Kenapa Orang Tidak Suka Membaca

Wednesday, May 15, 2019



Salah satu alasan terbesar kenapa kita harus membaca buku adalah untuk menambah ilmu pengetahuan. Tapi sayangnya, masih banyak orang yang tidak suka membaca buku bahkan membencinya. Selain itu masih banyak pula manusia-manusia di dunia ini yang meremehkan orang-orang yang hobinya membaca. Padahal membaca memberikan kita banyak keuntungan. Keuntungan membaca selain untuk mendapatkan pengetahuan juga untuk melatih kepekaan dan rasa empati. 

Di zaman yang serba individualis ini, orang-orang dengan sikap empati sudah semakin langka, tergerus dan tergantikan oleh orang-orang dengan sikap materialistis, narsis dan apatis. Oleh karena itu, sebagai orang yang concern pada dunia pendidikan dan tertarik pada literasi, saya miris sekali ketika melihat generasi muda Indonesia saat ini terutama para siswa usia sekolah dasar hingga menengah, yang minat bacanya hanya bertahan di level itu-itu saja; sebatas membaca iklan, pesan singkat dan berita gosip. Tidak heran, jika tingkat literasi Indonesia di tahun 2018 terpuruk di peringkat 62 dari 70 negara berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PISA. Dan kemerosotan mental banyak terjadi dimana-mana yang diakibatkan karena kurangnya membaca.

Dari berbagai macam alasan yang melatar-belakangi keengganan orang-orang untuk membaca, sebenarnya ada tiga alasan utama yang membuat seseorang tidak suka membaca.

1. Membaca Nampak Tidak Keren

Sudah sejak lama kegiatan membaca diasosiasikan dengan sesuatu yang membosankan karena cukup duduk sendirian dan konsentrasi kamu sudah bisa membaca. Sementara itu kita tahu bahwa dunia tempat kita tinggal ini di dominasi oleh orang-orang ekstrovert; manusia-manusia petualang haus perhatian yang lebih senang mengobrol dan traveling alih-alih membaca.

Sehingga wajar saja jika banyak orang di luaran sana menghakimi kegiatan membaca buku sebagai aktivitas yang membosankan dan tidak mengasyikan karena memang presentase orang-orang yang senang membaca itu sangat langka dibandingkan keseluruhan penduduk dunia.

Selain itu hal ini juga diperparah dengan munculnya sebutan kutu buku yang dialamatkan kepada orang-orang yang senang membaca tersebut. Sebutan ini seringkali bukan ditujukan sebagai apresiasi pada yang menerima tetapi sebagai sarana mengejek dan mencela yang semakin diperparah dengan image kutu buku dalam tontonan yang digambarkan tidak menarik. 

Dua alasan ini pada akhirnya menumbuhkan mindset pada sebagian besar masyarakat Indonesia yang penduduknya masih awam akan manfaat literasi bahwa membaca buku itu tidak keren sama sekali. Hanya orang-orang yang kurang gaul dan tidak punya banyak teman yang melakukannya. Padahal, banyak orang-orang hebat di dunia ini dari mulai ilmuwan hingga pengusaha adalah para pembaca buku yang sangat akut.

2. Materi Bacaan Yang Tidak Menarik

Bagi orang yang awam akan literasi, menemukan materi bacaan yang menarik itu bisa sangat penting karena jika bacaannya menarik diharapkan hal tersebut mampu menumbuhkan motivasi untuk membaca buku lebih banyak lagi. Sayangnya, kesempatan ini seringkali disia-siakan terutama oleh pemerintah. 

Pemerintah seolah hanya aktif menyerukan pada sekolah-sekolah agar siswanya melek literasi dengan mengadakan program PPK (15 menit membaca sebelum belajar) dan memperbanyak kuantitas buku-buku pengetahuan dan buku-buku pengarang Indonesia zaman dulu tanpa mempertimbangkan bahwa anak-anak usia tertentu mempunyai topik-topik bacaan khusus yang mereka sukai seperti novel remaja (teenlit) yang sedang update dan jumlah kata yang mampu mereka baca dalam setiap bagiannya dalam rentang waktu tertentu. 

Berapa banyak masyarakat Indonesia yang selama hidupnya hanya sebatas pernah membaca novel klasik Sitti Nurbaya atau Salah Asuhan yang cukup berat itu pun hanya sekilas ketika di bangku SMA dan karena ditugaskan oleh guru Bahasa Indonesia. Yang ujung-ujungnya tetap membuat mereka tidak tertarik untuk membaca dan malah mengasosiasikan membaca sebagai kegiatan yang tidak menyenangkan. 

Buku-buku di perpustakaan yang tidak update dengan perkembangan zaman, jumlah kata yang terlalu banyak di setiap bagiannya serta jenis bacaan yang hanya itu-itu saja ibarat air yang memadamkan minat baca anak-anak Indonesia yang masih perlu untuk terus dimotivasi dengan bacaan-bacaan yang menarik. 

Saya tidak mengatakan bahwa karya sastra klasik Indonesia seperti Sitti Nurbaya dan Salah Asuhan tidak menarik. Kedua buku itu justru sangat bagus dan menarik dan anak-anak harus membacanya. Tapi, anak-anak juga perlu diperkenalkan dengan jenis buku lain yang update dengan perkembangan zaman. 

Mencontoh pada negara-negara maju di Eropa sana, anak-anak usia sekolah sedari awal sudah diperkenalkan dengan buku-buku klasik dan populer yang sedang update dari negaranya dan juga luar negeri yang sudah disadur ulang oleh pemerintah dimana jumlah kata per-bab-nya disesuaikan dengan jenjang pendidikan sang anak. Selain itu, di setiap chapter disisipkan pertanyaan-pertanyaan terkait bab yang mereka baca dan harus mereka jawab. Sehingga guru yang mengajar di kelas bisa memastikan bahwa anak-anak yang melaksanakan program PPK memang benar-benar membaca bukan hanya sekedar membolak-balik halaman buku. 

Seharusnya Indonesia juga seperti itu. Pemerintah seyogyanya menyiapkan tim untuk menyadur buku-buku klasik dan populer dalam dan luar negeri yang jumlah kata di setiap bab dalam buku yang disadur disesuaikan dengan rentang usia, waktu dan pendidikan anak. Lalu menyebarluaskan buku-buku saduran tersebut ke sekolah-sekolah sebagai fasilitas untuk menunjang program PPK melek literasi dimana program PPK yang saat ini digalakan masih mengandalkan para siswa untuk membawa buku masing-masing supaya diganti jadi difasilitasi oleh sekolah. Agar tidak ada lagi anak yang beralasan tidak membawa buku saat program PPK dilaksanakan.

3. Kemampuan Membaca Yang Kurang

Orang-orang dengan kemampuan membaca yang kurang dan jarang dilatih akan sulit untuk menikmati kegiatan membaca buku-buku bagus yang berkualitas karena membaca itu menuntut konsentrasi. Ketika orang-orang ini membaca dengan tempo yang lambat demi memahami alur atau pesan yang ingin disampaikan penulis, hal tersebut bisa mengakibatkan mereka frustasi. Apalagi jika ditambah dengan bahan bacaan yang tidak menarik. 

Tentunya hal ini bisa membuat mereka merasa tidak kompeten. Sehingga bagi orang-orang ini membaca adalah kegiatan yang membuang-buang waktu saja dan tidak menyenangkan. Oleh karena itu mereka jadi enggan untuk membaca.

