, Rama itu jahat dan egois sekali. Kepalanya hanya ada satu. Tapi fokus utama di kepalanya banyak sekali. Dari mulai kecurigaan pribadi sampai memikirkan omongan masyarakat dan juga terkesan ingin melindungi nama baiknya seorang diri dengan terus-menerus mempertanyakan kesucian istrinya.

Lantas kalaupun Dewi Sinta sudah tidak suci lagi karena diculik selama bertahun-tahun apakah akan dibuang begitu saja oleh suaminya? Apa tujuan dia bertanya seperti itu? Apalah daya seorang Dewi Sinta yang hanya seorang wanita.

Seharusnya sebagai suami Rama lah yang bertanggung jawab dan melindungi istrinya. Bukan malah memojokan. Dan lagi, mengapa sebagai seorang suami yang digambarkan ksatria dengan kekuatan besar, istrinya bisa diculik selama itu?

Bandingkan dengan Rahwana. Meskipun Rahwana digambarkan sebagai Dasamuka alias kepalanya ada sepuluh. Tapi, fokus utama isi kepalanya hanya satu yaitu Dewi Sinta. Sampai-sampai, saking cinta dan terfokusnya pada Dewi Sinta, Rahwana yang sudah berhasil menculik perempuan tersebut tetap memperlakukannya dengan sangat baik. Tidak ingin melukainya. Tidak sekalipun Dewi Sinta dipaksa apalagi dijahati selama berada di Alengka.  Rahwana yang digambarkan Dasamuka dan simbol angkara murka hanya punya satu keinginan. Yaitu agar Dewi Sinta balik mencintainya dan mau menjadi permaisuri di Kerajaan Alengka. Yang sayangnya tidak tewujud. 

Escape From Reality

Friday, August 30, 2019


Instead of being a big fan of watching films, I’m more into listening to music. That’s why I have more than 1.200 songs on my playlist from many genres all over the world. One of my all-time favorite songs is Fall Again by Glenn Lewis, which is a soundtrack from Maid in Manhattan.

By the way, that’s not quite the story I want to share here. Just a little intermezzo, though. Here's the story: A month ago, I was killing time listening to a cover version of 'Fall Again' on YouTube. As I was scrolling through the list, I found a cover of the song I'd never seen it before. So I clicked on it and watched the video. It was a beautiful video, especially paired with that song. The way the actress and the actor in the video smiled and their gestures were full of vivre. In short, the acting was good and natural as if I could feel their emotions. Clearly, it was taken from a film, but I couldn’t identify the film or guess where the actors were from. I thought, the actress might be from Latin America or the Philippines because she looked a bit exotic. But I wasn’t sure because the actor looked Caucasian, with a hunky body and a man bun.

However, the actor reminded me of my favorite Disney Cartoon, 'Beauty and The Beast,' an everlasting story. I have been searching for a real-life figure to fit  the character of The Beast in my mind for a long time, perhaps since I first watched the film. Of course, I'm referring to The Beast after he's released from the curse and becomes a prince. I was intrigued to find out about the film. I left a comment in the chat box asking for the name of the film and read all the comments there.

Then I learned that the scenes were  taken from 'Erkenci Kus,' a Turkish drama. I'd never watched any Turkish dramas before, so I didn’t expect much. I googled the drama before watching it and found out its genre was romantic comedy. I found the drama on YouTube with English subtitles. I initially thought it must have finished a few months ago, but I was wrong. The drama was still being produced in Turkey and was around 45 episodes in when I first started watching it.

When I watched the first episode of 'Erkenci Kus,' I was surprised because it was very long - around 2 hours per episode. But I didn’t regret it; instead, I enjoyed it immensely. The film was full of laughs, thrills and silly romantic comedy parts. I couldn’t say the story was very good or bad at all. Honestly, the storyline was very common for me. But what kept me watching was the acting. Both the lead actor and actress seemed to have wonderful chemistry. 

A few weeks ago, Can Yaman won the lead actor award in an e-online voting poll, defeating American actors. It was the first time a non-American actor won the battle. He truly deserved it.

The story of 'Erkenci Kus' begins when Sanem (played by Demet Özdemir) is proposed to by Muzo, and her parents asked her to accept because she has no job and they are worried she won't find a man to marry her. Sanem refuses and decides to look for a job, eventually working at Fikri Harika with her sister, Leyla.

At Fikri Harika, Sanem's innocence lands her in a conspiracy with her boss, Emre, without her realizing it at first. Meanwhile, Emre’s brother, Jan, is asked by his father to lead Fikri Harika and find out who was involved in the conspiracy that led to Fikri Harika's ideas being stolen by competitors. When Sanem realizes her mistake, she's furious with Emre, feeling she was taken for granted. It becomes complicated when Jan, Emre’s brother, falls in love with her. Sanem wants to apologize and tell the truth but she can’t.