Itulah menurut saya 3 alasan utama yang sebenarnya melatar-belakangi seseorang malas membaca buku. Padahal orang-orang yang membaca buku itu keren lho. Apalagi jika dia seorang perempuan. Pasti masih banyak yang belum pernah baca kutipan bahwa The most dangerous creature on Earth is a well-read woman! Bukan pria apalagi makhluk mitologi. 

Kok bisa gitu? Bisa dong! Karena a well read woman bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak suka membaca. Tengok saja sejarah, wanita-wanita dengan insting kecerdasan yang diasah dari hobi membaca bahkan bisa menumbangkan sebuah negara, menjebloskan orang ke penjara bahkan menghancurkan karier dan kehidupan seseorang.

Ngobrolin 4 Tempramen Kepribadian

Tuesday, May 14, 2019

Temprament

Bagi saya yang setuju dengan kata-kata Mr. Darcy yang bilang kalau, “People themselves alter so much, that there is something to be observed in them forever,” belajar untuk mendalami seluk-beluk persoalan yang menyangkut jiwa-jiwa manusia selalu membuat saya tertarik. Maka dari itu, sekitar bulan Maret yang lalu saya memutuskan untuk mengikuti seminar psikologi di salah satu hotel di Bandung, tepatnya di Setiabudi. 

Saya rela bela-belain nabung dan jajan hemat demi bisa dapetin ilmu di seminar psikologi tersebut karena tiket masuknya lumayan mahal. Dan setelah ikut seminarnya, sekarang saya ingin share sebagian ilmu yang saya dapatkan disana. Meskipun nggak mungkin semuanya ya karena bahasannya banyak banget.

Mengingat psikologi itu ternyata ilmu yang sangat penting dan berdampak pada banyak hal dalam kehidupan, saya mungkin bakalan kasih calon pasangan saya nilai plus ketika dia melek bahasan tersebut. (Maap, curhat.. hehehe…)

Bagi sebagian orang mungkin kalian udah nggak asing lagi dengan kata-kata koleris, sanguinis, melankolis dan phlegmatis. Itu adalah nama empat tempramen yang dipopulerkan pertama kali oleh Aristoteles. Keempat tempramen tersebut membentuk perilaku dan sikap yang berbeda-beda pada masing-masing individu.

Koleris misalnya dicirikan dengan tipe manusia yang galak, tegas dan to the point. Sementara sanguin dicirikan dengan tipe manusia yang ceria, supel dan suka menggampangkan sesuatu namun sulit menyimpan rahasia. Berbeda lagi dengan manusia tipe melankolis yang berkebalikan dari si sanguin dimana manusia bertipe ini cenderung perfeksionis, murung dan pendiam namun sangat cerdas dan analitis. Dan tipe terakhir adalah si phlegmatis yang menurut psikolog di seminar kemaren sih katanya adalah tipe manusia yang menjadi jodohnya semua orang. (Cieee….!!!)

Kalau saya ingat-ingat lagi pengalaman hidup diri sendiri, ternyata saya yang melankolis ini memang paling nyambung berinteraksi dengan orang-orang yang tipenya phlegmatis. Memang bener kata si psikolog, tipe phlegmatis adalah jodohnya semua orang karena dia cocok dengan semua tipe kepribadian. Sangat pengertian, santai namun cukup humoris. Katanya hampir tidak ada pasangan yang salah satunya bertipe phlegmatis apalagi yang dua-duanya tipe phlegmatis yang bertengkar atau konsultasi ke psikolog.

Sementara itu, orang-orang dengan tipe kepribadian koleris sangat tidak disarankan memilih pasangan diluar tipe kepribadian phlegmatis. Bayangkan tokoh perempuan Hela dalam The Avengers; kakak kandung Thor yang tipenya koleris dominan berpasangan dengan Sule; komedian bertipe sanguin. Nggak cocoklah! Bisa-bisa Hela dibikin ngamuk dan kesel setiap hari. Alih-alih nanggepin lelucon pasangannya, mungkin Hela bakalan mengutuk Sule jadi batu. Atau misalnya bayangkan kembali tokoh Hela berpasangan dengan Thanos yang sama-sama koleris. Pasti dari dulu si Thor dan si Loki udah ngungsi ke Planet Bumi karena ada perang dunia di Asgard. Pasangan yang paling cocok untuk tipe koleris adalah tipe phlegmatis. Titik.

Terus gimana dengan tipe melankolis? Kalau yang saya tahu dari seminar kemarin sih, sangat tidak disarankan juga dengan tipe koleris. Karena koleris yang to the point akan sering menyinggung perasaan si melankolis yang sensitif. Misalnya:

Setelah sekian jam milih-milih baju di mall. Terus nyobain di ruang ganti.

Melankolis (Cewek) : “Yang, aku bagus nggak pakai baju yang ini?”
Koleris (Cowok) : “Nggak bagus. Kayak karung.” 

(Nggak niat nyinggung padahal. Cuman to the point)

Melankolis: “Oh..." 

(Dalem hati: Tega banget ya kamu ngehina selera aku...)

*Tersinggung berat– inget terus – berubah murung – dendam sampai kiamat* 

Namun, tidak seketat koleris dalam berpasangan melankolis masih bisa memilih pasangan tipe sanguin dengan syarat sifat sanguinnya tidak terlalu dominan.

Nah, untuk menentukan kalian tipe kepribadian apa secara sederhana, caranya sangat gampang. Cukup siapkan kertas HVS dan pulpen. Lalu penuhi kertas HVS tersebut dengan tulisan kalian (harus terisi hingga bawah) dalam waktu lima menit saja.

Orang-orang koleris akan menulis dengan tulisan yang tajam dan lumayan susah dibaca. Tulisan dengan huruf “b” yang cekung ke dalam. Tidak bulat sempurna.

Sementara orang-orang sanguin akan menulis huruf dengan gaya yang berbeda-beda. Misalnya: Paragraf pertama dia akan menulis dengan huruf arial, paragraf kedua dengan monotype corsiva dan paragraf ketiga dengan times new roman. Intinya, saat menulis orang-orang sanguin tidak konsisten pada satu gaya.

Sementara itu tulisan orang-orang melankolis cenderung berjarak cukup jauh antara satu kata dengan yang lainnya. Karena diantara tipe kepribadian yang lain, tipe melankolis adalah orang-orang yang membutuhkan “me time” paling banyak. Bahkan ketika nanti dia sudah menikah.

Yang terakhir adalah tulisan tipe kepribadian phlegmatis. Bisa dibilang tulisan tipe kepribadian ini adalah yang paling lucu dan rapi diantara tipe kepribadian yang lain. Jika orang-orang ini menulis hurup “b” atau “p” maka bulatannya akan cembung sempurna.

Kira-kira setelah kalian ikutin tes sederhana ini kalian tipe yang mana? Share di kolom komentar dong. Kita ngobrol.