I'm still watching the drama. It touches my emotions deeply every time I watch it. My favorite scenes from the start are when the lead actor eats fruit in front of a shop mirror and blows a kiss to Sanem. How can a person be so attractive and manly while eating fruit? I don’t know. In earlier episodes, Jan was truly a go-getter. It was entertaining to see such a man. Another favorite scene is when Jan is amazed to see Sanem wearing a flower crown on her head. From that scene, I agreed with Jan that women are always more beautiful with accessories.

The last one is when Sanem confesses her feelings to Jan. I loved the way she spoke, her expressions, her gestures - it felt so real. When Jan told her he couldn’t figure her out and asked why she was the way she was --- Sanem told him, “Seni seviyorum.” It means 'I love you' in Turkish. Truly adorable! The relationship between a mature man and a wild girl created a quirky dynamic.

Jan still didn’t understand, so Sanem said once again, “Ban…. Seni cok seviyorum” which means “Because I love you so much.” I could understand why she said it. It was very joyous to see them as a couple, but painful knowing she was hurting because of the guilt inside her. Sanem wanted to tell the truth but she didn’t want to lose him or destroy the brotherhood between Emre and Jan.

On August 7th 2019, the series ended with 51 episodes. I have not watched the finale yet. I'm still watching episode 39 on YouTube, a bit frustrated because it's not a light-hearted episode. Instead, it is a sad one. But  I was quite happy when I saw the trailer for episode 51, where both get married and have triplets.

I usually watch the drama before I sleep. Since watching this drama, I've learned some Turkish vocabularies. The words sound beautiful and quirky. That’s why I've downloaded some Turkish songs, especially the music score of Erkenci Kus. Eventhough I can’t remember all the scenes, some beautiful lines from this series are stuck in my head. One of them is, “I was an empty book before you. You filled the page.”

Above all the reasons I've mentioned, the biggest reason why I love this drama remains a personal secret.

Dari Bohemian Hingga Serigala

Saturday, August 17, 2019

Apakah kamu pernah merasa, “Kok hidup gue gini-gini aja, ya?” ketika di suatu pagi yang cerah kamu terbangun dari tidur lelapmu dan tiba-tiba saja kamu teringat jika sebagian besar waktumu dihabiskan untuk bekerja. Sementara di belahan dunia yang lain, orang-orang seusiamu nampaknya sedang menikmati hidup yang lebih berwarna.

Seketika kamu merasa pilu, bertanya-tanya dalam hati apa yang salah dengan hidupmu. “Ngebosenin banget deh hidup gue! Kayak nggak ada warnanya gitu. Kerja -  rapat – lembur - abis gitu pulang ke rumah. Besoknya gitu lagi. Bosenin banget nggak sih hidup gue?” Mungkin itulah kata-kata frustasi yang seringkali kamu lontarkan pada diri sendiri.

Perasaan bosan itu nyatanya semakin menjadi-jadi tatkla kamu membuka pintu lemari dan melihat deretan baju-bajumu yang di dominasi warna-warna kelam serupa hitam, coklat dan abu-abu. Dengan pola garis-garis dan motif kotak-kotak serta sederet kain batik yang belum sempat dijahit. Hampir semua isinya adalah baju kerja. Baju dinasmu yang warnanya itu-itu saja.

Pernah mengalaminya? Kamu menganggukan kepala. Sama dong! Saya juga. Tapi jangan khawatir! Kebosananmu akan segera berakhir. Karena saya akan memberi tahu kamu solusinya.

Kalau kamu pernah dengar quote yang bilang, “You are what you wear” bisa jadi ada benarnya juga. Bisa jadi inilah momen dimana kamu harus mengubah gaya berpakaianmu. Lewat tulisan ini saya ingin berbagi tentang pemikiran saya tersebut.

Dari semua gaya berpakaian, saya paling suka dengan gaya bohemian. Selain eksentrik, gaya ini juga sangat individualis. Karena bergantung pada kreatifitas dan tingkat percaya diri pemakainya. Tidak ada aturan baku untuk mengaplikasikan gaya bohemian ini. Sehingga setiap orang bisa menampilkan gaya bohemian sesuai dengan karakter dan keinginannya masing-masing.

Sedikit sejarah tentang bohemian, gaya berpakaian ini booming pada tahun 1950-an ketika banyak dipakai oleh para traveler dunia. Gaya bohemian terinspirasi dari kaum gypsy yang tinggal secara nomaden di Eropa Timur (diperkirakan berasal dari orang-orang India atau Spanyol yang bermigrasi ke sana).