Perempuan Yang Menginspirasi

Tuesday, April 2, 2019

googleimage.search
Hidup di dunia patriarki dengan masyarakat yang masih menggantungkan nasib anak perempuannya pada harta kekayaan laki-laki menjerumuskan para wanita ke dalam mental yang tidak mandiri. Sehingga tujuan hidup mereka saat ini hanya berpusat pada bagaimana caranya menggaet pria kaya agar bisa hidup sejahtera. Tanpa mereka sendiri berniat untuk mengembangkan potensi-potensi lain yang ada dalam dirinya karena yang paling penting adalah menjadi cantik. Fenomena miris ini tidak hanya terjadi di dunia nyata tetapi juga banyak terjadi di dalam alur cerita novel. Para perempuan selalu digambarkan sebagai damsel in distress alias makhluk-makhluk indah menawan tapi lemah tak berdaya yang hanya menunggu untuk diselamatkan laki-laki.

Saya sendiri kurang tertarik membaca novel apabila tokoh perempuannya galau, teraniaya atau baperan. Oleh karena itu, kebanyakan novel-novel roman yang saya baca pasti bergenre klasik. Karena biasanya tokoh perempuan dalam novel-novel klasik itu memiliki karakter yang tangguh, dewasa dan tidak berlebihan. Selain itu alasan lainnya adalah karena dalam roman klasik tokoh perempuannya selalu menang. 

Selama ini perempuan-perempuan tangguh dengan kecenderungan feminisme yang kuat selalu mendapatkan pandangan miring dari masyarakat. Salah satu yang menjadi pemicu munculnya stigma negatif ini adalah pemahaman masyarakat akan feminisme itu sendiri. Bagi banyak orang feminisme adalah menyama-ratakan antara laki-laki dengan perempuan. Sehingga feminisme banyak dibenci terutama oleh kaum pria karena dianggap memicu pemberontakan wanita kepadanya. Yang pada akhirnya menempatkan wanita-wanita tersebut ke dalam situasi yang tidak sesuai dengan kodrat mereka yaitu sebagai lawan laki-laki.

Intinya, feminisme yang banyak dipahami di dalam masyarakat selama ini adalah jika laki-laki sanggup mengangkat puluhan kilo beban maka perempuan juga harus bisa. Dan segala hal yang menempatkan perempuan menjadi sosok maskulin yang membuang kodratnya sebagai wanita yang lemah lembut dan santun. Padahal feminisme bukanlah persoalan fisik semata tetapi lebih kepada persoalan moral.

Jika dikaitkan dengan tokoh perempuan di dalam novel, nyatanya tidak banyak penulis yang mampu menggambarkan perempuan dengan prinsip-prinsip feminisme tanpa membuatnya terlihat seperti laki-laki. Dari novel-novel yang saya baca, hanya ada beberapa tokoh perempuan yang bisa pas sempurna mewakili feminisme dengan definisi yang sudah saya jelaskan di atas tadi. Diantaranya:

1. Elizabeth Bennet - Pride & Prejudice
Dia adalah tipikal perempuan yang mindset perilakunya setingkat lebih modern dibandingkan wanita-wanita pada zamannya (sekitar tahun 1800-an di Inggris) Jika perempuan-perempuan di zamannya sebagian besar tidak suka membaca karena lebih suka bersolek untuk mendapatkan pria kaya, Elizabeth justru berbeda karena dia senang membaca dan mampu mengungkapkan pendapatnya dengan cara yang baik, akurat sekaligus juga cerdas. Padahal di zaman itu perempuan yang mengungkapkan pendapat akan dianggap lancang dan tidak pantas karena hal tersebut bisa menodai citra perempuan pendiam yang banyak diminati laki-laki. Sehingga jika dilakukan akan memperkecil kesempatan mereka untuk bisa menikah.

Selain itu, Elizabeth juga merupakan tipikal perempuan tangguh dengan prinsip feminisme yang kuat. Meskipun sempat tersinggung karena dibilang "berpenampilan lumayan" oleh Mr. Darcy, Elizabeth membalasnya dengan cara yang elegan. Alih-alih menerima ajakan dansa pria itu pada suatu kesempatan berdansa, Elizabeth menolaknya (meskipun pria itu kaya raya dan dikagumi oleh banyak wanita) namun alih-alih tersinggung, penolakan tersebut justru mampu membuat Mr. Darcy terpesona pada kepribadian Elizabeth dan mereview kembali pendapatnya akan diri Elizabeth.

Jika Elizabeth masih hidup hingga sekarang mungkin dia bukan tipe perempuan yang akan ngomong "gapapa" tapi sebenernya dalam hati benci dan terluka. Bukan juga tipe perempuan yang kalau marah bakalan menghukum pasangannya dengan silent treatment. By the way, silent treatment itu jahat banget lho. Elizabeth adalah salah satu tokoh perempuan feminis favorit saya yang selain anggun dan elegan, dia juga ceria, cerdas dan berwawasan.

2. Scarlett O'Hara - Gone With The Wind
Kalau kamu pernah baca novel legendaris Gone with The Wind karangannya Margaret Mitchell pasti nggak asing lagi dengan gadis keras kepala, manja dan tebar pesona bernama Scarlett O'Hara. Mungkin awal baca novelnya kamu bakalan gemas dengan sifatnya yang egois dan penuh tipu daya. Tapi transformasi Scarlett menjadi perempuan dewasa yang tangguh akibat bencana perang betul-betul keren.

Disaat perempuan-perempuan lain banyak yang depresi dan hanya pasrah menunggu bala bantuan karena situasi perang, Scarlett berinisiatif memimpin kelompoknya untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Scarlett yang dulu manja sudah tiada. Berganti dengan perempuan yang tangguh dan dewasa. Selain itu, Scarlett juga tetap semangat meskipun harus membangun kembali bisnisnya dari nol yang sempat hancur akibat perang hingga akhirnya dia berhasil mendulang kesuksesan yang besar.

3. Anne Elliot - Persuasion
Disaat banyak perempuan yang gampang baper dan suka bergosip, Anne Elliot mampu menampilkan dirinya sebagai sosok perempuan dewasa yang pandai mengendalikan emosi. Kebayang nggak sih ketika setiap hari harus dihadapkan untuk melihat mantan pacar yang masih dicintai sedang dekat dan diisukan dengan perempuan lain? Apalagi tanpa satu pun orang yang bisa dijadikan teman bercerita. Pastinya sulit dan nggak mudah. Itulah juga yang dirasakan oleh Anne Elliot. Tapi kerennya Anne bisa melewatinya dengan sangat elegan!

Jika Anne Elliot benar-benar hidup di dunia nyata saat ini, pastilah dia bukan tipe perempuan yang akan update status galau di medsos untuk curhat. Bukan pula tipe perempuan yang suka ikut campur urusan orang lain. Semua perasaan pahitnya akan dia telan dan simpan sendiri. Cukuplah Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai tempat dia mengadu dan mengobati diri. Sifatnya yang tenang dan dewasa mampu membuat Anne terlihat lebih tangguh jika dibandingkan dengan adiknya yang hobi bergosip dan mengeluh untuk hal-hal kecil walaupun adiknya tersebut sudah lebih dulu menikah dan punya tiga orang anak.

Meskipun Anne terlihat biasa-biasa saja dengan hidupnya namun sebenarnya dia juga sedang menghadapi masalah yang nggak bisa dibilang gampang. Anne sendiri digambarkan sebagai sosok yang berperangai lembut dan sopan tapi juga dengan kecenderungan feminisme yang kuat pada prinsip hidupnya. Sifat teguh Anne pada prinsipnya ini tidak lantas membuatnya nampak kasar atau terkesan seperti laki-laki. Anne malah tetap bisa terlihat sebagai seorang feminist garis keras meskipun dia seutuhnya berperilaku lemah lembut sebagai seorang perempuan. Jadi, siapa bilang kalau mau jadi feminist itu harus kasar? Mungkin kamu belum pernah kenalan sama Anne Elliot.

Akhir kata semoga kamu-kamu yang masih hidup di dunia nyata bisa mengambil pelajaran lewat kisah hidup perempuan-perempuan tangguh ini. Be fabulous and stay strong! See you!

Playlist Lagu Saat hujan

googleimage.search
Sebagian besar orang pasti akan setuju kalau aktivitas paling menyenangkan di musim hujan adalah selimutan. Dan urutan keduanya adalah dengerin lagu. Terinspirasi dari langit yang sering mendung akhir-akhir ini, saya jadi ingin share beberapa judul lagu yang lumayan nyaman untuk didengarkan jikalau nanti hujan turun. Berhubung banyak orang yang tiba-tiba bisa mendadak kangen kalau lagi hujan dan supaya kamu juga nggak merasa melankolis sendirian, 10 lagu slow dengan lirik yang meaningful ini siap menemani momen indahnya kamu di kala hujan.

1. Unbreak my heart - Toni Braxton (1996)
Bisa dibilang ini adalah lagu masterpiece-nya Toni Braxton. Jarang ada orang lain yang berhasil menyanyikan lagu ini sebagus Toni. Sepanjang saya lihat cover lagu ini lewat YouTube, satu-satunya penyanyi yang menurut saya berhasil bawain Unbreak my heart dengan suara dan penghayatan yang sempurna adalah Seal. Nggak heran juga sih kalau dia bisa nyanyiin lagu ini dengan bagus karena Seal adalah penyanyi soul profesional yang berhasil memenangkan penghargaan Grammy Award satu tingkat di bawah Mariah Carey dan sudah malang-melintang di dunia permusikan sejak lama.

2. My all - Mariah Carey (1997)
Lagu ini dibuat ketika Mariah Carey pulang berlibur dari Amerika latin dan terinspirasi oleh nada-nada musik tradisional disana. Makanya, kalau kamu dengerin lagu ini berasa ada aksen-aksen Meksiko yang terdengar sendu. Pertama kali dengerin lagu ini adalah ketika saya SMA. Ini adalah everlasting song yang selalu ada di playlist saya. Nggak pernah dihapus.

3. Soledad - Westlife (2000)
Kalau kamu lagi sedih karena kehilangan mungkin lagu ini bisa mewakili perasaan kamu yang lagi sendu. Karena lagu ini bercerita tentang kepedihan hati seseorang yang ditinggal mati pasangannya. Sama seperti judulnya yang menggunakan nama khas perempuan latin, lagu ini pun menambahkan unsur latin dalam aransemennya yang cukup terdengar Spanish.

4. You're not from here - Lara Fabian (1999)
Lagu-lagu Lara Fabian dikenal dengan liriknya yang sangat meaningful. Perlu pemikiran yang cukup dalam untuk mengartikannya. Kalau saya baca lirik lagu ini terkadang saya berpikir apa mungkin isinya adalah mengenai ibu yang kehilangan bayinya saat melahirkan? Sampai sekarang saya masih belum nemuin jawabannya. 

5. Fall Again - Glenn Lewis (2002)
Sebenarnya ini adalah lagunya Michael Jackson tapi dinyanyikan ulang oleh Glenn Lewis. Lagu ini menjadi terkenal saat dijadikan soundtrack film layar lebar Maid in Manhattan. Saya agak surprise juga ketika pertama kali tahu kalau lagu ini adalah lagunya Michael Jackson. Nggak nyangka aja Michael Jackson yang biasa nyanyi sambil nge-dance bisa punya lagu yang tipenya sendu melankolis kayak gini.

6. I still believe - Mariah Carey (1999)
Kalau saya dengerin lagu ini entah kenapa bawaannya selalu santai dan happy aja meskipun lagunya slow dan dengerinnya pas lagi hujan. Nggak bikin galau dan melankolis sama sekali. Ngomong-ngomong lagunya tentang apaan sih? Jadi lagu ini bercerita tentang perempuan yang percaya kalau yang namanya jodoh itu nggak akan kemana. Termasuk ketika seseorang yang dia inginkan sebagai jodohnya itu adalah pria yang dulu pernah mampir di hidupnya namun kini berpisah.

7. Sorry seems to be the hardest word - Blue feat Elthon John (2002)
Yang pertama terbayang dibenak ketika dengerin lagu ini adalah betapa aransemennya ciri khas musik-musik awal tahun 2000an banget. Kalau kamu suka musik dengan aliran soul dan R&B tapi nggak mau dicap norak karena dengerin boyband, lagu ini bisa jadi alternatif menarik untuk kamu dengarkan disaat hujan turun karena aransemennya beneran cool dan elegan. Apalagi di lagu ini Blue juga menggandeng musisi kenamaan Elthon John yang suaranya udah nggak usah diragukan lagi.

8. Timeless - Kelly Clarkson feat Justin Guarinni (2003)
Dilihat sekilas dari judulnya aja lagu ini udah kerasa romantis. Apalagi ketika kamu dengerin lagunya secara langsung. Bawaannya jadi melankolis akut dan puitis. Paling pas di dengerin waktu kamu dan dia lagi sayang-sayangnya. Nggak cuma dinyanyikan dalam versi Bahasa Inggris lagu  ini juga dinyanyikan dalam Bahasa Korea.

9. Yesterday - Glee (2013)
Lagu ini sebenarnya adalah milik band legendaris The Beatles. Tapi, kalau kamu ingin mendengarkan lagu Yesterday yang dinyanyikan oleh perempuan maka bisa dengerin lagu yang dicover oleh Glee ini. Fyi, Glee bukanlah nama penyanyi atau band tapi justru nama serial drama musikal yang dulu sempat tayang di Indonesia dan cukup populer. Film ini mengangkat tema-tema yang mendukung LGBT.

10. Sally's song - Corpse Bride (2005)
Patah hati terus sedih karena cinta ditolak mungkin udah biasa. Tapi gimana kalau patah hatinya akibat jadi arwah penasaran karena kamunya meninggal? Lagu yang menjadi soundtrack film kartun Corpse Bride inilah jawabannya. Udah pernah nonton filmnya belum? Menurut saya filmnya nggak menyeramkan sama sekali. Saya justru malah sedih ketika nonton filmnya. Begitu juga ketika saya dengerin lagu soundtrack-nya. Sedikit penggalan liriknya: "And will we ever end up together? No, I think not. It never to become for I am not the one." Sedih nggak sih?

Itulah 10 lagu yang  paling sering saya dengarkan kalau lagi turun hujan. Kira-kira ada lagi yang mau nambahin nggak? Tulis di kolom komentar ya.

5 Kelakuan Yang Bisa Menurunkan Tingkat Kegantenganmu di Media Sosial

Monday, April 1, 2019


googleimage.search

Setiap laki-laki di belahan bumi manapun pasti pengen keliatan ganteng. Selain bisa bikin kamu pede, kegantengan juga bisa meningkatkan daya tarik kamu di mata perempuan. Ngomong-ngomongin soal kegantengan, sayangnya hal itu nggak pernah punya tolak ukur yang jelas. Karena kegantengan sifatnya relatif. Pasti pernah denger dong kata-kata ganteng itu relatif tapi jelek itu mutlak? Hehehe.. Makanya, tiap orang pasti punya definisi kegantengannya masing-masing. Ada yang definisi gantengnya asal punya tatto dan piercing dimana-mana; udah langsung ngerasa paling ganteng. Ada juga yang definisi gantengnya cukup rambut model old-school dengan gaya berpakaian eksekutif.