Singkat cerita, dikarenakan iklim yang dingin dan kebiasaan hidup mereka yang nomaden di alam liar, orang-orang gypsy di sana telah terbiasa memakai baju yang berlapis-lapis untuk menahan hawa dingin tersebut, sehingga terciptalah gaya yang “sangat” berbeda dari masyarakat pada umumnya - gaya yang terlihat sangat eksentrik, anti-mainstream, penuh warna namun tidak urakan. Malah, gaya ini lebih terkesan artsy dan unik karena banyak memadukan motif etnik dan pola kain yang rumit.

Selain untuk menahan hawa dingin, penggunaan baju yang dipakai berlapis-lapis ini juga dimaksudkan untuk mengurangi beban bawaan mereka ketika berpindah-pindah. Sehingga menambah nilai kepraktisan.

Gaya bohemian yang terinspirasi dari kaum gypsy ini biasanya didominasi oleh rok-rok lebar dengan warna-warna yang cerah, baju longgar berenda, motif-motif tribal, kalung etnik, turban dan bandana. Sehingga bisa dipakai untuk menyamarkan bentuk tubuh pada wanita yang kurus disamping memberikan kesan “kreatif sekaligus misterius" pada pemakainya. Selain itu, pemakaian sandal gladiator juga lazim pada gaya berpakaian ini.

Selain sandal gladiator, gaya bohemian juga tak jarang memadu-padankan dress dengan sepatu boots. Penggunaan sepatu boots seperti ankle boots akan memberikan kesan yang sedikit edgy atau maskulin pada tampilan bohemian namun tidak sampai merusak kesan feminim yang ada pada dress.

Sangat berbeda jika kamu memadu-padankan dress dengan sepatu yang lain, semisal: high-heels, flat shoes, stiletto apalagi sandal. Kamu tidak akan mendapatkan kesan kombinasi tampilan maskulin-feminin, kreatif dan tangguh yang sempurna seperti halnya jika kamu memadu-padankan dress dengan sepatu boots seperti pada gaya bohemian.

Bagi saya yang kurang suka mengikuti trend dan lebih memilih untuk mengikuti aturan saya sendiri, tentu saja gaya bohemian ini adalah solusi. Apalagi, saya juga kurang menyukai gambaran perempuan polos atau juga sebaliknya – perempuan yang terlalu tomboy urakan seperti laki-laki; yang seringkali tergambar jelas pada gaya berpakaian dengan unsur feminitas atau maskulinitas yang kuat. Seperti pada gaya berpakaian shabby chic yang penuh bunga-bunga atau sporty bak pemain sepak bola.

Gaya bohemian tidak seperti itu. Gaya ini justru memadu-padankan feminitas dan maskulinitas tersebut menjadi bentuk yang unik dan kreatif. Saya bisa terlihat feminim sekaligus juga edgy dalam waktu yang bersamaan ketika mengaplikasikan gaya bohemian. Hal ini sesuai dengan ekspresi alami jiwa saya. Dan kehendak saya pribadi. Seperti ada sebuah kontradiksi dalam satu tubuh. Seolah-olah kamu bisa melihat perpaduan dua karakter yang bertolak-belakang di dalamnya.

Oleh karena itu, ketika kamu merasa butuh untuk meningkatkan rasa percaya diri dan mengasah kreatifitas, gaya bohemian ini bisa kamu coba. Bagi yang tidak terbiasa dengan gaya ini, mungkin pada awalnya akan merasa canggung dan risih karena gaya ini cenderung menjadikan si pemakai pusat perhatian akibat warna-warna dan motifnya yang stand out di keramaian. Tapi, anggap saja itu sebagai bagian dari proses mengekspresikan diri. Bahkan mie instan yang instan saja tidak pernah benar-benar instan. Tetap butuh proses untuk bisa dimakan.

Satu hal yang paling saya suka dari gaya bohemian adalah aksesoriesnya. Perpaduan motif etnik yang unik dengan kombinasi batu-batuan berwarna bold, material kayu serta bulu-bulu unggas pada aksesoris bertema bohemian menambah kesan personal dan tradisional saat dipakai. Sehingga membuat pemakainya terlihat membumi namun juga imajinatif dalam waktu yang bersamaan. Dan karena gaya bohemian melampaui batasan standar berpakaian pada umumnya alias “semau gue,” pemakaian aksesorisnya pun menjadi tidak dibatasi.