Sekilas kalau kita ngomongin tentang definisi ganteng, memang kebanyakan hanya membahas fisik dan penampilan. Padahal masih ada unsur lain yang bisa menentukan tingkat kegantengan seseorang; yaitu sikap.

Sikap baik yang bisa meningkatkan daya tarik ini nggak cuma perlu ditunjukan di dunia nyata aja. Tapi juga perlu ditunjukan di dunia maya. Karena sekarang banyak orang yang juga bersosialisasi di sana. Terutama lewat media sosial. Nggak mau dong kalah saingan hanya gara-gara kurang ganteng?

Tapi apakah bersosialisasi di dunia maya sama halnya seperti bersosialisasi di dunia nyata? Jawabannya tentu aja nggak! Karena dua-duanya sama sekali berbeda. Kalau di dunia nyata kalian bisa senyum, salam, sapa sambil bertatap muka dan ngobrol sepuasnya secara langsung, lain halnya dengan bersosialisasi di dunia maya. Ada sejumlah etika yang perlu diperhatikan. Di bawah ini ada beberapa hal yang sebaiknya tidak kamu lakukan saat bersosialisasi di dunia maya. Misalnya saat kamu tengah aktif menggunakan media sosial. Agar tingkat kegantenganmu tidak berkurang. Apa aja? Check it out!

1. Terlalu Sering Update Status
Dari sekian banyak fitur di media sosial, fitur update status mungkin adalah yang paling digemari banyak orang karena membuat penggunanya merasa diperhatikan. Apalagi nggak sedikit orang yang mengartikan jumlah tanda love di Instagram atau komentar di Facebook mereka sebagai bentuk care atau kode cinta dari gebetan. Kombinasi antara sikap gampang baper dan meningkatnya hormon endorfin pemicu rasa bahagia ini menimbulkan efek ketagihan yang bisa mendorong keinginan untuk terus menerus update status. Padahal kita tahu bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu ujung-ujungnya pasti nggak bagus. Keseringan update status bakal bikin orang-orang menghakimi kamu kurang kerjaan atau malah pengangguran. Apalagi kalau isi statusnya nggak penting.

2. Menulis Caption Galau
Semua orang pasti pernah curhat. Tapi sayangnya masih banyak orang yang nggak tahu tempat kalau mau curhat. Mereka bisa curhat dimana aja termasuk di media sosial. Padahal bisa jadi curhatannya malah bikin orang-orang yang baca ngerasa risih. Mau unfollow nggak enak. Gimana mau unfollow kalau nyatanya kamu adalah keluarga atau temen deket mereka sendiri? Bisa-bisa kamu tersinggung. Karena curhat itu sesuatu yang sifatnya personal, kurang baik kalau sampai dijadiin konsumsi publik. Apalagi biasanya isi curhatan itu nggak jauh-jauh dari yang namanya kegalauan. Yang namanya orang lagi galau  pasti perasaannya lagi kacau, berasa lemah, sedih dan tak berdaya. Kebayang nggak sih kalau kegalauannya dipakai inspirasi buat nulis caption di medsos yang nggak nyambung sama fotonya? Selain bikin kamu terkesan punya mental yang rapuh dan emosi yang tidak stabil, kelakuan kayak gini juga bisa memicu orang-orang yang suka ghibahin kamu di belakang untuk semakin seru ngomongin kamu.

3. Kelewat Bijaksana
Dari berbagai macam manusia yang suka posting kutipan di medsos; orang-orang yang suka banget posting kutipan bijak adalah yang paling malesin. Sebenernya hal ini nggak masalah sih jika karakter mereka mencerminkan kutipan-kutipan bijak tersebut. Tapi, kalau secara karakter atau usia ternyata masih jauh dari kata seimbang; mending jangan deh. Alih-alih terinspirasi, orang-orang justru akan menyepelekanmu dan merasa bahwa sikap kelewat bijaksana kamu ini terkesan palsu dan dibuat-dibuat. Alih-alih dewasa, kamu malah nampak seperti sedang modus demi mencari perhatian seseorang.

4. Hobi Selfie
Sebagian besar wanita mengaku lebih senang melihat foto-foto pria yang sedang beraktivitas atau berkumpul bersama dengan teman-teman prianya dibandingkan hanya melihat foto selfie si pria yang menampilkan keseluruhan wajah atau close-up. Pria yang digadang-gadang  sebagai makhluk yang bertugas untuk memimpin dan melindungi kelompok, keberadaanmu pada suatu komunitas atau perkumpulan orang-orang (meskipun hanya dalam foto) secara tidak langsung memberi kesan maskulin, keren dan ganteng. Oleh karena itu sebaiknya hindari foto-foto close up atau selfie. Alih-alih perbanyaklah foto yang menunjukan aktivitas menyenangkan bersama orang-orang yang berbeda.

5. Pamer Kekayaan Pribadi
Selain alasan keamanan, pamer-pamerin harta kekayaan pribadi di media sosial itu emang nggak perlu sih sebenernya. Selain bisa mengundang tindak kejahatan, kadang-kadang kita perlu juga untuk tenggang rasa sama orang lain. Masih banyak orang-orang di luar sana yang untuk makan aja susah. Jangan sampai kita malah bikin mereka nggak bersyukur karena ngeliat postingan kita yang lagi pamer harta. Tahu nggak apa yang paling cepet bikin orang yang paling ganteng sekalipun jadi keliatan nggak ganteng? Yap betul! Sifat sombong.

Bandwagon Effect di Dunia Millenial

Friday, March 29, 2019


googlesearch.image
Sebenarnya jika kita jeli ada begitu banyak fenomena unik di sekitaran kita yang menarik untuk ditulis. Dan tulisan ini saya buat di tengah-tengah fenomena unik tersebut. Khususnya yang menimpa kalangan anak muda yang dituntut untuk kreatif dan berprikir kritis yang justru malah terlena dengan dampak kurang baca dan kurang berpikir. Semenjak media sosial pertemanan menjadi booming beberapa tahun yang lalu, anak-anak muda yang aktif bermedia sosial menjelma menjadi para netizen yang mengikuti berbagai macam trend yang dibawa oleh arus teknologi internet. Para anak muda menjadi tidak asing lagi dengan istilah-istilah kekinian semacam follback atau retweet. Dunia maya menjadi wadah baru dan tempat bagi anak-anak muda untuk bersosialisasi.

Bersosialisasi di dunia maya ataupun di dunia nyata secara teori sama saja. Dua-duanya harus punya bahan obrolan. Internet dengan segala isinya menawarkan berbagai macam bahan obrolan. Dari artikel hingga berita. Dari lirik lagu hingga kutipan.

Kemudahan mengakses internet yang serba instan ini membuat para anak muda berada di zona nyaman yang berbahaya bagi mereka. Dikatakan berbahaya karena orang-orang yang berada di zona nyaman biasanya akan malas untuk bertumbuh, untuk berpikir dan untuk menjadi lebih baik lagi. Sehingga hal ini akan menjerumuskan mereka ke dalam mental ikut-ikutan.