Seorang bohemian tetap bisa terlihat “cantik” meskipun mengenakan lebih dari 5 cincin di jarinya. Satu jari bisa dipasangi 2 hingga 3 cincin sekaligus. Tentunya dengan bentuk cincin yang lagi-lagi anti-mainstream.

Sebagai seorang manusia yang suka dengan segala sesuatu yang bermakna. Saya ingin motif cincin bohemian saya juga bermakna. Misalnya, saya dulu ingin punya cincin bohemian berbentuk kepala gajah atau (Ganesha) yang diukir, atau kalung dengan liontin bertuliskan wolf (serigala). Sehingga jika ada yang bertanya saya bisa menjelaskan maknanya bagi saya secara pribadi. Tidak semata-mata karena alasan lucu atau sedang booming saja.

Kenapa kepala gajah atau Ganesha, misalnya, karena saya suka ilmu pengetahuan maka ini ada hubungannya dengan Ganesha. Ganesha sendiri adalah salah satu dewa ilmu pengetahuan maka saya jadikan gambarnya sebagai ukiran cincin di jari saya. Supaya saya selalu ingat untuk cinta ilmu pengetahuan dan cinta belajar seumur hidup saya.

Atau misalnya, kenapa saya ingin kalung bertuliskan wolf alih-alih kalung yang bertuliskan nama saya seperti orang-orang kebanyakan, jawabannya adalah karena saya sangat mengagumi kepemimpinan seekor serigala di dalam kelompoknya.

Selama ini, serigala seringkali dipandang negatif. Bahkan dikaitkan dengan domba. Maksud saya, dikata-katain serigala berbulu domba (Haha, maap ini random). Padahal, ada hal lain yang lebih keren yang bisa kita bahas dari si serigala ini.

Ketika seekor serigala menjadi pemimpin dalam kelompoknya dan mereka akan bermigrasi, maka sang pemimpin akan mengarahkan tiga serigala yang tertua, cacat, sakit dan terluka untuk berada di barisan terdepan. Alasannya, ialah agar serigala-serigala “bermasalah” tersebut tidak tertinggal.

Jika mereka disimpan di barisan belakang, niscaya mereka tidak akan sanggup mengikuti langkah kaki rombongannya yang mengakibatkan mereka bisa tertinggal dan mati terpisah dari rombongan.

Lima serigala di belakang barisan serigala yang sakit adalah para serigala yang terkuat di kelompoknya, serigala-serigala ini diarahkan oleh sang ketua untuk bertugas mengamankan bagian depan jika terjadi serangan.

Lima serigala terakhir di bagian belakang, juga adalah serigala-serigala yang terkuat di kelompoknya yang lagi-lagi diarahkan oleh sang ketua. Serigala-serigala ini bertugas untuk mengamankan bagian tengah dan lini belakang jika terjadi serangan.

Satu serigala yang terpisah agak jauh dari rombongan dan berada paling belakang, dialah sang ketua. Dia mengawasi rombongan dan situasi tempat yang dilaluinya. Menjadi pembawa pesan bahaya bagi kelompoknya. Jika ada serangan, sang ketualah yang akan bergerak kesana-kemari untuk mengkoordinir pasukannya. Dia akan melindungi semua anggota kelompoknya dan memastikan seluruh anggota rombongannya selamat sampai di tujuan. 

Keren banget, kan?

That is called the leadership. You keep the whole pack ‘alived.’

Dan sebenarnya, masih banyak lagi aksesoris anti-mainstream yang ingin saya buat untuk koleksi gaya bohemian ini. Tidak hanya sebuah cincin yang berukir Ganesha atau kalung bertuliskan serigala saja. Tapi masih banyak lagi. Tentu saja aksesorisnya harus mengandung nilai-nilai personal dan sentimental berdasarkan pengalaman pribadi di dalam hidup saya.

Teknik Menulis Show Don't Tell

Saturday, July 6, 2019

Seorang penulis adalah pengamat. Maka, tulisannya harus menggambarkan hal-hal yang dia amati. Mengamati erat kaitannya dengan menggambarkan sebuah detail. Apalagi jika kita akan menuliskan hasil pengamatan tersebut ke dalam sebuah cerita. Detail yang wajar dan alami sangat diperlukan.

Ketika sebuah tulisan bisa merangsang dan melibatkan indera sang pembaca, maka tulisan itu akan mendorong mereka untuk membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam cerita. Tidak sedikit pembaca yang pada akhirnya menangis, tertawa atau bahkan merinding tatkala membaca sebuah tulisan.

Tapi, bagaimana jika sebuah tulisan hanya menerangkan sesuatu tanpa menuliskan detail yang cukup bagi para pembaca? Pastinya tulisan tersebut akan terasa hambar dan membosankan. Sehingga membuat orang malas untuk membacanya.

Perhatikan contoh di bawah ini:

Sanem yang sedang menonton televisi bergegas ke dapur sesaat setelah sang ibu memanggilnya. Sesampainya di dapur, Sanem diminta ibunya memasak sepanci besar sayur sop. Sementara itu sang ibu mengaduk kaldu. Tak lama kemudian, hand phone yang diletakannya di atas kulkas berbunyi. Sanem mengangkat teleponnya dan berbicara dengan seseorang.
"Baik, aku segera kesana," ujar Sanem sambil menutup telepon.
"Siapa yang meneleponmu?" tanya ibunya.
"Mr. Jan, Bu. Aku diminta ke kantor sekarang," ujar Sanem.

Perhatikan kembali contoh di bawah ini:

Suara nyaring Sang ibu yang memanggilnya, membuat Sanem yang tengah menonton TV terpaksa mengecilkan volume suara di televisi. Berusaha mendengar dengan jelas kata-kata ibunya. Yang ternyata meminta Sanem untuk membantunya memasak di dapur.

Sanem cepat-cepat mematikan televisi yang ditontonnya, remotenya dia simpan begitu saja di atas meja dan segera beranjak dari kursi. Aroma kaldu ayam semakin menyeruak tatkala Sanem tiba di dapur.

Sang ibu menunjuk tumpukan wortel dan buncis yang terletak di atas meja. Kemudian memberi Sanem sebuah pisau tajam untuk memotongnya menjadi ukuran yang lebih kecil. Sementara dirinya kembali sibuk dengan kegiatan mengaduk kaldu ayam di dalam panci. 

Buih-buihnya yang berwarna kuning mulai bermunculan. Aroma kaldu ayam semakin menyeruak memenuhi udara. Suasana hening saat itu. Pikiran Sanem berkelana pada banyak hal. Sang ibu juga tidak mengajaknya berbicara. Sibuk mengaduk kaldu di dalam panci.

Dalam suasana hening yang demikian, tiba-tiba handphone Sanem berbunyi. Gadis itu pun tersadar dari lamunannya. Dan langsung menyimpan begitu saja pisau yang sedang digunakannya untuk memotong wortel.

Cepat-cepat Sanem berjalan ke arah kulkas untuk meraih handphone-nya yang terletak di sana sambil diiringi tatapan mata ibunya. Gadis itu berbicara dengan nada suara yang sengaja dipelankan pada seseorang di sebrang telepon.

“Baik. Aku akan segera kesana,” ujarnya sambil menutup telepon. Wajah Sanem berubah murung. Lalu dengan gusar kembali ke meja.

“Siapa yang meneleponmu?” tanya ibunya curiga karena Sanem berbicara dengan nada suara tidak seperti biasanya. Sanem terdiam sesaat.

“Mr. Jan, Bu,“ katanya. “Aku diminta ke kantor sekarang.”

Bagaimana perasaanmu saat membaca contoh tulisan yang kedua? Tentu saja kamu pasti merasa bahwa tulisan di contoh yang kedua lebih hidup daripada tulisan di contoh yang pertama. Tulisan ini memang dituliskan dengan menggunakan teknik penulisan show don’t tell. Sehingga indera para pembaca dilibatkan untuk membayangkan situasi dalam cerita.

Bayangkan bila seorang penulis menuliskan sebagian besar isi ceritanya dengan menggunakan gaya penulisan pertama. Mungkin orang-orang akan langsung merasa bosan meskipun baru membaca dua tiga halaman bukunya. Lain halnya jika penulis menuliskannya dengan menggunakan teknik penulisan show don’t tell. 

Situasi yang dijelaskan dengan singkat dan kurang detail di contoh pertama, ditambahkan penjelasan yang lebih banyak di contoh yang kedua. Sehingga pembaca tidak hanya diajak untuk sekedar tahu tetapi juga untuk memahami dan merasakan situasi yang sedang terjadi dalam cerita. 

Bagaimana aroma sayur sop menyeruak dalam udara, suasana hening ketika memasak di ruang dapur bersama ibu, dan perasaan curiga yang muncul dalam benak si ibu tatkala melihat sikap anaknya yang berubah saat menerima telepon. Itulah yang dinamakan dengan teknik menulis show don’t tell.

Memang tidak mudah untuk menulis menggunakan teknik show don’t tell. Apalagi jika kita jarang berinteraksi dengan berbagai macam manusia sebagai sumber pengetahuan untuk cerita yang akan kita tulis. Selain rajin berinteraksi, kunci untuk menulis menggunakan teknik show don’t tell adalah rajin mengamati.