Dalam psikologi, fenomena ikut-ikutan ini disebut dengan Bandwagon Effect. Bandwagon effect mengacu pada kecenderungan orang-orang untuk mengadopsi sesuatu seperti perilaku, gaya hidup, atau sikap orang lain hanya karena “orang lain melakukannya.” Hal ini bisa terjadi karena individu hidup mengikuti tekanan dan norma-norma kelompok. Sehingga kecenderungan untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh kerumunan menjadi lebih besar.

Contoh Bandwagon Effect yang paling jelas pada generasi milenial adalah ketika banyaknya anak-anak muda yang memposting quotes dalam akun media sosial mereka. Dari mulai quotes galau hingga quotes tentang kehidupan. Menariknya, mereka melakukan ini sebagai cara untuk bersosialisasi.

Namun pada kenyataannya tidak semua kutipan yang mereka posting di media sosial tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan yang sebenarnya lho!

Seperti misalnya kutipan ini: “Biarkanlah hidup mengalir seperti air.”

Untuk orang-orang dengan pola pikir dewasa yang sudah bisa membedakan antara takdir dengan nasib dan apa yang masih bisa dan tidak bisa untuk diusahakan serta sudah mengalami kerja keras beserta pahit manis, asam-garamnya kehidupan, membaca kutipan tersebut mungkin bisa membuat mereka untuk sedikit lebih santai dalam menjalani hidup yang keras ini. Tidak depresi dengan kegagalan karena hidup sudah ada yang mengatur.

Namun bagi para anak muda milenial yang baru saja memasuki fase awal kehidupan yang sebenarnya, kutipan yang menginspirasi orang untuk jatuh pada mental let it flow ini sangat berbahaya. Bisa kita saksikan bahwa tidak sedikit orang yang pada akhirnya kesulitan mempertahankan pekerjaan mereka atau bahkan kesulitan mencari pekerjaan padahal masih berada di usia produktif karena dulu di masa mudanya pernah punya mental let it flow yang terbawa hingga dewasa.

Di saat orang lain jatuh bangun menata kehidupannya, orang-orang dengan mental let it flow ini dengan seenaknya hanya bersandar pada nasib dan prinsip biarkanlah hidup ini mengalir seperti air. Mereka tidak sungguh-sungguh mempersiapkan kehidupan mereka. Padahal kita semua tahu bahwa air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tidak pernah ke tempat yang lebih tinggi.

Millenials should haven’t posted quote like this or make this quote their own quote of life.

Sebagai generasi milenial yang belum pantas dapat julukan lansia dan pensiun dari pekerjaan, harusnya sih posting quote-nya yang menyemangati hidup dan menginspirasi diri sendiri dan orang lain untuk berkarya dong, ya. Bukannya kutipan-kutipan galau apalagi nyindir.

Setelah baca ini… kira-kira sekarang kamu mau posting quote yang mana nih? Kasih tahu saya di kolom komentar dong!  

Langkah Awal Mencintai Diri Sendiri

Saturday, March 2, 2019


googlesearch.image

Pengetahuan akan diri sendiri adalah langkah pertama untuk mencintai diri sendiri. Dan mencintai diri sendiri tidaklah sama dengan egois. Lalu apa bedanya egois dengan mencintai diri sendiri? 

Egois itu mendahulukan kepentingan pribadi namun dibarengi dengan sikap merugikan orang lain. Sementara mencintai diri sendiri, meskipun mendahulukan kepentingan pribadi namun tidak diiringi dengan sikap merugikan orang lain. 

Sama halnya ketika kita ditanya apa bedanya ekspektasi dengan standar. Standar adalah ketika kamu mengetahui dan bisa menjelaskan secara “spesifik” apa yang bisa dan tidak bisa kamu toleransi. Sementara ekspektasi adalah ketika kamu menuntut bahwa segala apa yang kamu miliki, kamu terima atau sedang kamu jalani akan selalu bisa “berubah” seperti apa yang kamu inginkan. Kamu wajib punya standar tapi tidak wajib punya ekspektasi. Dan sekali lagi: standar itu berbeda dengan ekspektasi. 

Ngomong-ngomongin soal mencintai diri sendiri bagaimana sih cara melakukannya?

Mungkin tiap orang punya versi yang berbeda-beda dalam mencintai diri mereka sendiri. Bagi saya pribadi, cara pertama untuk mencintai diri sendiri adalah dengan terlebih dulu mengenali diri saya sendiri. Caranya adalah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat saya berpikir mengenai apa yang saya apresiasi dalam kehidupan ini, hal-hal apa saja yang bisa dan tidak bisa saya terima, apa yang saya sukai dan tidak saya sukai. Berikut juga dengan nilai-nilai yang saya anut dan bagaimana cara saya dalam memandang kehidupan. 

Iseng-iseng saya mengumpulkan 100 pertanyaan yang saya tujukan untuk diri saya sendiri. Secara personal, menjawab pertanyaan-pertanyaan ini cukup menyenangkan untuk diri saya pribadi. 
  1. Apakah kamu secara umum optimis atau pesimis?
    “Optimis, dong. Saking optimisnya saya pernah yakin dia bisa berubah. Hahaha…"
  2. Jika seandainya bisa apa yang ingin kamu ubah dalam hidupmu?
    “Sekolah kali ya. Soalnya dulu waktu SMP-SMA cita-citanya masuk Islamic Boarding School biar bisa lebih banyak belajar tentang agama."
  3. Aplikasi apa yang paling sering kamu gunakan?
    “Whatsapp.”
  4. Apa pujian terbaik yang pernah kamu terima?
    “Teteh tuh anak Mamah yang paling sholeh…” 
  5. Jika kamu adalah sebuah warna; warna apakah kamu?
    “Hitam.”
  6. Apa saja 3 hal yang tanpanya hidupmu hampa?
    “Keyakinan, handphone, peradaban modern," (a.k.a: mall, bioskop, café, tempat wisata, fasilitas hidup)
  7. Tentang apakah terakhir kali kamu berargumen?
    “Tentang kelakuan netizen. Penting ya emang harus komentarin sadis kehidupan orang lain yang bahkan orang yang kita komentarin aja nggak kenal sama kita. Intinya sih isi argumennya: Gak usah ikut campur urusan orang lain. You don’t even know them!” 
  8. Bagaimana kamu bertemu sahabatmu?
    "Awalnya kita sekelas pas dulu waktu SMA. Gak sebangku sih tapi kursinya tetanggaan. Dia orangnya baik dan care. Bukan tipe-tipe temen yang suka ngomongin kejelekan orang lain di belakang atau ngeremehin orang lain. Awalnya kita suka main bareng. Dari mulai ngerujak bareng, renang bareng, belanja bareng sampai ketemuan sama cowok gebetan bareng-bareng.”
  9. Apakah kamu punya koleksi?
    "Punya. Sebagian besar buku psikologi dan spiritual. Ada novel juga tapi kebanyakan novel sastra klasik Eropa (Inggris dan Rusia)
  10. Apa yang tidak pernah ingin kamu ubah?
    "Agama sama gender dong ya."
  11. Apa kata-kata favorit kamu?
    “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb-nya. Dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Qs. Al-Baqarah: 45-46)
  12. Apakah kamu berpikir bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan indah?
    “Kadang berpikir gitu sih. Namun hanya jika kita mengikuti tuntunan agama dengan benar.”
  13. Siapa orang terakhir yang hari ini kamu ucapkan I love You?
    “Rahasia dong.”
  14. Suara apa yang membuat kamu paling terganggu?
    “Suara orang yang marah-marah.”
  15. Apakah kamu selalu mengerjakan tugas-tugasmu tepat waktu?
    “Selalu.”
  16. Kemana pertama kali kamu berlibur tahun ini?
    “Belum liburan kemana-mana. Masih di Bandung aja.”
  17. Apakah kamu bisa dideskripsikan sebagai seseorang yang spontan?
    "Kayaknya nggak deh. Soalnya saya lebih suka jika segala sesuatu itu ada perencanaan matangnya.”
  18. Apakah kamu suka membaca horoskop?
    "Nggak suka."
  19. Jika kamu adalah sebuah emoji; kira-kira emoji manakah yang paling cocok untuk menggambarkan dirimu?
    “Nggak ada emoji yang cocok. Semuanya kayak saya tapi sekaligus kayak bukan saya.” 
  20. Bagaimana kamu bereaksi pada kritikan?
    “Kalau kritikannya membangun ya terima aja. Jadikan itu bahan introspeksi untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.”
  21. Apakah kamu terlalu “hot” atau terlalu “cold?”
    “Mostly, terlalu cold.”
  22. Apakah kamu percaya hantu?
    “Percaya.”
  23. Berapa lama waktu bagi kamu untuk berdandan?
    “Kurang lebih setengah jam.”
  24. Apakah kamu punya hubungan yang baik dengan kedua orangtuamu?
    “Punya.”
  25. Apakah ada seseorang yang kamu rindukan saat ini?
    “Ada dong.”
  26. Hal apa yang paling kamu sesali jika direnungi saat ini?
    “Umur segini masih aja nyusahin orangtua.”
  27. Jika bisa apakah kamu ingin menjalani hidup seperti para tokoh dalam film-film atau novel-novel favoritmu?
    “Ngga yakin. Kadang pengen tapi kadang juga nggak. Tergantung suasana hati.”
  28. Bagaimana cara kamu ingin meninggal?
    “Yang wajar aja. Tenang, khusnul khotimah, dikelilingi keluarga.”
  29. Kira-kira apa yang orang pikirkan saat melihatmu pertama kali?
    “Wah, kayaknya dia cewek jutek nih….” 
  30. Siapa yang paling mengetahui dirimu yang sesungguhnya?
    “Tuhan yang Maha Segalanya.”
  31. Apakah kamu tipe orang yang sering datang tepat waktu, datang lebih cepat atau datang terlambat?
    “Mostly, datang lebih cepat, sih.”
  32. Apa hal yang paling tidak kamu sukai?
    “Tidak punya tujuan; sesuatu yang nggak jelas.”
  33. Apakah kamu ingin kembali ke masa lalu jika kamu bisa?
    “Iya ingin. Tapi hanya untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang udah diperbuat bukan untuk tinggal menetap disana.” 
  34. Apakah kamu percaya pada dirimu?
    “Percaya.”
  35. Kapan terakhir kali kamu berbelanja online?
    “Kemarin tanggal 1 Maret. Beli buku psikologi Pemulihan Jiwa.”
  36. Apakah kamu lebih mudah memaafkan atau melupakan?
    “Memaafkan.”
  37. Siapa orang yang kamu kenal yang menurutmu orang yang paling pintar?
    “Ibu.”
  38. Apa 2 kualitas paling penting yang harus ada dalam diri pasanganmu?
    “Mampu berkomunikasi dengan baik dan bisa membahagiakan diri sendiri.”
  39. Apa mata pelajaran favoritmu ketika dulu sekolah?
    "Bahasa Inggris."
  40. Apakah kamu sedang jatuh cinta sekarang?
    “It can be yes or it can be no.” 
  41. Pernahkah kamu mematahkan hati seseorang?
    “Pernah.”
  42. Apakah kamu lebih suka mendengarkan lagu atau menonton televisi?
    “Mendengarkan lagu.”
  43. Siapa orang yang paling peduli padamu?
    “Orang tua.”
  44. Bagaimana kamu akan menghabiskan uang ratusan juta?
    “Yang pasti 2.5% untuk zakat. Setelah kebutuhan pokok terpenuhi, sisanya ditabung sambil memikirkan bagusnya investasi apa agar bisa bertambah.”
  45. Apa terakhir kali mimpi yang kamu ingat?
    “Mimpi lari dari gedung lantai dua di kampus.”
  46. Siapa orang yang terakhir kali melihatmu menangis?
    “Lupa. Udah jarang nangis juga, sih.”
  47. Apakah kamu akan memberikan kesempatan kedua?
    “Tergantung jenis masalahnya dan seberapa fatal kejadiannya.”
  48. Apa hal terakhir yang biasa kamu lakukan sebelum pergi tidur?
    “Cuci muka dan gosok gigi.”
  49. Yang manakah tahun terbaik dalam hidupmu?
    “2012”
  50. Apa nasehat yang sekiranya akan kamu berikan pada orang yang terus-menerus ingat mantan?
    “Mantan tidak akan merindukanmu ketika kamu pergi. Tapi dia akan merindukanmu ketika kamu move-on.”
  51. Apakah kamu percaya bahwa segala sesuatu terjadi karena ada alasannya?
    “Percaya. Dan Kami tidaklah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah.“ (Qs. Shad: 27)
  52. Apakah kamu tertarik tinggal di desa?
    “Hmm, sejujurnya lebih suka tinggal di kota.”
  53. Bagimanakah kira-kira bahasa cintamu?
    “Quality time and physical.”
  54. Bagaimana perasaanmu ketika bangun tidur?
    “Semangat dan dipenuhi energi positif.”(Terutama ketika day off keesokan harinya)
  55. Menurutmu apakah berbohong itu diperbolehkan?
    “Mostly nggak. Tapi tergantung masalah, situasi, akibat serta konsekuensinya juga sih. Nggak bisa dilihat dari satu sisi aja.”
  56. Apakah kamu percaya cinta pada pandangan pertama?
    “Nggak deh kayaknya. Kalo cinta pada percakapan pertama mungkin masih bisa percaya. Soalnya pernah ngalamin.”
  57. Kira-kira mending mutusin apa diputusin?
    “Mutusin.”
  58. Apakah kamu orang yang religius?
    “Cukup religius.”
  59. Dengan siapa terakhir kali kamu mengobrol mengenai topik yang agak dalam?
    “Dengan salah seorang teman saya.”
  60. Apakah kamu lebih condong pada kepribadian sanguinis, koleris, melankolis atau plegmatis?
    “Kayaknya sih lebih condong ke kepribadian melankolis-koleris.”
  61. Untuk lebih bisa memahami dirimu kira-kira buku dan film serta lagu apa yang sebaiknya ditelusuri?
    “Pride & Prejudice Novel by Jane Austen, Korean Drama: She was Pretty, Sacrifice by Black Atlas dan beberapa lagu Amy Winehouse: You know I’m no good dan Back to Black.”
  62. Apa kualitas yang kamu idam-idamkan ada dalam diri orang lain?
    “Tidak ikut campur yang bukan urusannya, mampu melihat dari dua sisi dan berbagai sudut pandang, tidak gampang menghakimi.”
  63. Bagaimanakah gambaran mengenai hari yang sempurna menurut kamu
    “Hari yang sempurna adalah hari ketika saya merasa bahagia. Dan apa yang bikin hati saya berbahagia? Ya banyak! Salah satunya adalah ketika saya merasa nyaman dan tambah cantik saat pakai baju yang modelnya sesuai, ketika chatting sama pasangan dan isi chattingannya lucu banget, ketika nemu temen yang bisa diajakin ngobrol secara mendalam dan dia baik banget, ketika bisa beliin orangtua barang-barang yang mereka udah lama pengen atau mereka sukain banget... dll, dll.
  64. Sebutkan 5 hal yang kamu lakukan yang paling sering menghabiskan waktumu?
    “Kerja, dengerin lagu, baca buku, ikut kajian sama jadi tempat curhat.”
  65. Lagu apa yang terakhir kali kamu dengarkan?
    “Fall Again by Glenn Lewis.”
  66. Kapan terakhir kali kamu tertawa dengan sangat keras?
    “Gatau. udah lama banget kayaknya.”
  67. Apakah kamu merasa penampilan luar kamu sudah mencerminkan dirimu yang sebenarnya?
    "Hmm, nggak. Mungkin hanya memrepresentasikan sebagian kecil aja, ya. Sebagian besarnya nggak bisa dinilai lewat penampilan.”
  68. Apa salah satu quote favorite kamu?
    “Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari ilmu.”
  69. Jika kamu bisa tinggal dimanapun, dimanakah kamu akan memilih untuk tinggal?
    “Di Finlandia. Yang kualitas pendidikannya nomor 1 di dunia. Atau di Swiss, negara paling bersih yang nuansanya hijau pegunungan; mirip latar cerita di novel klasik Heidy.”
  70. Apa hal paling baik yang pernah kamu lakukan?
    “Sama aja kayak doa; kebaikan sejatinya dirahasiakan. Agar semakin berlipat ganda pahalanya. Lagian yang menurut kita adalah kebaikan, belum tentu juga Allah nerimanya kebaikan juga. Bisa aja dimata-Nya dianggap keburukan karena kitanya riya.”
  71. Makanan apa yang menurutmu kurang cocok dipesan saat kencan sama gebetan?
    “Hamburger. Abis susah makannya. Bayangin aja.”
  72. Lebih suka cowok pake parfum atau nggak pake parfum?
    “Pake parfum dong.”
  73. Kalau dalam MBTI, Enneagram dan STIFFIN kira-kira kamu tipe kepribadian apa?
    “INFJ, Tipe 5, Intuiting introvert.”
  74. Sebutkan satu hal ajaib yang pernah kamu alami dalam hidupmu!
    “Sempet nggak sadar kalau ternyata pernah punya pacar yang plat mobilnya samaan kayak password handphone dan pin ATM yang mana dua nomor itu adalah tanggal kencan pertama sama mantan yang sebelumnya.“
  75. Band apakah yang lagu-lagunya banyak menjadi favorit kamu?
    “Band Dewa 19”
  76. Siapa penulis favorit kamu?
    “Jane Austen dan Emily Bronte.”
  77. Apa yang biasanya selalu ingin kamu lakukan di kala hujan turun?
    “Selimutan sambil ngobrol.”
  78. Apa kebiasaan unik dalam keluarga yang menjadi favorit kamu?
    “Nggak lupa bawain oleh-oleh kalau abis liburan atau jalan-jalan.”
  79. Apa film paling menakutkan yang pernah kamu tonton?
    “Final Destination.”
  80. Menurut kamu hal apa saja yang tidak bisa dijadikan bahan lelucon?
    “Agama dan urusan hati.”
  81. Bahasa apa selain Inggris dan Indonesia yang ingin kamu kuasai?
    “Bahasa Arab dan Russia.”
  82. Seberapa sering kamu melewatkan sarapan?
    “Jarang. Selalu sarapan.”
  83. Apa tiga kualitas teratas yang membuat kamu tertarik pada seseorang?
    “Gesture, penampilan dan isi pembicaraan.”
  84. Apakah kamu pernah punya pengalaman buruk dengan orang gila?
    “Pernah. Jadi waktu itu turun dari motor dengan niat hati mau nanyain alamat seseorang. Pas ngeliat orang itu sih biasa aja mungkin karena jaraknya masih agak jauh. Cuman pas udah deket kok ditangannya dipasangin banyak karet gelang ya. Tapi karena udah terlanjur turun ya nanya aja. Yang selanjutnya dijawab sama dia dengan jawaban yang kurang wajar. Dari situ baru sadar kalau dia gila. Langsung takut banget dari situ. Buru-buru melipir ke tukang baso terus kabur.”
  85. Bagaimana cara kamu mengekspresikan cintamu pada diri sendiri?
    “Banyak. Salah satunya dengan merawat diri (eat-well, dressed well, make up, keep studying)."
  86. Apa yang membantu kamu untuk menjadi lebih santai?
    “Baca Qur’an dan artinya.”
  87. Siapa penyanyi yang menurut kamu mendekati kriteria tipe pria idaman kamu?
    “Virzha dong. Abisnya kelakuannya lucu. Apalagi waktu masih main di The Comment.”
  88. Website apa yang paling sering kamu kunjungi?
    “thoughtcatalog.com”
  89. Apakah kamu lebih suka diberi hadiah pernak-pernik semacam bunga dan boneka atau barang-barang praktikal yang cenderung bisa digunakan?
    “Barang-barang praktikal. Kayak misalnya: headset, jacket, bantal guling.”
  90. Lirik lagu apakah yang paling menggambarkan moto percintaanmu?”
    “Lirik lagu When You Really Love Someone by Alicia Keys
  91. Apakah yang bisa membuat kamu kuat dan tidak berputus asa?
    "Ayat ini: “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiadalah yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Qs. Yusuf: 87)
  92. Siapakah tokoh karakter fiksi favoritmu?
    “Mr. Darcy di novel Pride & Prejudice, Mr. Knightley di novel Emma dan Bima di novel Still.”
  93. Apa yang paling kamu syukuri dalam hidup ini?
    “Iman Islam.”
  94. Bagaimana cara kamu menolak cinta seseorang yang tidak kamu sukai?
    “Ngomong secara baik-baik. Atau bisa juga menghilang dari kehidupannya.”
  95. Apakah kamu pernah memblokir akun seseorang?
    "Pernah."
  96. Sebutkan 2 pertanyaan teratas yang paling kamu suka untuk ditanyakan oleh pasanganmu?
    "Gimana seharian ini? Ada cerita yang mau kamu ceritain? atau hal apa aja sih yang bikin kamu suka aku?"
  97. Apakah kamu pernah mengalami culture schock?
    “Pernah. Waktu main ke Kuningan. Ternyata meskipun sama-sama berbahasa sunda tapi sundanya kasar.”
  98. Apa sesuatu yang cukup menakutkan yang setidaknya orang harus mencobanya sekali seumur hidup?
    “Naik Hysteria.”
  99. Berhubung lagi musim hujan kira-kira makanan apa yang paling sesuai untuk cuaca seperti ini?
    “Mie instan dong udah pasti.”
  100. Apa hal yang tidak akan pernah lagi kamu lakukan jika berkaca pada masa lalu?
    “Terlalu dalam mencintai orang lain namun tidak cukup dalam ketika mencintai diri sendiri.”
Dan akhirnya 100 pertanyaan selesai dijawab. Tapi rasanya kok kayak masih kurang aja ya. Kapan-kapan saya nulis lagi, deh. See you at another post!